BERITA TERKINI
Peran Perempuan Dinilai Krusial untuk Mencegah Stunting dan Mencapai Target 5 Persen

Peran Perempuan Dinilai Krusial untuk Mencegah Stunting dan Mencapai Target 5 Persen

Stunting masih menjadi persoalan gizi kronis yang dialami banyak anak di Indonesia. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 mencatat prevalensi stunting nasional berada di angka 19,8 persen, yang berarti sekitar 2 dari 10 anak Indonesia usia 0–59 bulan mengalami stunting.

Pemerintah menegaskan komitmen untuk mempercepat penurunan angka stunting melalui penguatan kolaborasi multipihak. Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming, dalam arahannya pada Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting 2025, menyatakan bahwa stunting akan tetap menjadi prioritas nasional. Ia menekankan perlunya penanganan yang komprehensif serta koordinasi yang baik dari semua pihak.

Sejalan dengan visi pembangunan menuju Indonesia Emas 2045, pemerintah menargetkan prevalensi stunting turun hingga 5 persen. Target tersebut dinilai membutuhkan dukungan luas, termasuk keterlibatan masyarakat.

Di tengah berbagai upaya yang dilakukan, perempuan disebut memiliki peran penting dalam pencegahan stunting. Momentum Hari Perempuan Internasional menjadi pengingat bahwa ketika perempuan didukung dan diberdayakan, kesehatan keluarga dan masa depan anak ikut terjaga. Tahun ini, peringatan International Women Day mengusung tema “Give To Gain” yang menekankan pentingnya dukungan kepada semua perempuan agar dapat menjalankan perannya secara optimal.

Dalam keseharian, perempuan kerap menjadi penggerak utama kesehatan keluarga, mulai dari menyiapkan makanan bergizi, memastikan anak mendapatkan imunisasi, hingga rutin memantau tumbuh kembang melalui posyandu atau layanan kesehatan lainnya. Peran ini menempatkan perempuan di garda terdepan dalam pencegahan stunting.

Stunting tidak hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga dapat menghambat perkembangan kognitif dan motorik serta memicu gangguan metabolisme. Dalam jangka panjang, stunting dapat menurunkan kapasitas intelektual karena mengganggu perkembangan otak dan fungsi saraf.

Selain itu, anak yang mengalami stunting disebut memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit tidak menular, seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke, dibandingkan anak tanpa stunting. Karena itu, pencegahan perlu dilakukan sejak dini, bahkan sebelum seorang anak lahir.

Peran perempuan dalam pencegahan stunting dimulai sejak masa remaja. Remaja perempuan perlu mendapatkan asupan gizi seimbang dan rutin mengonsumsi tablet tambah darah untuk mencegah anemia. Anemia pada remaja putri berisiko berlanjut saat hamil dan dapat memengaruhi kesehatan ibu serta janin.

Memasuki masa kehamilan, peran perempuan semakin krusial. Ibu hamil dianjurkan melakukan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali, mengonsumsi tablet tambah darah atau multiple micronutrient supplement (MMS) minimal 180 tablet, serta mengikuti konseling gizi dan persiapan menyusui.

Edukasi sejak remaja, sebelum menikah, hingga masa kehamilan dinilai penting untuk memastikan perempuan berada dalam kondisi sehat, sehingga dapat mempersiapkan kehamilan dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Sejumlah sarana edukasi tersedia di masyarakat, antara lain Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) serta Kelas Ibu Hamil yang biasanya diselenggarakan di posyandu atau fasilitas kesehatan. Melalui kelas ini, perempuan mendapatkan informasi yang mendukung peran mereka dalam menjaga kesehatan. Selain sebagai ruang belajar, sarana tersebut juga menjadi tempat berbagi pengalaman dan saling menguatkan.

Dukungan antarsesama perempuan disebut telah menjadi kekuatan nyata, termasuk dalam pencegahan stunting. Dukungan perlu diberikan pada fase kehamilan, melahirkan, menyusui, hingga pengasuhan anak. Dukungan sosial dinilai dapat meningkatkan kepercayaan diri, terutama bagi ibu sebagai pengambil keputusan terkait kesehatan keluarga, sehingga mereka tidak merasa berjalan sendiri.

Meski perempuan berada di garis depan kesehatan keluarga, pencegahan stunting ditegaskan bukan tanggung jawab perempuan semata. Dukungan keluarga, pemangku kepentingan, serta kebijakan yang berpihak pada kesehatan ibu dan anak menjadi bagian penting dalam pencegahan dan percepatan penurunan stunting.

Melalui kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat, setiap perempuan diharapkan memiliki akses yang setara terhadap informasi dan layanan kesehatan. Semakin banyak perempuan yang teredukasi dan didukung, semakin besar peluang lahirnya generasi yang sehat dan berkualitas.