Upaya memperbaiki status gizi anak di Indonesia dinilai tidak cukup jika hanya berfokus pada penyediaan makanan. Edukasi gizi yang berkelanjutan diperlukan agar anak memahami pilihan makan sehat dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Atas dasar itu, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) menggelar edukasi gizi serentak di ribuan sekolah di seluruh Indonesia dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional. Kegiatan ini melibatkan sekitar 9.300 tenaga edukator gizi, lebih dari 55.000 peserta didik, serta sekitar 18.000 sekolah, dan meraih rekor MURI untuk edukasi gizi serentak.
Ketua Umum DPP PERSAGI Doddy Izwardy menegaskan edukasi gizi merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. “Yang terpenting bukan soal memecahkan rekor, tetapi bagaimana upaya ini menjadi bagian dari perbaikan kualitas gizi bangsa secara berkelanjutan,” ujarnya dalam kegiatan Edukasi Gizi Serentak, Rabu (21/1/2026).
Menurut Doddy, program ini dirancang untuk menyiapkan anak sekolah sebagai agen perubahan pola makan sehat, tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga di keluarga.
Doddy juga menyoroti kemajuan Indonesia dalam menurunkan angka stunting selama satu dekade terakhir. Prevalensi stunting disebut turun dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 19,8 persen pada 2024. Meski demikian, ia mengingatkan capaian ini perlu dijaga agar tidak kembali meningkat.
“Kalau dihitung, penurunannya sekitar 1,3 sampai 1,5 persen per tahun. Ini bukan angka kecil. Dan kenapa stunting ini penting? Karena ini berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas SDM, terutama dari sisi kognitif, lewat makanan yang diberikan,” kata Doddy.
Selama ini, upaya penurunan stunting banyak difokuskan pada 1.000 hari pertama kehidupan melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif. Pada pemerintahan saat ini, langkah tersebut diperkuat dengan Program Makan Bergizi bagi anak sekolah. Doddy menilai program itu sebagai terobosan besar, namun tetap membutuhkan pengawalan kualitas gizi.
“Memberi makan saja tidak cukup. Standar gizinya harus dijaga,” ujarnya. Ia menambahkan tujuan program gizi nasional bukan sekadar memastikan anak tidak lapar, melainkan membentuk pola hidup sehat sejak dini. Hal itu sejalan dengan Pedoman Gizi Seimbang yang mencakup empat pilar utama: konsumsi makanan beragam, aktivitas fisik, minum air putih yang cukup, serta konsumsi buah dan sayur.
Dalam edukasi di sekolah, PERSAGI juga menekankan bahwa makanan dari program pemerintah hanya memenuhi sekitar 25–30 persen kebutuhan gizi harian anak. Karena itu, peran keluarga dan lingkungan dinilai tetap besar dalam menentukan kualitas asupan anak sehari-hari.
Selain isu gizi di sekolah, PERSAGI mengingatkan potensi meningkatnya masalah gizi ketika terjadi situasi darurat, seperti bencana. Doddy menyinggung banjir yang belakangan melanda Aceh, Sumatera Utara, Padang, dan daerah lain. Menurutnya, dalam kondisi bencana, kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita usia 0–2 tahun berisiko lebih dulu terdampak.
“Dalam ilmu gizi bencana, kelompok rentan itu yang kena duluan. Ibu hamil, balita 0–2 tahun. Kalau tidak dijaga, dampaknya bisa ke underweight, wasting, sampai stunting,” jelasnya.
Ia mencontohkan pendampingan di Aceh Tamiang, di mana sekolah darurat didampingi tenaga gizi yang diturunkan Kementerian Kesehatan dan PERSAGI untuk memberikan praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), disertai konseling psikolog dan dokter. “Tujuannya supaya mereka tidak jatuh ke kondisi masalah gizi. Tiga indikator itu harus dijaga: underweight, wasting, dan stunting,” tegasnya.
Di tengah tantangan gizi yang masih dihadapi Indonesia, PERSAGI menilai pendekatan edukasi yang konsisten dan berkelanjutan penting untuk menjaga kemajuan yang telah dicapai sekaligus membangun generasi yang lebih sehat.

