BERITA TERKINI
PERSAGI Gelar Edukasi Gizi Serentak di Ribuan Sekolah Jelang Hari Gizi Nasional 2026

PERSAGI Gelar Edukasi Gizi Serentak di Ribuan Sekolah Jelang Hari Gizi Nasional 2026

Menjelang peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) pada 25 Januari 2026, Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) menggelar edukasi gizi secara serentak di ribuan sekolah di seluruh Indonesia. Kegiatan ini ditujukan untuk memecahkan rekor serta menyiapkan anak sekolah sebagai agen perubahan pola makan sehat di lingkungan keluarga.

Ketua Umum DPP PERSAGI Doddy Izwardy mengatakan, kegiatan tersebut melibatkan sekitar 9.300 tenaga edukator gizi, lebih dari 55 ribu peserta didik, dan sekitar 18 ribu sekolah di berbagai daerah. Ia menyebut agenda ini sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

“Tujuan kita hari ini, pertama inshaAllah mendapatkan rekor MURI karena melakukan edukasi gizi serentak dan besar. Tapi yang paling penting, ini adalah bagian dari upaya jangka panjang memperbaiki kualitas gizi bangsa,” kata Doddy di Jakarta, Rabu (21/1/2026).

Doddy menilai Indonesia telah mencatat kemajuan dalam menurunkan angka stunting selama satu dekade terakhir. Ia menyampaikan prevalensi stunting turun dari 37,2 persen pada 2013 menjadi 19,8 persen pada 2024, dengan penurunan sekitar 1,3 hingga 1,5 persen per tahun.

Menurutnya, penurunan stunting penting karena berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, terutama dari sisi kognitif, melalui asupan makanan yang tepat. Ia menjelaskan, selama 10 tahun terakhir strategi penurunan stunting banyak difokuskan pada 1.000 hari pertama kehidupan melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif bersama Kementerian Kesehatan dan Setwapres.

Di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Doddy menyebut upaya tersebut diperkuat melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Bagi kami, satu negara memberi makan kepada targetnya itu luar biasa. Ini program spektakuler. Dan kami para ahli gizi terpanggil untuk menjaga kualitas standar gizinya,” ujarnya.

Namun, Doddy menekankan bahwa program gizi tidak semata-mata bertujuan membuat anak kenyang. Target yang ingin dicapai adalah penerapan Pedoman Gizi Seimbang yang memiliki empat pilar: makan beragam, aktivitas fisik, minum air putih yang cukup, serta konsumsi buah dan sayur.

Dalam edukasi di sekolah, PERSAGI juga menekankan pentingnya pemahaman tentang kualitas makan. Doddy mengingatkan bahwa makanan dari program pemerintah hanya mencakup sekitar 25–30 persen kebutuhan gizi harian anak. Karena itu, ia menilai perubahan perilaku makan tetap menjadi sasaran utama.

“Sehari itu kan makan dari pagi, siang, sore. Jadi jangan sampai anak-anak dan guru berpikir, ‘oh saya sudah dikasih makan, selesai’. Yang kita kejar adalah perubahan perilaku makan,” kata Doddy.

Anak-anak didorong memahami komposisi makan dalam satu piring yang mencakup sumber karbohidrat, protein, serta vitamin dan mineral. PERSAGI berharap pengetahuan tersebut dibawa pulang dan memengaruhi kebiasaan makan di rumah. “Mudah-mudahan ini membawa mereka jadi agent of change di keluarga,” ujarnya.

Selain fokus pada usia dini, PERSAGI juga mendorong pendekatan edukasi yang lebih panjang untuk memutus mata rantai masalah gizi. Doddy menyebutnya sebagai pendekatan 8.000 hari pertama kehidupan, yakni hingga anak lulus SMA, agar remaja memahami pentingnya pencegahan stunting sebelum memasuki usia berumah tangga.

Ia mencontohkan pengalaman India yang disebutnya mampu menurunkan masalah gizi dalam 20 tahun dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Doddy menyatakan optimistis pendekatan edukasi jangka panjang juga dapat berhasil di Indonesia.

Di sisi lain, PERSAGI mengingatkan ancaman masalah gizi dapat meningkat kembali apabila situasi darurat, seperti bencana, tidak ditangani dengan baik. Doddy menyinggung banjir yang belakangan melanda sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia mengatakan kelompok rentan seperti ibu hamil dan balita usia 0–2 tahun biasanya terdampak lebih dulu.

“Dalam ilmu gizi bencana, kelompok rentan itu yang kena duluan. Ibu hamil, balita 0–2 tahun. Kalau tidak dijaga, dampaknya bisa ke underweight, wasting, sampai stunting,” ujarnya.

Doddy mencontohkan pendampingan di Aceh Tamiang, di mana sekolah darurat didampingi tenaga gizi yang diturunkan Kementerian Kesehatan dan PERSAGI. Pendampingan tersebut mencakup praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), konseling psikolog, serta dukungan dokter, dengan tujuan mencegah penurunan status gizi.

Ia menegaskan tiga indikator yang perlu dijaga dalam situasi darurat adalah underweight, wasting, dan stunting. Menurutnya, keberlanjutan perbaikan gizi nasional sangat bergantung pada edukasi yang konsisten.

“Kalau edukasi ini terabaikan, kita khawatir kasusnya akan naik lagi. Karena itu, kami di PERSAGI yakin, perubahan besar itu harus dimulai dari anak-anak,” kata Doddy.