Istilah “lazy girl job” ramai dibicarakan di TikTok setelah sejumlah pembuat konten menyoroti keinginan pekerja—terutama perempuan—akan jam kerja yang lebih sedikit, opsi bekerja dari rumah, serta gaji yang dinilai layak. Ribuan pengguna menyatakan setuju dengan gagasan tersebut, yang kemudian berkembang menjadi tren dengan jutaan penayangan.
Pada akhir Mei, Gabrielle Judge (26), kreator konten yang tinggal di Colorado, Amerika Serikat, mengunggah video TikTok yang membahas “lazy girl job”. Ia menggambarkannya sebagai pekerjaan dengan tingkat stres rendah, dapat dilakukan jarak jauh, dan menawarkan gaji yang memadai. Dalam videonya, Judge menyebut konsep itu sebagai upaya minimum untuk mempertahankan pekerjaan tanpa harus bekerja ekstra. Ia juga menyinggung adanya pekerjaan yang bisa menghasilkan sekitar US$60.000–80.000 tanpa beban kerja berlebihan, serta mencontohkan peran non-teknis dengan jam kerja 09.00–17.00 yang menurutnya dapat membantu mencapai kebebasan finansial.
Video tersebut viral dan disukai hampir 350.000 orang hingga artikel ini ditulis. Tagar #lazygirljob di TikTok telah ditonton lebih dari 17 juta kali. Sejumlah perempuan muda kemudian mengunggah versi mereka masing-masing mengenai “lazy girl job”. Dalam salah satu video, seorang pembuat konten menyebut pekerjaannya berkisar pada membuat email yang sama, menerima tiga hingga empat telepon per hari, mengambil cuti lebih panjang, beristirahat lebih lama, namun tetap mendapatkan gaji yang baik.
Meski menggunakan kata “lazy” atau “malas”, Judge dan sejumlah pakar menekankan bahwa tren ini tidak dimaksudkan untuk mendorong kemalasan. Mereka melihat istilah tersebut sebagai cerminan pola pikir baru di era “Great Resignation”, ketika pekerja semakin menuntut upah yang berkelanjutan dan kondisi kerja yang fleksibel, sekaligus menolak anggapan bahwa lamanya jam kerja selalu sebanding dengan hasil kerja.
Judge mengatakan gagasan itu muncul setelah pengalamannya bekerja berlebihan. Ia mengaku pernah menghabiskan 50 hingga 60 jam per minggu sebagai konsultan—jadwal yang menurutnya tidak normal maupun berkelanjutan—hingga berdampak pada kesehatan mental dan fisik. Bagi Judge, inti “lazy girl job” adalah membingkai ulang seperti apa pekerjaan seharusnya dijalani, dengan keyakinan bahwa kelelahan dan sakit tidak perlu menjadi bagian dari dunia kerja, terlebih ketika otonomi dan fleksibilitas memungkinkan kerja jarak jauh serta kesehatan mental makin diprioritaskan.
Menurut Judge, “lazy girl job” dapat berbeda bagi tiap orang karena kebutuhan dan situasi pekerja tidak sama. Ia tidak memberikan definisi kaku, tetapi menyebut empat kriteria umum: rasa aman (tanpa shift panjang, perjalanan sulit, atau kondisi kerja berbahaya), opsi kerja jarak jauh atau hibrida, gaji yang “layak”, serta keseimbangan kehidupan kerja yang sehat. Pada akhirnya, konsep itu menekankan lingkungan kerja yang sehat dan memberi ruang bagi pekerja untuk memprioritaskan diri.
Judge juga menyebut kata “lazy” dalam istilah tersebut sebagai bentuk candaan sekaligus penanda bahwa banyak hal yang ia bicarakan dianggap “malas” bila diukur dengan standar tempat kerja tradisional. Ia menggambarkan dirinya sebagai “Anti Work Girlboss” dan menekankan bahwa tren ini lebih tepat dipahami sebagai pola pikir, mengingat dunia kerja memiliki banyak nuansa dan setiap orang berada dalam situasi berbeda.
Sejumlah ahli karier menilai tren ini bukan hal yang mengejutkan. Pelatih karier berbasis di Montréal, Tiffany Uman, memandangnya sebagai cerminan perubahan keinginan perempuan profesional yang makin menginginkan pekerjaan yang membahagiakan, berpenghasilan layak, dan memberi ruang untuk prioritas di luar pekerjaan. Menurutnya, karyawan mencari keseimbangan hidup-kerja yang lebih baik dan tidak bersedia bekerja berlebihan dengan cara yang berisiko mengorbankan kesejahteraan serta kehidupan pribadi.
Pelatih karier dan kesuksesan milenial berbasis di New York, Eliana Goldstein, menilai “lazy girl job” merupakan tanggapan langsung sekaligus penolakan terhadap budaya kerja berlebihan dan kesibukan yang telah mendominasi tenaga kerja selama beberapa dekade. Goldstein juga menilai pemilihan istilah yang mencolok membantu menarik perhatian dan memulai percakapan. Ia menekankan bahwa yang dimaksud sebenarnya adalah bekerja dengan kemampuan terbaik karena itulah yang dibayar, lalu tetap memiliki ruang untuk melakukan hal-hal yang membuat seseorang bahagia.
Judge sependapat bahwa tren ini dapat menjadi kesempatan belajar, dan bukan semata-mata soal mengamankan satu jenis pekerjaan tertentu. Baginya, gagasan tersebut berhubungan dengan kendali atas kehidupan kerja. Ia menilai “lazy girl job” dapat membantu menunjukkan kepada pemberi kerja apa yang berhasil dan apa yang tidak bagi para pekerja.
Goldstein menambahkan bahwa milenial telah lama mengadvokasi keseimbangan hidup-kerja, namun kerap kesulitan mempraktikkannya. Dalam pandangannya, gerakan ini bisa menjadi pengingat, termasuk bagi generasi yang lebih tua, bahwa Gen Z bukan sekadar pemalas, melainkan menyuarakan keinginan bersama untuk hidup yang lebih seimbang. Ia juga menilai labelnya mungkin tidak sepenting substansinya: “lazy girl job” pada dasarnya menggambarkan peran kerja yang baik, hanya dikemas dengan nama berbeda.
Di sisi lain, tidak semua orang menyukai istilah tersebut. Pada akhir Juli, seorang pengguna TikTok yang merekam dari mobilnya saat jam kerja menyampaikan peringatan bahwa mengharapkan pekerjaan dengan gaji baik, keseimbangan hidup-kerja yang sehat, dan tanpa kerja berlebihan bukanlah bentuk kemalasan. Kritik ini menegaskan bahwa perdebatan seputar “lazy girl job” tidak hanya menyangkut jenis pekerjaan, tetapi juga soal bahasa, ekspektasi, dan perubahan cara memandang kerja.

