Tren “date cancelled” belakangan ramai muncul di berbagai platform media sosial. Warganet membagikan cerita tentang rencana kencan yang batal, sering kali dengan alasan yang terdengar sepele, namun cukup untuk menimbulkan rasa tidak nyaman atau “ilfeel”. Karena kemunculannya berulang di linimasa, unggahan semacam ini kemudian berkembang menjadi tren yang diikuti banyak pengguna.
Secara harfiah, “date cancelled” merujuk pada kencan yang dibatalkan—baik dengan gebetan maupun pasangan. Dalam tren ini, fokusnya bukan sekadar pembatalan, melainkan alasan di baliknya. Sejumlah warganet menuliskan penyebab yang dianggap kecil, seperti cara mengetik, kebiasaan yang dinilai sebagai “red flag”, hingga perbedaan selera hobi atau makanan favorit. Meski tampak remeh, alasan-alasan tersebut kerap dianggap cukup mengganggu sehingga memicu keputusan untuk membatalkan pertemuan.
Menariknya, tren ini tidak sepenuhnya berisi candaan. Sejumlah unggahan dinilai memiliki nuansa lebih personal. Ada yang diduga berangkat dari pengalaman serius atau menyakitkan, lalu berkembang menjadi konten bernada humor. Dalam prosesnya, “date cancelled” juga menjadi medium sindiran satir, dengan beberapa warganet menyelipkan pesan menyindir melalui format yang ringan.
Di sisi lain, banyak pengguna memilih membuat versi fiktif atau melebih-lebihkan situasi demi efek komedi. Formatnya pun beragam, mulai dari dialog singkat hingga celetukan satu kalimat. Sejumlah contoh yang beredar antara lain cerita tentang kebingungan lokasi pertemuan, permainan makna kata, hingga kebiasaan mengetik yang dianggap mengganggu.
Dengan begitu, tren “date cancelled” kini lebih sering menjadi hiburan ringan di media sosial. Warganet dapat ikut meramaikan tanpa harus membuka pengalaman pribadi, karena banyak unggahan dibuat dalam bentuk humor dan kreativitas, sekaligus merefleksikan dinamika kencan yang kerap penuh pertimbangan—bahkan dari hal-hal kecil.

