BERITA TERKINI
Panduan ‘Isi Piringku’ untuk Atur Porsi Makan Sehat: Seimbang, Terjangkau, dan Perhatikan Kebiasaan Minum

Panduan ‘Isi Piringku’ untuk Atur Porsi Makan Sehat: Seimbang, Terjangkau, dan Perhatikan Kebiasaan Minum

Merasa sudah makan banyak tetapi tak lama kemudian tubuh lemas, sulit fokus, atau mudah mengantuk bisa menjadi tanda ada yang kurang tepat dari komposisi makanan. Masalahnya bukan semata porsi, melainkan keseimbangan gizi dalam satu piring.

Dalam peringatan Hari Gizi Nasional ke-66, Kepala Instalasi Gizi RSAB Harapan Kita, Siti Dharma Azizah, S.ST, MKM, RD, menekankan pentingnya mengubah pola pikir dari “asal kenyang” menjadi “sadar gizi”. Melalui kampanye “Isi Piringku”, masyarakat diajak meninjau kembali susunan makanan yang disajikan sehari-hari.

Menurut Siti, salah satu persoalan yang kerap muncul terutama di masyarakat perkotaan adalah pola makan yang tinggi karbohidrat dan lemak, namun minim protein serta serat. Pola “asal kenyang”, misalnya makan dua bungkus mi instan tanpa tambahan, dapat meredakan lapar tetapi tetap berisiko menimbulkan kekurangan zat gizi mikro. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkaitan dengan masalah kesehatan seperti anemia, obesitas, hingga penyakit tidak menular, termasuk hipertensi dan diabetes.

Panduan “Isi Piringku” disebut sebagai pendekatan praktis yang menggantikan konsep “4 Sehat 5 Sempurna” yang sudah lama ditinggalkan. Cara menerapkannya adalah dengan membagi piring menjadi dua bagian. Setengah piring diisi sayur dan buah, dengan porsi sayur lebih banyak, sekitar dua pertiga dari bagian tersebut, dibandingkan buah. Sementara setengah piring sisanya diisi sumber karbohidrat dan lauk-pauk sebagai sumber protein, dengan rasio yang seimbang untuk membantu menjaga metabolisme tubuh.

Siti juga menekankan bahwa gizi berkualitas tidak harus mahal atau bergantung pada bahan impor. Ia menyampaikan bahwa sumber gizi dapat diperoleh dari pangan lokal. Sebagai contoh, masyarakat tidak harus membeli ikan salmon untuk mendapatkan protein. Ikan kembung yang mudah ditemukan di pasar dinilai memiliki kandungan gizi yang baik. Pilihan lain mencakup protein nabati seperti tahu dan tempe, serta sumber karbohidrat selain nasi, misalnya singkong dan jagung.

Selain mengatur porsi, ia mengingatkan kebiasaan yang dapat menghambat penyerapan gizi, salah satunya minum teh saat atau setelah makan. Teh mengandung senyawa yang dapat menghambat penyerapan zat besi dari makanan, baik dari daging maupun sayuran. Karena itu, ia menyarankan air putih sebagai pilihan minuman, atau minuman yang mengandung vitamin C seperti jus jeruk, yang dapat membantu penyerapan gizi lebih optimal.

Lebih jauh, penerapan “Isi Piringku” dipandang bukan sekadar untuk tujuan penampilan atau penurunan berat badan, melainkan investasi kesehatan jangka panjang. Dengan pola makan seimbang sejak remaja hingga dewasa, risiko penyakit degeneratif di usia tua dapat ditekan. Siti menegaskan upaya menjadi lansia yang tetap bugar dan aktif berawal dari pilihan makanan yang dikonsumsi setiap hari.