BERITA TERKINI
Mengapa Food Hacks Viral Menguasai Linimasa: Dari Asinan “Sultan” hingga Indomie Mayones, dan Cermin Selera Baru Indonesia

Mengapa Food Hacks Viral Menguasai Linimasa: Dari Asinan “Sultan” hingga Indomie Mayones, dan Cermin Selera Baru Indonesia

Isu yang Membuatnya Tren

Dalam beberapa pekan terakhir, linimasa Indonesia diramaikan food hacks, dari trik praktis sampai kreasi “ala Sultan” yang memancing rasa ingin tahu.

Yang menonjol adalah asinan buah yang disebut Asinan Ceri-Ya, dengan harga disebut menyentuh Rp 600.000, lalu ditiru dengan versi “hack” memakai jus kemasan.

Di sisi lain, muncul kreasi Indomie goreng dicampur mayones, dengan pilihan mayones dari restoran Hokben yang dikenal netizen sebagai topping salad.

Deretan ide lain ikut menumpang arus, seperti “hacks” makan di restoran agar porsi lebih banyak, kombinasi makanan minimarket, hingga popcorn dengan sup instan.

Tren ini bukan sekadar soal resep.

Ia adalah cerita tentang cara orang Indonesia menegosiasikan rasa, status, dan keterbatasan, di ruang publik baru bernama media sosial.

-000-

Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Meledak di Google Trends

Pertama, food hacks memberi ilusi kendali.

Dalam satu video singkat, orang merasa bisa “mengakali” harga, rasa, dan pengalaman, tanpa harus ikut seluruh biaya dan ritual yang menyertainya.

Asinan premium yang viral, misalnya, segera melahirkan versi tiruan.

Jus ceri dan delima diganti jus kemasan, berupa variasi cranberry dengan campuran jeruk songkit, seperti yang beredar dalam konten-konten tiruan.

Di titik itu, yang dijual bukan lagi buahnya.

Yang dijual adalah sensasi: seolah-olah kita ikut mencicipi sesuatu yang sedang dibicarakan semua orang.

Kedua, formatnya sangat cocok dengan logika platform.

Food hacks mudah divisualkan, cepat ditiru, dan memancing komentar, terutama ketika ada kontras ekstrem antara “praktis” dan “sultan”.

Indomie dicampur mayones, misalnya, sederhana sekaligus mengusik.

Ia mengundang perdebatan rasa, pertanyaan kesehatan, dan rasa penasaran yang membuat orang ingin mencoba, lalu merekam ulang.

Ketiga, food hacks punya daya tarik sosial yang halus.

Orang bisa ikut tren tanpa harus mengaku ingin terlihat ikut tren.

Cukup bilang, “penasaran,” atau “cuma coba,” lalu unggah hasilnya, dan percakapan pun mengalir.

Di era atensi, rasa penasaran adalah mata uang.

Food hacks memproduksi rasa penasaran dalam bentuk yang paling mudah dibagikan: sebelum dan sesudah, murah dan mahal, asli dan tiruan.

-000-

Menulis Ulang Peristiwa: Dari Asinan Premium sampai Popcorn Sup Instan

Media sosial belakangan menjadi panggung kreator video yang merayakan keunikan makanan.

Mulai dari tutorial memasak praktis, sampai “food hacks” yang memanfaatkan bahan siap pakai, semuanya berlomba merebut perhatian.

DetikFood memantau salah satu yang menonjol adalah hacks terkait sajian asinan buah.

Asinan Ceri-Ya dengan harga disebut menyentuh Rp 600.000 menjadi sorotan, lalu memicu banyak kreator membuat versi mereka sendiri.

Alih-alih memakai campuran jus ceri dan delima, sejumlah konten menggantinya dengan jus kemasan.

Jus yang dipakai disebut variasi cranberry, dicampur jeruk songkit, untuk mendekati sensasi rasa yang dibayangkan.

Buahnya pun menampilkan kesan premium.

Disebutkan pilihan buah bisa berupa ceri, anggur muscat, delima, kelengkeng, leci, dan lainnya, menegaskan estetika kemewahan dalam satu mangkuk.

Di jalur berbeda, kreasi mie instan ikut mencuri panggung.

Caranya sederhana: Indomie goreng dicampur mayones, yang diklaim membuat rasa lebih creamy.

Netizen disebut memilih mayones dari restoran Hokben.

Mayones itu biasa hadir sebagai topping salad, lalu dipindahkan ke mie instan, menggeser batas antara makanan rumahan dan rasa “restoran”.

Selain itu, ada pula hacks lain yang disebut bisa dicoba.

Mulai dari cara makan di restoran Solaria agar porsi lebih banyak, mengombinasikan beberapa makanan minimarket, hingga eksperimen camilan.

Salah satu yang disebut adalah popcorn.

Popcorn dipadukan dengan sup instan, baik menjadikan bubuk sup sebagai bumbu manis gurih, atau mencampur popcorn ke sup yang sudah diseduh.

Di permukaan, ini tampak seperti permainan rasa.

Namun di bawahnya, ada dorongan kuat untuk menemukan kebaruan, dengan bahan yang tersedia di sekitar.

-000-

Analisis: Food Hacks sebagai Bahasa Baru Kelas Menengah Digital

Food hacks viral memperlihatkan perubahan cara orang memaknai makan.

Makan tidak lagi hanya pemenuhan kebutuhan, tetapi juga produksi cerita, simbol, dan identitas yang bisa diunggah.

Asinan “Sultan” bekerja sebagai objek pembicaraan.

Harga yang fantastis membuatnya menjadi semacam panggung, tempat orang mendiskusikan kewajaran, kemewahan, dan rasa ingin tahu.

Lalu hadir versi hack sebagai jalan tengah.

Ia menawarkan partisipasi tanpa tiket penuh, seakan berkata, “Saya tidak membeli, tapi saya tetap mengerti perbincangan ini.”

Indomie mayones menawarkan psikologi yang berbeda.

Ia mengolah sesuatu yang sangat akrab menjadi sesuatu yang terasa baru, tanpa menghilangkan kedekatan emosional yang sudah lama melekat pada mie instan.

Di sini, yang ditambahkan bukan hanya mayones.

Yang ditambahkan adalah pengalaman “upgrade,” sebuah sensasi naik kelas yang bisa dilakukan dari dapur sendiri.

Popcorn dan sup instan menunjukkan sisi lain dari kreativitas.

Ini bukan soal mewah, melainkan soal mengejutkan lidah dengan kombinasi tak terduga, seperti eksperimen kecil yang murah dan menyenangkan.

Semua ini mengarah pada satu hal.

Food hacks adalah bentuk improvisasi budaya, ketika orang memadukan produk industri, kebiasaan lokal, dan estetika internet menjadi satu narasi.

-000-

Kaitan dengan Isu Besar Indonesia: Konsumsi, Ketimpangan, dan Literasi Pangan

Tren ini menempel pada isu konsumsi yang makin terdigitalisasi.

Di Indonesia, makanan sering menjadi pintu masuk paling mudah untuk membahas kelas sosial, karena ia hadir setiap hari dan terlihat nyata.

Asinan seharga ratusan ribu rupiah memantik pertanyaan tentang ketimpangan.

Bukan semata karena ada yang mampu membeli, tetapi karena kemewahan itu dipertontonkan sebagai tontonan harian.

Namun respons publik tidak selalu berupa penolakan.

Sering kali responsnya adalah adaptasi, seperti membuat versi hack, yang menegosiasikan jarak antara keinginan dan kemampuan.

Di sisi lain, tren hacks juga menyentuh literasi pangan.

Ketika orang mencampur makanan ultra-proses dengan saus atau bumbu tertentu, percakapan tentang gizi dan kebiasaan makan ikut terbuka.

Tren tidak otomatis salah atau benar.

Namun ia bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat kebiasaan bertanya, membaca label, dan memahami porsi, tanpa menghakimi selera orang lain.

Isu berikutnya adalah budaya “hemat yang kreatif.”

Hacks porsi restoran atau kombinasi minimarket menunjukkan kebutuhan untuk memaksimalkan nilai, sesuatu yang relevan di tengah tekanan biaya hidup.

Di titik ini, makanan menjadi cermin ekonomi rumah tangga.

Ia memperlihatkan bagaimana orang mencari cara agar tetap bisa menikmati, meski ruang anggaran terbatas.

-000-

Riset yang Relevan: Mengapa Konten Makanan Mudah Menular

Konten makanan punya sifat “mudah menular” karena ia menggabungkan visual, rutinitas, dan emosi.

Dalam kajian pemasaran dan perilaku konsumen, makanan sering dipakai sebagai contoh pengalaman multisensori yang mudah memicu ingatan dan keinginan.

Riset tentang pengaruh paparan media terhadap pilihan makan juga kerap menyoroti hal sederhana.

Semakin sering orang melihat suatu makanan, semakin akrab ia terasa, dan semakin rendah hambatan untuk mencobanya.

Di media sosial, efek ini diperkuat oleh pengulangan.

Satu hack muncul, lalu ditiru, lalu dimodifikasi, lalu diperdebatkan, sampai akhirnya menjadi “pengetahuan bersama” walau baru kemarin lahir.

Ada pula konsep aspirational consumption dalam kajian konsumsi.

Orang tidak selalu membeli barang mewah, tetapi mereka bisa membeli simbolnya, atau meniru pengalaman yang diasosiasikan dengannya.

Asinan premium yang ditiru dengan jus kemasan adalah contoh yang mudah dibaca.

Ia menunjukkan bagaimana simbol kemewahan bisa diterjemahkan menjadi praktik rumahan yang lebih terjangkau.

Riset tentang budaya partisipatif di internet juga relevan.

Warganet tidak hanya menonton, tetapi ikut memproduksi versi, memberi penilaian, dan membangun norma rasa secara kolektif.

Tren food hacks hidup dari partisipasi itu.

Tanpa komentar, duet, stitch, dan video respons, ia akan berhenti sebagai resep biasa.

-000-

Referensi Luar Negeri yang Serupa: Ketika “Hack” Menjadi Budaya Global

Fenomena serupa pernah terjadi di luar negeri, ketika platform video pendek melahirkan gelombang resep viral yang ditiru massal.

Salah satu pola yang sering muncul adalah “dupe,” yaitu versi tiruan dari menu populer atau makanan mahal, dibuat dengan bahan yang lebih mudah.

Pola lainnya adalah “viral add-on.”

Produk sehari-hari ditambah satu bahan kunci untuk menciptakan sensasi baru, mirip logika Indomie ditambah mayones untuk efek creamy.

Ada juga tren “menu secret” atau “custom order” di jaringan restoran cepat saji.

Orang berbagi cara memesan agar terasa lebih besar, lebih unik, atau lebih murah, sejalan dengan ide hacks porsi restoran.

Kesamaannya jelas.

Di banyak negara, makanan viral sering menjadi cara paling cepat untuk mencicipi rasa kebersamaan digital, karena semua orang punya pengalaman makan.

Bedanya, konteks Indonesia memberi warna tersendiri.

Label “Sultan” adalah istilah sosial yang khas, karena ia menandai jarak kelas dengan humor, sindiran, dan kekaguman sekaligus.

-000-

Bagaimana Sebaiknya Publik Menanggapi Tren Ini

Pertama, nikmati kreativitasnya, tetapi rawat sikap kritis.

Food hacks bisa menjadi ruang bermain yang menyenangkan, selama orang sadar bahwa viral tidak selalu identik dengan cocok untuk semua.

Kedua, dorong literasi pangan yang ramah.

Alih-alih mengolok-olok pilihan orang, lebih berguna jika percakapan mengarah pada pemahaman bahan, porsi, dan kebiasaan makan yang seimbang.

Ketiga, pahami dimensi sosialnya.

Ketika sesuatu dicap “Sultan,” sering kali yang sedang dibicarakan bukan hanya rasa, tetapi rasa keadilan, akses, dan siapa yang merasa dilibatkan.

Keempat, bagi kreator, transparansi penting.

Jika sebuah hack meniru menu mahal, jelaskan bahwa itu interpretasi rumahan, bukan klaim kesamaan persis, agar penonton tidak tersesat oleh ekspektasi.

Kelima, bagi media, konteks perlu diperluas.

Tren makanan bisa diliput bukan hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai pintu masuk untuk membahas budaya konsumsi, ekonomi rumah tangga, dan perubahan selera.

Karena pada akhirnya, makanan selalu lebih dari makanan.

Ia adalah cara kita mengingat, berbagi, dan menandai posisi kita di tengah keramaian.

-000-

Penutup

Food hacks viral, dari asinan buah premium yang ditiru dengan jus kemasan sampai Indomie mayones, menunjukkan satu hal yang jujur.

Indonesia sedang mencari bentuk baru untuk menikmati hidup, di tengah batas anggaran, banjir informasi, dan dorongan untuk ikut percakapan.

Tren ini bisa dangkal jika hanya berhenti pada sensasi.

Namun ia bisa bermakna jika kita memakainya untuk memahami selera publik, jarak kelas, dan pentingnya literasi pangan yang tidak menggurui.

Di meja makan, kita belajar tentang masyarakat.

Di linimasa, kita belajar bagaimana masyarakat ingin dilihat.

Dan di antara keduanya, kita belajar bahwa kreativitas sering lahir dari keterbatasan, lalu tumbuh menjadi cerita bersama.

“Kita tidak selalu bisa memilih keadaan, tetapi kita selalu bisa memilih cara memaknainya.”