Upaya pencegahan stunting dinilai tidak dapat dilakukan secara instan maupun hanya mengandalkan intervensi pemerintah. Di tengah implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ditujukan untuk menekan angka stunting di berbagai wilayah, gerakan masyarakat berbasis akar rumput, komunitas, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) disebut berperan penting dalam membangun kesadaran gizi di tingkat keluarga.
Sosiolog Universitas Indonesia Nadia Yovanni menilai organisasi dan gerakan berbasis masyarakat memiliki posisi strategis karena dekat dengan warga dan dapat menjadi agen edukasi yang menjangkau keluarga hingga lingkungan sosial yang lebih luas. “Peran organisasi masyarakat itu besar untuk mengedukasi tentang gizi pada masyarakat,” kata Nadia.
Namun, Nadia menekankan keberhasilan edukasi gizi sangat bergantung pada kapasitas para penggeraknya. Karena itu, organisasi yang terlibat dalam pendampingan masyarakat perlu memastikan kader dan anggotanya memiliki pemahaman gizi yang benar sebelum memberikan edukasi. “Jadi besar sebenarnya peran organisasi masyarakat, tapi perlu diingat kader atau anggotanya sendiri itu harus punya literasi gizi yang benar,” ujarnya.
Sejumlah organisasi perempuan berbasis keagamaan, seperti PP Aisyiyah dan Muslimat NU, disebut aktif mendorong peningkatan literasi gizi di masyarakat. Keduanya juga terlibat dalam upaya meluruskan persepsi yang keliru terkait konsumsi kental manis.
Inisiatif tersebut dinilai penting karena masih ada anggapan di sebagian masyarakat bahwa kental manis merupakan susu atau dapat dijadikan pengganti susu pertumbuhan anak. Survei Universitas Islam Bandung menunjukkan 67,6 persen balita mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan. Dari sisi kandungan, kental manis disebut mengandung sekitar 50 persen gula dan hanya memiliki 1–3 gram protein per takaran saji. Dengan komposisi tersebut, kental manis tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak pada masa pertumbuhan sehingga penggunaannya sebagai pengganti susu dinilai berisiko tidak mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Ketua Majelis Kesehatan Pengurus Pusat Aisyiyah (Makes PPA) Warsiti mengatakan Aisyiyah menaruh perhatian pada isu gizi karena fokus organisasi pada pemberdayaan perempuan dan anak. “Karena itu lah kita memberi perhatian lebih terhadap isu gizi, bahwa pemenuhan gizi harus jadi perhatian kita bersama,” ujar Warsiti, yang juga Rektor Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.
Menurut Warsiti, edukasi terkait kekeliruan persepsi tentang kental manis dilakukan melalui kerja kader hingga tingkat akar rumput, serta melibatkan kampus dan akademisi melalui penelitian dan survei untuk memahami persoalan mendasar penggunaan kental manis sebagai pengganti susu bagi anak. “Aisiyah bersama kader-kader di seluruh Indonesia bekerja sampai ke akar rumput, memperkuat peran keluarga, komunitas dan masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci,” katanya.
Nadia menilai peran organisasi masyarakat sama pentingnya dengan pemerintah dalam mendorong perubahan perilaku terkait pemenuhan gizi keluarga. Ia menekankan persoalan gizi tidak hanya menyangkut ketersediaan makanan, tetapi juga berkaitan dengan pendidikan dan proses sosialisasi yang diterima seseorang sejak dalam keluarga. Karena itu, perbaikan status gizi anak dinilai tidak cukup hanya melalui bantuan pangan, melainkan perlu pemahaman berkelanjutan mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang.
Dalam pandangannya, keluarga merupakan agen sosialisasi pertama yang menentukan kualitas pemahaman gizi anak. “Agen sosialisasi pertama itu adalah keluarga. Jika keluarganya tidak punya literasi gizi yang bagus, ya yang penting hidup. Dia tidak peduli apakah di makanan itu perlu ada protein, perlu ada karbohidrat, dan bagaimana komposisinya,” ujar Nadia.
Selain organisasi keagamaan, sejumlah komunitas seperti Boss Mama, Rangkul Foundation, dan Komunitas Relawan Samadua juga disebut terlibat dalam edukasi gizi untuk ibu dan balita, terutama bagi korban bencana di Sumatera. Mereka tidak hanya menyalurkan bantuan pangan, tetapi juga melakukan advokasi, pendampingan intensif, serta melatih kader lokal agar dapat mengenali dan menangani persoalan gizi di lingkungan masing-masing.
Pendekatan berbasis komunitas ini dinilai dapat melengkapi program pemerintah karena menyentuh aspek perubahan perilaku secara langsung. Dengan jaringan yang mengakar hingga tingkat desa serta kedekatan dengan warga, organisasi masyarakat dianggap lebih efektif dalam menyampaikan pesan kesehatan agar mudah dipahami. Nadia menambahkan, ketika literasi gizi masyarakat membaik, pemahaman tentang kebutuhan gizi yang beragam akan memengaruhi perilaku sehari-hari. “Kalau masyarakat punya literasi gizi yang bagus, bahwa untuk hidup itu tidak hanya karbohidrat, bahwa manusia perlu banyak hal, maka itu akan berdampak pada perilakunya di masyarakat,” kata Nadia.

