BERITA TERKINI
Pakar Soroti Triple Burden Malnutrition, Literasi Gizi Dinilai Jadi Kunci Pilihan Makanan Sehat

Pakar Soroti Triple Burden Malnutrition, Literasi Gizi Dinilai Jadi Kunci Pilihan Makanan Sehat

Masalah kesehatan terkait gizi di Indonesia dinilai kian meluas. Jika sebelumnya perhatian banyak tertuju pada stunting, kini tantangannya berkembang menjadi triple burden malnutrition atau beban ganda malnutrisi.

Hal itu disampaikan Guru Besar Ilmu Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Ir. Ikeu Tanziha, M.S., dalam kegiatan Temu Makna bertajuk “Ramadan sebagai Momentum Membangun Keluarga Sadar Gizi” yang digelar Kompasiana di Shangri-La Hotel pada 2 Maret lalu.

Menurut Prof. Ikeu, triple burden malnutrition mencakup tiga persoalan utama. Pertama, undernutrition atau kekurangan gizi, seperti stunting (pendek) dan wasting (kurus/gizi kurang). Kedua, micronutrient deficiency atau kekurangan mikronutrien yang kerap disebut “kelaparan tersembunyi”, misalnya anemia defisiensi besi dan kurangnya vitamin A. Ketiga, overnutrition atau kelebihan gizi, seperti obesitas yang dapat memicu penyakit tidak menular.

Prof. Ikeu menilai, kondisi ini bukan semata terjadi karena keterbatasan akses terhadap makanan bergizi. Ia menyebut rendahnya literasi gizi membuat sebagian orang yang sebenarnya memiliki akses justru lebih memilih junk food ketimbang real food.

Ia juga menyoroti perubahan pola hidup yang mendorong orang mencari pilihan makanan serba ringkas. Kesibukan kerja, peningkatan penghasilan, serta kemudahan memesan makanan secara daring membuat urusan makan kerap diprioritaskan pada kepraktisan. Namun, persoalan muncul ketika pilihan yang diambil bukan yang lebih sehat, melainkan yang dianggap paling enak dan memanjakan lidah. Jika pola konsumsi semacam itu berulang, dampaknya dapat mengarah pada salah satu bentuk beban gizi yang disebutkan.

Dalam pemahaman yang beredar di masyarakat, istilah junk food sering digunakan, tetapi tidak selalu dipahami maknanya. Dalam penjelasan yang disampaikan, junk food merujuk pada makanan atau minuman dengan nilai gizi rendah: kandungan vitamin, mineral, dan seratnya rendah, sementara kalori, lemak jenuh, gula, dan garamnya cenderung tinggi. Kondisi itu pula yang membuat rasanya lebih “nikmat” bagi sebagian orang.

Sejumlah contoh yang disebut antara lain mi instan, daging olahan, makanan berbahan tepung-tepungan, serta burger. Terkait burger, muncul pertanyaan mengapa makanan yang tampak berisi daging dan sayuran tetap bisa masuk kategori junk food. Dalam konteks industri pangan, disebutkan bahwa untuk mengoptimalkan keuntungan, pelaku usaha cenderung memilih bahan baku berharga lebih murah, termasuk dalam penggunaan minyak goreng.

Peneliti sekaligus dosen Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Laboratorium Medis (TLM) Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Vella Rohmayani, menyampaikan bahwa penggunaan minyak goreng sebaiknya hanya dilakukan dua kali. Jika dipakai berulang, bukan hanya berpotensi mengubah rasa makanan, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan.

Portal Kementerian Kesehatan juga menyebutkan, minyak goreng yang digunakan berulang kali hingga berwarna hitam dan keruh berisiko mengandung lemak jenuh “jahat” dan radikal bebas. Kondisi tersebut disebut dapat memicu beragam masalah kesehatan, mulai dari risiko radang tenggorokan, memicu kolesterol, hingga memengaruhi nilai gizi pada makanan.

Di sisi lain, konsumen kerap tidak mengetahui proses pengolahan di dapur produksi, termasuk standar operasional penggunaan minyak goreng. Ketidakpastian itulah yang membuat pilihan makanan praktis berpotensi membawa risiko bila tidak disertai pengetahuan dan pertimbangan gizi yang memadai.