BERITA TERKINI
Menu Shawarma Palestina Hadir di Ayoo Ayoo Street Food Ubud, Dijual Dua Ukuran

Menu Shawarma Palestina Hadir di Ayoo Ayoo Street Food Ubud, Dijual Dua Ukuran

Ayoo Ayoo Street Food di Jalan Monkey Forest, Ubud, Kabupaten Gianyar, menghadirkan menu baru berupa shawarma khas Palestina. Menu bernama Homemade Palestinian Pita itu mulai dijual pada Agustus 2026 dan disebut menggantikan menu kebab di kedai tersebut.

“Ini menu baru menggantikan kebab. Baru bulan Agustus ini. Namanya, Shawarma Palestina Pita,” ujar Gung Putra, salah seorang pegawai Ayoo Ayoo Street Food, saat ditemui Rabu (12/8/2026).

Menurut Gung Putra, makanan ini juga dikenal di sejumlah negara Arab lain seperti Yordania, Suriah, dan Lebanon. Ia menyebut shawarma berbeda dengan kebab yang umumnya merujuk pada gaya Turki.

Shawarma di Ayoo Ayoo disajikan dengan isian kembang kol, acar potongan mentimun, tomat, ayam, saus habibi atau yogurt bawang putih, serta saus tulum tekno. Saus tulum disebut terbuat dari cabai jalapeno dan mayones cabai asap atau chipotle mayo. Selain varian ayam, tersedia pula pilihan isian jamur dengan saus habibi pedas.

“Rotinya bernama pita bread. Tampangnya memang seperti roti arab,” kata Gung Putra.

Saat dicicipi, rasa Shawarma Palestina Pita disebut berbeda dibanding kebab pada umumnya. Potongan daging ayam panggang terasa sejak gigitan awal, dengan tekstur padat namun lembut. Setelahnya, acar timun dan kol lebih dominan di bagian tengah gulungan roti pita, sementara ayam banyak berada di bagian pinggir.

Cita rasa segar dari timun dan kol kemudian menonjol, menggantikan aroma daging ayam yang kental. Kesegaran isian tersebut juga tampak dari kandungan air timun yang bercampur saus habibi hingga sedikit membasahi bagian bawah bungkus kertas.

Gung Putra menjelaskan perbedaan proses penyajian kebab dan shawarma. “Bedanya, kalau kebab semua isian dibungkus dengan roti arab itu lalu dipanggang dan disajikan. Kalau shawarma, rotinya dipanggang dulu, lalu dimasukkan semua isiannya, lalu dibungkus dengan rotinya, dan dipanggang lagi,” ujarnya.

Menu Shawarma Palestina Pita dijual dalam dua ukuran, yakni medium dan large. Ukuran medium dibanderol Rp 75 ribu, sedangkan ukuran large Rp 95 ribu.

Di sisi lain, Gung Putra mengatakan menu yang baru diluncurkan sekitar dua pekan itu sempat menerima ulasan buruk berupa satu bintang dari seorang pengguna internet yang diduga berasal dari Israel. Ulasan berbahasa Ibrani tersebut menilai aspek menu makanan, layanan, dan suasana dengan bintang satu, lalu beredar di media sosial dan memicu kontroversi.

Jika diterjemahkan, komentar itu berbunyi: “Jangan datang, (restoran ini) bukan untuk kita. Saya tidak tahu plasticine pita (Palestina Pita) apa yang mereka jual”.

“Kami diberitahu bos ada ulasan bintang satu itu, dua hari lalu. Kata bos, kami diminta lebih baik lagi melayani tamu,” kata Gung Putra.

Ia mengaku tidak mengetahui apakah ada tamu berkewarganegaraan Israel yang datang. Salah seorang rekan kerjanya disebut pernah melihat seorang turis merekam poster “free Palestine” yang terpajang di tembok lantai 1 area restoran, lalu menanyakan apakah dirinya pendukung Palestina. “Saya jawab tidak. Saya bilang, saya hanya bekerja di sini,” ujarnya.