BERITA TERKINI
Mengenang Harlem Shake, Tren Viral Satu Dekade Lalu yang Mengubah Wajah Budaya Internet

Mengenang Harlem Shake, Tren Viral Satu Dekade Lalu yang Mengubah Wajah Budaya Internet

Sekitar satu dekade lalu, dunia internet belum seramai sekarang. Banyak orang masih beradaptasi dengan perkembangan teknologi, sementara hiburan digital mulai menemukan bentuknya lewat kanal YouTube yang kian populer dan video singkat di Vine. Di masa ketika orang berselancar di internet terutama untuk mencari hiburan, budaya daring seperti meme, tantangan joget, dan komedi singkat perlahan tumbuh sepanjang era 2000-an hingga awal 2010-an.

Dari periode itulah muncul salah satu fenomena yang paling diingat: “Harlem Shake”. Tren ini menyebar cepat dan memancing orang dari berbagai kalangan—bukan hanya remaja, tetapi juga orang dewasa—ikut berjoget di tengah keramaian. Polanya khas: satu orang, sering kali berkostum aneh, mulai menari sendiri. Begitu tempo musik berubah menjadi cepat, orang-orang di sekelilingnya mendadak ikut menari dengan gerakan acak.

Demam “Harlem Shake” menjalar ke berbagai tempat, dari rumah, ruang kelas, hingga markas militer. Karena gerakannya sederhana dan mudah ditiru, video-versi-ulangnya bermunculan dalam jumlah besar dan membuat tarian konyol ini cepat mendunia. Meski lagu pengiringnya kini jarang terdengar, banyak orang masih spontan teringat gerakannya ketika mendengar penggalan “con los terroristas”.

Di balik viralnya tren tersebut, lagu “Harlem Shake” diciptakan oleh Harry Bauer Rodrigues, yang dikenal sebagai Baauer, pada 2012. DJ amatir asal Brooklyn, New York, itu membuat lagu bernuansa bass dengan mengambil sampel dari “Miller Time” milik grup hip-hop Plastic Little. Sementara penggalan lirik “con los terroristas” diambil dari lagu “Los Terroristas” karya musisi Puerto Rico, Hector Delgado.

Baauer sempat menyebarkan demo lagunya dengan harapan mendapatkan label rekaman, tetapi tidak membuahkan hasil. Lagu itu kemudian dirilis gratis oleh label Mad Decent milik Diplo pada Mei 2012, dan baru menarik perhatian pendengar sekitar delapan bulan setelahnya.

Video “Harlem Shake” pertama kali diunggah di YouTube melalui kanal DizastaMusic pada 30 Januari 2013. Video tersebut menampilkan sekelompok orang berkostum aneh yang bergerak maju-mundur dengan tangan terkepal. Sebelas hari kemudian, sekelompok remaja di Australia menirukan konsep serupa dan videonya menjadi viral, memicu ledakan versi-versi lain di berbagai negara.

Berdasarkan penelusuran Google Trends yang disebut dalam laporan, pada 11 Februari—sehari setelah video dari Australia muncul—ada sekitar 12.000 video “Harlem Shake” diunggah ke YouTube. Jumlah itu meningkat tajam pada 14 Februari menjadi 40.000 video, dengan total 175 juta penayangan. Seiring itu, lagu “Harlem Shake” ikut melesat dan memuncaki tangga lagu Billboard selama lima minggu berturut-turut, serta membawa Baauer meraih dobel platinum.

Namun, popularitas besar itu tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan keuntungan yang diterima pembuatnya. Baauer, dalam wawancara dengan Pitchfork, mengaku tidak mendapatkan keuntungan dari tren “Harlem Shake” dan justru terseret persoalan pelanggaran hak cipta. Mad Decent disebut mengeluarkan sejumlah uang untuk menyelesaikan gugatan dari Plastic Little dan Delgado dua bulan kemudian.

Baauer juga mendapat kritik karena penggunaan istilah “Harlem Shake” tanpa mengakui pencipta gerakan aslinya. Gerakan tersebut disebut berasal dari warga Harlem bernama “Al B”, yang awalnya dibuat untuk menirukan orang mabuk, lalu muncul dalam sejumlah video klip era 1980-an dan 1990-an. Video klip lagu rapper P. Diddy disebut menampilkan gerakan tersebut. Plastic Little juga menyebut “Harlem Shake” dalam lagu mereka, yang kemudian disampel oleh Baauer.

Setelah namanya dikenal luas, Baauer melanjutkan karier sebagai DJ dan produser musik, berkolaborasi dengan sejumlah musisi seperti Tom Morello, The Prodigy, Missy Elliott, Kodak Black, hingga Gorillaz. Album keduanya, Planet’s Mad, masuk nominasi Grammy pada tahun lalu. Meski demikian, belum ada karya baru yang mampu menyaingi ketenaran “Harlem Shake”—sebuah tren yang membekas sebagai penanda era awal budaya viral di internet.