BERITA TERKINI
Mengenal Istilah Viral “Yoga Boobs”, Tren Payudara Natural yang Ramai di Media Sosial

Mengenal Istilah Viral “Yoga Boobs”, Tren Payudara Natural yang Ramai di Media Sosial

Istilah “yoga boobs” belakangan ramai dibicarakan di media sosial untuk menggambarkan tren bentuk payudara yang dinilai lebih alami dan proporsional. Meski terdengar unik, para ahli menegaskan istilah ini bukan istilah medis, melainkan bahasa populer yang berkembang di ruang digital.

Ahli bedah plastik asal New York, Aviva B. Preminger, menjelaskan bahwa “yoga boobs” merujuk pada tampilan payudara yang lebih kecil dan terlihat natural. Dalam banyak kasus, tren ini dikaitkan dengan tindakan pengurangan payudara atau pengangkatan implan. Menurut Preminger, istilah tersebut mencerminkan keinginan memiliki bentuk tubuh yang selaras dengan gaya hidup aktif dan atletis—ramping, kencang, dan seimbang—sehingga tidak mengganggu gerak atau kenyamanan saat beraktivitas seperti yoga, Pilates, atau lari.

Tren ini dipandang berbeda dari gelombang pembesaran payudara yang populer pada awal 2000-an, ketika ukuran yang lebih besar kerap menjadi tujuan utama. “Yoga boobs” lebih menekankan harmoni bentuk tubuh ketimbang mengejar ukuran.

Selain “yoga boobs”, media sosial juga mengenal istilah “ballerina boobs”. Sejumlah ahli bedah plastik menilai keduanya memiliki konsep yang mirip: payudara yang terlihat alami dan proporsional. Namun, ahli bedah plastik Ellen M. Ezell menyebut “yoga boobs” lebih identik dengan tampilan atletis yang cocok dipadukan dengan pakaian olahraga, sementara “ballerina boobs” menggambarkan bentuk yang lebih halus, terangkat, dan elegan. Meski demikian, Ezell menilai perbedaan keduanya tidak terlalu signifikan dan lebih banyak terkait tren pemasaran di media sosial.

Menurut Ezell, kedua istilah itu mencerminkan pergeseran selera: banyak perempuan mulai meninggalkan tampilan yang berlebihan. Tren implan yang sangat besar dan mencolok yang pernah populer kini disebut bergeser ke arah hasil yang lebih subtil.

Para ahli menilai popularitas “yoga boobs” juga berkaitan dengan perubahan standar kecantikan beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya prosedur estetika kerap menonjolkan perubahan yang jelas terlihat, kini semakin banyak perempuan menginginkan hasil yang tampak natural. Preminger mengatakan pasien masa kini lebih mempertimbangkan kenyamanan jangka panjang, kesehatan tubuh, serta bagaimana bentuk payudara akan terlihat seiring bertambahnya usia.

Fenomena ini juga sejalan dengan tren “quiet luxury” atau kemewahan yang tidak mencolok di dunia mode dan kecantikan. Ahli bedah plastik Dr. Mariam Awada menyebut ia melihat makin banyak pasien meminta hasil operasi yang halus dan tidak tampak berlebihan. Ia menilai media sosial turut mendorong gelombang kuat yang mengarah pada estetika natural.

Seiring meningkatnya minat pada tampilan yang lebih alami, sebagian perempuan memilih pembesaran payudara berukuran kecil, bahkan mempertimbangkan cangkok lemak (fat grafting) sebagai alternatif dibanding implan besar. Ahli bedah plastik berbasis di New York City, Dr. Sophie Bartsich, menyebut tren mengecilkan ukuran payudara ini sebagai sesuatu yang relatif baru. Menurutnya, banyak pasien menginginkan hasil yang lebih klasik dan elegan, sekaligus mudah dipadukan dengan berbagai gaya pakaian.

Bartsich juga mengingat masa ketika produsen implan tidak banyak menyediakan sampel ukuran kecil. Saat itu, ada pandangan bahwa implan sebaiknya dipilih sebesar mungkin agar pasien tidak menyesal karena merasa ukuran yang dipilih kurang besar. Namun, ia menilai preferensi masyarakat kini telah berubah.

Selain perubahan selera, berkembangnya riset juga membuat dokter lebih memahami potensi komplikasi dari implan berukuran terlalu besar, seperti deformitas tulang rusuk, atrofi jaringan payudara, dan peregangan kulit. Bartsich mengatakan produsen implan kini banyak membuat ukuran yang lebih kecil dibanding sebelumnya.

Untuk mencapai hasil yang terlihat natural, dokter dapat menggunakan beberapa pendekatan, seperti implan berukuran kecil, cangkok lemak, atau kombinasi keduanya. Beberapa ahli bedah juga mengambil lemak dari area tubuh lain untuk peningkatan sederhana, misalnya setengah hingga satu cup.

Ahli bedah plastik Lara Devgan menggambarkan “yoga boobs” sebagai payudara yang cukup untuk mengisi bra olahraga, sambil tetap mempertahankan siluet tubuh yang ramping dan terbentuk. Ia menilai ada tren sosial yang lebih luas menuju tubuh yang langsing, sehingga payudara yang seimbang dan proporsional menjadi bagian dari gambaran tersebut.

Pada akhirnya, “yoga boobs” dipandang sebagai salah satu tren estetika yang tengah populer di media sosial. Para ahli mengingatkan tidak ada ukuran atau bentuk payudara yang paling ideal untuk semua perempuan. Bagi siapa pun yang mempertimbangkan prosedur estetika pada payudara, disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter bedah plastik bersertifikat agar keputusan sesuai kondisi tubuh, kebutuhan, serta harapan yang realistis—bukan semata mengikuti tren viral.