BERITA TERKINI
PIAUD UNUSIDA Gelar FGD Bahas Pemahaman Orang Tua soal Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini

PIAUD UNUSIDA Gelar FGD Bahas Pemahaman Orang Tua soal Kesehatan dan Gizi Anak Usia Dini

SIDOARJO—Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo (UNUSIDA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk membahas tingkat pemahaman orang tua terkait kesehatan dan gizi anak usia dini (4–6 tahun), Rabu (10/6/2026).

FGD ini melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, antara lain perwakilan Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Sidoarjo. Forum juga dihadiri organisasi profesi serta mitra lembaga pendidikan anak usia dini, seperti IGRA, IGTKI, HIMPAUDI, dan sejumlah kepala RA, TK, serta KB di wilayah Sidoarjo dan sekitarnya.

Ketua peneliti, Shofiyatuz Zahroh, S.Sos., M.Pd., mengatakan FGD menjadi ruang strategis untuk memotret kondisi di lapangan sekaligus menghimpun masukan guna memperkuat kebijakan dan praktik pendidikan anak usia dini, terutama terkait kesehatan dan gizi anak.

“FGD ini menjadi forum penting untuk memotret kondisi riil di lapangan sekaligus menghimpun masukan guna memperkuat kebijakan dan praktik pendidikan anak usia dini,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Shofiyatuz yang juga Wakil Dekan FAI UNUSIDA menekankan bahwa kesehatan dan gizi merupakan dua variabel krusial dalam tumbuh kembang anak. Ia menyebut kedua aspek tersebut juga menjadi perhatian dalam program nasional, termasuk upaya percepatan penanganan gizi anak.

“Data yang kami sampaikan masih bersifat sementara dan apa adanya. Namun, dari temuan awal ini akan muncul berbagai hal yang mungkin tidak kita duga sebelumnya dan dapat membuka kesadaran bersama tentang pentingnya peran orang tua,” katanya.

Berdasarkan hasil sementara penelitian yang merupakan kerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (BRIDA) Jawa Timur, ditemukan perbedaan signifikan tingkat pemahaman orang tua berdasarkan wilayah. Sidoarjo mencatat skor tertinggi dalam pemahaman kesehatan dan gizi anak, sementara Guluk-guluk, Sumenep, Madura, berada pada tingkat terendah.

Penelitian juga menunjukkan peran lembaga PAUD dinilai berpengaruh signifikan dalam meningkatkan pemahaman orang tua. Di wilayah seperti Waru, tingkat literasi orang tua terkait kesehatan dan gizi anak disebut lebih baik dibandingkan daerah lainnya.

Temuan lain menyebut tingkat pendidikan orang tua tidak selalu sejalan dengan pemahaman gizi anak. Orang tua dengan pendidikan dan pendapatan tinggi cenderung lebih longgar dalam pola konsumsi anak, seperti membiarkan anak jajan bebas. Namun, pada saat yang sama mereka dinilai lebih peduli pada aspek kesehatan, seperti imunisasi dan penanganan medis.

Melalui forum tersebut, Shofiyatuz berharap muncul rekomendasi yang dapat meningkatkan kesadaran dan praktik orang tua dalam pemenuhan gizi serta menjaga kesehatan anak secara berkelanjutan. “Investasi terbaik dalam pembangunan bangsa dimulai dari perhatian serius terhadap tumbuh kembang anak sejak usia dini,” tuturnya.

Sementara itu, Koordinator Litbangjirap BRIDA Jawa Timur, Wiwik Heny Winarsih, M.Si., menekankan pentingnya literasi yang tepat bagi orang tua. Menurutnya, masyarakat masih membutuhkan pemahaman utuh tentang gizi seimbang, bukan sekadar persepsi bahwa anak yang terlihat gemuk berarti sehat.

“Pemahaman masyarakat masih perlu diperkuat. Tidak semua anak yang tampak gemuk itu sehat. Justru sekarang banyak ditemukan kasus kelebihan gula pada anak. Ini perlu edukasi serius, termasuk pembatasan konsumsi makanan tertentu sejak dini,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pembiasaan pola makan beragam sejak usia dini. Anak yang tidak dikenalkan variasi makanan sejak kecil cenderung memiliki preferensi terbatas dan bergantung pada makanan instan.

Wiwik menambahkan, peningkatan kualitas kesehatan dan gizi anak tidak dapat mengandalkan satu pihak saja. Ia menilai diperlukan sinergi antara lembaga pendidikan, orang tua, dan pemangku kebijakan agar intervensi yang dilakukan berdampak signifikan.