BERITA TERKINI
PERSAGI Gelar Edukasi Gizi Serentak di Ribuan Sekolah untuk Peringati Hari Gizi Nasional

PERSAGI Gelar Edukasi Gizi Serentak di Ribuan Sekolah untuk Peringati Hari Gizi Nasional

Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) memperingati Hari Gizi Nasional dengan menggelar edukasi gizi serentak di ribuan sekolah di seluruh Indonesia. Kegiatan ini ditujukan untuk menyiapkan anak-anak sekolah sebagai agen perubahan pola makan sehat di lingkungan keluarga.

Ketua Umum DPP PERSAGI Doddy Izwardy mengatakan kegiatan tersebut melibatkan sekitar 9.300 tenaga edukator gizi, lebih dari 55 ribu peserta didik, serta sekitar 18 ribu sekolah di berbagai daerah. Selain menargetkan pencapaian rekor MURI, Doddy menekankan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk memperbaiki kualitas gizi masyarakat.

Doddy memaparkan, dalam 10 tahun terakhir Indonesia mencatat kemajuan dalam menurunkan angka stunting. Prevalensi stunting disebut turun dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 19,8 persen pada 2024, atau sekitar 1,3 hingga 1,5 persen per tahun. Menurutnya, penurunan stunting penting karena berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama dari sisi kognitif, melalui asupan makanan yang diberikan.

Ia menjelaskan, selama satu dekade terakhir upaya penurunan stunting difokuskan pada 1.000 hari pertama kehidupan melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif yang dikerjakan bersama Kementerian Kesehatan dan Sekretariat Wakil Presiden. Di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, upaya tersebut diperkuat melalui Program Makan Bergizi.

Doddy menilai program gizi nasional tidak semata-mata bertujuan membuat anak kenyang, melainkan mendorong keberhasilan penerapan Pedoman Gizi Seimbang. Pedoman ini memiliki empat pilar, yakni makan beragam, aktivitas fisik, minum air putih yang cukup, serta konsumsi buah dan sayur.

Dalam edukasi di sekolah, PERSAGI menekankan pentingnya pemahaman mengenai kualitas makan. Doddy menyebut makanan dari program pemerintah hanya mencakup sekitar 25–30 persen kebutuhan gizi harian anak. Karena itu, ia mengingatkan agar anak dan guru tidak menganggap kebutuhan gizi sudah selesai hanya karena menerima makanan di sekolah. Menurutnya, sasaran utama adalah perubahan perilaku makan.

Anak-anak didorong memahami komposisi satu piring makan yang mencakup sumber karbohidrat, protein, serta vitamin dan mineral. Pemahaman tersebut diharapkan dapat dibawa pulang dan memengaruhi kebiasaan makan di rumah.

PERSAGI juga mendorong pendekatan edukasi yang lebih panjang untuk memutus mata rantai masalah gizi. Doddy menyebut pendekatan itu sebagai 8.000 hari pertama kehidupan, atau sekitar 19 tahun, hingga anak lulus SMA. Ia berharap remaja putra-putri sudah memahami pentingnya pencegahan stunting dan mengenali sumber makanan yang dibutuhkan sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.

Di sisi lain, Doddy mengingatkan bahwa ancaman masalah gizi dapat kembali meningkat ketika situasi darurat, seperti bencana, tidak ditangani dengan baik. Ia menyinggung banjir yang belakangan melanda Aceh, Sumatera Utara, Padang, dan daerah lain. Menurutnya, dalam konteks gizi bencana, kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita usia 0–2 tahun merupakan pihak yang paling terdampak lebih dahulu, sehingga berisiko mengalami underweight, wasting, hingga stunting jika tidak dijaga.

Ia mencontohkan pendampingan di Aceh Tamiang, di mana sekolah darurat didampingi tenaga gizi yang diturunkan Kementerian Kesehatan dan PERSAGI untuk memberikan praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), disertai konseling psikolog dan dokter, guna mencegah kelompok rentan jatuh ke kondisi masalah gizi.

Doddy menegaskan, kunci utama menjaga keberlanjutan perbaikan gizi nasional adalah edukasi yang dilakukan secara konsisten.