Maraknya kasus pembegalan belakangan ini dikeluhkan pedagang kuliner malam di Kota Bandung. Aksi begal yang ramai diperbincangkan dinilai ikut menurunkan jumlah pengunjung ke sejumlah titik street food yang biasanya hidup hingga larut malam.
Berdasarkan penelusuran liputan media, sepanjang tahun ini tercatat lebih dari 20 kasus pembegalan di Bandung Raya. Dalam beberapa kejadian, pelaku disebut menggunakan senjata tajam dan melakukan kekerasan. Situasi itu membuat sebagian warga khawatir beraktivitas pada malam hari.
Di kawasan Jalan Saparua, Rosi (57), pedagang ayam geprek dan es teler, mengaku merasakan perubahan sejak isu begal menguat. Ia mengatakan pukul 21.00 hingga 22.00 biasanya menjadi jam paling ramai, namun belakangan pengunjung berkurang. Rosi yang baru sekitar dua bulan berjualan di lokasi itu menyebut pendapatannya turun tajam. “Hari pertama kita buka juga sekitar 700-800 (ribu rupiah) dapat. Kemarin dapat 100 ribu (rupiah),” ujarnya.
Pantauan pada malam akhir pekan menunjukkan Jalan Saparua mulai ramai sekitar pukul 19.00. Anak muda datang untuk menikmati kuliner atau berkumpul, sementara sebagian pengunjung mampir setelah berolahraga di Lapangan Saparua. Namun, sejumlah pedagang menilai pendapatan tidak lagi seperti biasanya; sebagian menyebut hanya sekitar separuh dari sebelumnya.
Ayie (49), pedagang kopi keliling, menyampaikan hal serupa. Pada hari biasa, omzetnya disebut bisa mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per hari. Setelah kawasan tersebut dianggap rawan begal, pendapatannya berkurang sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. “Omset harian paling minimalnya di hari-hari biasa itu sekitar 500 sampai 600 ribu (rupiah) sehari, kalau setelah red zone (rawan begal) itu untuk hari-hari biasa ada penurunan sekitar paling 200 ribu, 300 ribu,” kata Ayie.
Kondisi keamanan juga berdampak pada jam operasional. Satpol PP mengimbau pedagang di Jalan Saparua berjualan maksimal hingga pukul 23.00. Meski begitu, penilaian pengunjung soal situasi keamanan berbeda-beda. Bunga (21) menilai kondisi mulai cukup aman setelah sejumlah pelaku begal ditangkap. Sukma (21) juga menyebut kasus pembegalan mulai mereda setelah beberapa pelaku diringkus.
Namun, Tri (22) menilai pembatasan jam berjualan bukan solusi mengatasi begal. “Itu bukan sebuah solusi. Bukan sebuah perlindungan. Itu mah, mereka (aparat) saja yang tidak mau cari mati,” ujarnya. Tri menambahkan, menurut pengamatannya, kriminalitas di Bandung kerap ramai diberitakan pada periode tertentu lalu mereda kembali.
Situasi imbauan jam operasional juga tidak seragam di lokasi lain. Pedagang di kawasan Japati dan Jalan Lengkong Kecil mengatakan tidak pernah menerima imbauan serupa sejak kasus begal ramai.
Di Jalan Japati, pantauan sekitar Gasibu dan Jalan Dipatiukur pada pukul 21.00 di akhir pekan menunjukkan jalanan tampak lengang. Rendi (46), pedagang kue pukis, mengatakan polisi kerap berpatroli di sekitar kawasan tersebut, namun jumlah pengunjung tetap menurun sehingga ia memilih menutup lapak lebih awal. Jika sebelumnya ia berjualan hingga pukul 01.00, kini ia berhenti sekitar pukul 22.00. “Kalau waktu dulu mah pendapatan kalau malam sih sampai 700, paling kecil 500 (ribu rupiah). Sekarang rata-rata pendapatan paling setengahnya, ada 300,” tuturnya.
Meski sebagian pedagang memilih tutup lebih awal, pedagang lain tetap berjualan hingga dini hari seperti biasa. Anis (50), pedagang pecel di kawasan yang sama, membenarkan bahwa pembeli sempat sepi selama Juli. Namun, memasuki Agustus, ia menilai pengunjung mulai kembali meski belum sepenuhnya seperti sebelumnya.
Berbeda dengan Saparua dan Japati yang banyak diisi lapak tenda nonpermanen, street food di Jalan Lengkong Kecil berdampingan dengan deretan toko makanan permanen. Hendriawan (20), pedagang pisang keju, menyebut kawasan itu pernah sangat ramai pada 2023 hingga jalan sempat ditutup karena membludaknya pengunjung. Namun, saat dipantau, jalan tampak lancar dilalui kendaraan.
Menurut Hendriawan, pendapatannya sempat turun drastis selama dua minggu pertama ketika kasus pembegalan di Bandung ramai, lalu perlahan membaik. Ia juga menilai kondisi ekonomi masyarakat yang sulit turut memengaruhi maraknya aksi begal. “Emang lagi susah uang (sepertinya). Jadi ngelemparin gitu ya, nyari uang soalnya susah ya, apa-apalah. Jadi sebisa-bisanya,” ucapnya.
Hendriawan turut mengaitkan turunnya aktivitas ekonomi yang ia rasakan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, dampaknya dirasakan bukan hanya pedagang, tetapi juga pekerja lain. “Pas ada MBG itu, jualan mulai berkurang. Kerja-kerja apa-apa di luar sekarang itu sampai (sejak) ada MBG, kurang,” katanya.
Terlepas dari jalanan yang lebih sepi dan pendapatan yang menurun, para pedagang menyatakan tetap harus berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hendriawan mengatakan ia akan tetap berdagang apa pun kondisinya. “Saya mah jualan, mau ada apa lagi, (tetap) jualan,” ujarnya.