Selat Solo kerap disebut sebagai salah satu kuliner khas Kota Solo. Namun, bagi pendatang atau wisatawan yang baru pertama kali mencicipinya, pengalaman menikmati hidangan ini tidak selalu langsung sesuai ekspektasi. Meski sama-sama bernama selat Solo dan dijual di banyak tempat, cita rasa yang disajikan bisa berbeda-beda.
Perbedaan itu bukan berarti selat Solo tidak enak, melainkan ada beberapa komponen yang dapat memengaruhi kecocokan rasa di lidah. Setidaknya, ada tiga hal yang perlu diperhatikan sebelum memesan: variasi daging, rasa kuah, dan penggunaan saus tambahan.
1. Variasi daging yang digunakan
Dalam satu porsi selat Solo, umumnya terdapat lima komponen utama: variasi daging, kuah, sayuran, acar, dan saus. Untuk bagian daging, pilihannya beragam, mulai dari galantin, daging cacah, daging sapi iris, hingga lidah sapi. Pada menu standar, banyak penjual menyajikan galantin.
Namun, tidak semua orang menyukai galantin. Jika ingin menghindari rasa yang tidak sesuai selera, pemesan disarankan menanyakan opsi variasi daging lain. Beberapa tempat menyediakan daging cacah yang dibentuk menyerupai bakso, seperti yang disebut tersedia di Selat Vien’s. Jika tidak ada pilihan variasi daging, alternatif lain adalah memesan menu berbeda seperti bestik daging atau lidah sapi yang juga tersedia di sejumlah rumah makan.
2. Rasa kuah yang bisa berbeda antar tempat
Kuah selat Solo umumnya berwarna cokelat, tidak kental, dan memiliki dasar rasa manis. Meski begitu, tingkat kemanisan kuah bisa berbeda antara satu warung dan lainnya—mulai dari sedikit manis hingga sangat manis. Perbedaan ini dapat memengaruhi kesan saat pertama kali mencicipi.
Bagi yang kurang menyukai kuah terlalu manis, bisa mempertimbangkan tempat yang menawarkan karakter kuah berbeda. Dalam pengalaman penulis, misalnya, Selat Vien’s disebut memiliki kuah yang sedikit asin, sementara Kusuma Sari memiliki kuah yang terasa sedikit lebih asam.
3. Saus tambahan yang perlu digunakan dengan tepat
Selain komponen utama, selat Solo biasanya disajikan bersama saus tambahan berwarna kuning yang sudah ada di piring. Saus ini telah dicampur mustard dan memiliki rasa asam. Bagi yang belum terbiasa, penggunaan saus ini perlu diperhatikan.
Umumnya, saus mustard dicampurkan ke dalam kuah untuk menyeimbangkan rasa. Namun, bagi yang tidak menyukai rasa asam, sebaiknya menyampaikan kepada penjual agar tidak menggunakan saus kuning. Jika tidak, rasa yang muncul bisa berbeda dari ekspektasi dan berujung mengecewakan.
Dengan memahami tiga unsur tersebut—jenis daging, karakter kuah, dan pemakaian saus—penikmat selat Solo, terutama yang baru pertama kali mencoba, dapat lebih mudah menemukan rasa yang paling sesuai dengan selera.