BERITA TERKINI
Pola Makan Seimbang Jadi Kunci Pencegahan Stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Pola Makan Seimbang Jadi Kunci Pencegahan Stunting pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Stunting masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan, stunting terjadi akibat kekurangan gizi kronis dalam jangka panjang, terutama sejak masa kehamilan hingga anak berusia 24 bulan. Selain faktor gizi, infeksi yang berulang dan praktik pengasuhan yang kurang optimal turut meningkatkan risiko stunting. Kondisi ini juga kerap digunakan sebagai indikator untuk menilai kualitas kesehatan dan status gizi anak.

Survei Status Gizi Nasional (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting di Indonesia masih berada di angka 19,8%. Capaian ini masih lebih tinggi dibanding target penurunan stunting nasional sebesar 18,8% pada 2025. Karena itu, diperlukan upaya yang lebih intensif serta kolaborasi berbagai pihak, terutama di wilayah dengan jumlah kasus tinggi seperti Jawa Barat (638.000 balita), Jawa Tengah (485.893 balita), Jawa Timur (430.780 balita), Sumatera Utara (316.456 balita), Nusa Tenggara Timur (214.143 balita), dan Banten (209.600 balita).

Dampak stunting tidak terbatas pada tinggi badan anak. Sejumlah kajian menyebutkan stunting dapat memengaruhi perkembangan kognitif dan kesehatan jangka panjang. Anak yang mengalami stunting berisiko memiliki kemampuan belajar lebih rendah, lebih rentan terserang penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh, serta berpotensi mengalami penurunan produktivitas ketika dewasa. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas sumber daya manusia.

Pencegahan stunting dianjurkan dimulai sedini mungkin, terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dalam periode ini, pemenuhan gizi optimal melalui penerapan pola makan seimbang dinilai menjadi faktor penting. Asupan zat gizi yang cukup dan beragam berperan mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, sekaligus mencegah kekurangan gizi kronis yang menjadi penyebab utama stunting.

Perhatian terhadap gizi seimbang juga diperlukan pada ibu hamil dan menyusui. Pemenuhan gizi selama kehamilan berperan mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin, serta membantu menekan risiko yang berkaitan dengan stunting, seperti kekurangan energi kronis pada ibu dan bayi lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR). Karena itu, ibu hamil dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral sesuai kebutuhan. Salah satu pendekatan yang disebutkan adalah model nutrisi 5J, yaitu Jumlah kalori, Jadwal makan, Jenis makanan, Jalur pemberian nutrisi, dan penJagaan terhadap pelaksanaannya.

Pada masa menyusui, asupan gizi yang baik membantu menjaga kualitas dan kuantitas ASI sebagai sumber nutrisi utama bayi. UNICEF menekankan pentingnya nutrisi ibu dalam mendukung pemberian ASI. Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama juga disebut sebagai salah satu langkah penting pencegahan stunting. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pemberian ASI eksklusif dan kejadian stunting, sehingga praktik ini perlu dijalankan secara optimal. Status gizi ibu menyusui turut memengaruhi kualitas ASI, sehingga pemenuhan kebutuhan gizi selama laktasi menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Setelah bayi berusia enam bulan, kebutuhan gizi yang meningkat membuat bayi memerlukan makanan pendamping ASI (MPASI). Masa 6–24 bulan disebut sebagai periode kritis yang rentan terhadap stunting apabila kebutuhan gizi tidak terpenuhi secara memadai. Karena itu, MPASI perlu diberikan tepat waktu, dengan kandungan gizi sesuai kebutuhan, diolah dan disajikan secara aman serta higienis, dan diberikan secara responsif dengan memperhatikan kebutuhan serta kemampuan makan anak.

Penelitian juga menegaskan pentingnya penerapan gizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Anak membutuhkan energi, protein, lemak, vitamin, dan mineral yang cukup untuk menunjang pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta menjaga daya tahan tubuh terhadap penyakit. Kekurangan salah satu unsur gizi dalam jangka panjang dapat memicu gangguan pertumbuhan, termasuk stunting.

Secara umum, pemenuhan gizi pada periode 1.000 HPK dapat didorong melalui pola makan yang beragam dan seimbang sesuai tahap pertumbuhan anak. Dalam data rujukan disebutkan adanya contoh menu seimbang selama periode 1.000 HPK, namun rincian menunya tidak dicantumkan dalam materi yang tersedia.