BERITA TERKINI
Mengenal Delusion Week, Tren TikTok untuk Mendorong Motivasi dan Produktivitas Selama Tujuh Hari

Mengenal Delusion Week, Tren TikTok untuk Mendorong Motivasi dan Produktivitas Selama Tujuh Hari

Motivasi dan produktivitas menjadi tantangan yang kerap dihadapi banyak orang dalam keseharian. Di tengah padatnya aktivitas—mulai dari pekerjaan, hubungan, mengasuh anak, hingga berbagai tanggung jawab lain—sebagian orang merasa sulit untuk bangun pagi dan menuntaskan tugas yang seharusnya dilakukan. Kondisi ini sering kali berkaitan dengan menurunnya motivasi, yang dapat dipengaruhi oleh beragam faktor.

Di media sosial, khususnya TikTok, muncul tren yang disebut delusion week. Tren ini menawarkan pendekatan berupa “menipu diri sendiri” untuk menjalani rutinitas yang biasanya terasa berat, dengan cara membayangkan dan bertindak seolah-olah sedang menjalani versi terbaik dari hidup sendiri selama tujuh hari.

Dilansir dari The List, delusion week merupakan tren yang membantu banyak orang menemukan kembali dorongan untuk menjalani kehidupan yang lebih tertata. Gagasan utamanya adalah seseorang dapat meyakinkan dirinya bahwa ia sedang menjalani versi terbaik hidupnya, lalu melakukan aktivitas yang selaras dengan gambaran tersebut.

Tantangan ini mendorong peserta untuk menjalani tujuh hari sebagai “diri tertinggi” mereka. Bentuknya bisa beragam, seperti bangun lebih pagi, makan lebih sehat, berolahraga, minum lebih banyak air, meluangkan waktu bersama keluarga, menyediakan waktu untuk perawatan diri, tidur cukup, lebih fokus pada pekerjaan, serta menjalankan kebiasaan lain yang dinilai penting.

Tren delusion week disebut diciptakan oleh Kaylin Mally. Ia mendapatkan ide tersebut pada awal 2023, ketika ingin bertindak sebagai versi dirinya yang paling sukses untuk melihat apakah cara itu dapat memunculkan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Mengutip Psychology Today, pemikiran di balik delusion week dinilai mirip dengan konsep “sindrom karakter utama”, yakni keyakinan bahwa seseorang adalah tokoh utama dalam ceritanya sendiri dan menjalani hidup dengan perspektif tersebut.

Psikolog sosial Sandra Wheatley menilai bahwa penggunaan kata “delusi” mungkin terdengar berlebihan, namun praktiknya bisa produktif. Menurutnya, delusion week dibangun dari hal-hal seperti mantra, kemudian diterjemahkan menjadi tindakan nyata dan langkah-langkah yang diperlukan untuk membantu seseorang mencapai tujuan.

Bagi yang ingin mencoba, tren ini menekankan pentingnya persiapan dan perencanaan. Sebelum memulai, peserta diajak memikirkan secara spesifik seperti apa versi terbaik dari diri mereka: jam berapa bangun, bagaimana cara berpakaian, apa yang dimakan saat siang hari, hingga bagaimana menghabiskan waktu luang.

Beberapa topik yang disarankan untuk dipertimbangkan antara lain kesehatan dan nutrisi, kecantikan, perawatan diri, hubungan romantis, hubungan keluarga, olahraga, rutinitas, karier, rumah, serta aspek lain yang terasa menonjol dalam kehidupan. Setelah gambaran tersebut terbentuk, langkah berikutnya adalah mencoba memasukkan aktivitas-aktivitas itu ke dalam jadwal harian.

Pelaksanaan delusion week juga menekankan pola pikir positif: menjalani hari seolah-olah sudah menjadi versi diri yang paling menarik, sukses, dan bahagia. Di akhir hari, peserta dianjurkan melakukan refleksi atas apa yang dipelajari, bagaimana respons terhadap situasi tertentu, serta apakah merasa puas dengan hal yang dilakukan dan dicapai. Proses ini kemudian diulang pada hari berikutnya, dengan harapan kebiasaan yang dirasa cocok dapat dipertahankan setelah satu minggu berakhir.