Bahan-bahan dapur yang kerap digunakan sehari-hari diperkenalkan sebagai bahan dasar produk herbal dalam pelatihan pengolahan jamu tradisional yang digelar mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Annuqayah (UA) Guluk-Guluk Sumenep Posko 14.
Kegiatan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Ganding, Sumenep, pada Senin (14/09/2026), dengan peserta santri putri. Dalam pelatihan ini, para santri diajak mengenal sekaligus mempraktikkan cara meracik rempah-rempah seperti kunyit, jahe, dan asam jawa menjadi minuman tradisional.
Ketua KKN UA Posko 14, Ririn Fitriyanti, mengatakan pelatihan tidak hanya berfokus pada proses pembuatan jamu, tetapi juga disertai edukasi mengenai pengemasan produk agar tampil lebih menarik dan berpeluang dikembangkan secara mandiri.
“Sejak awal acara, para santri diperkenalkan secara mendetail dengan berbagai bahan yang akan digunakan. Mereka kemudian mengikuti tahapan pengolahan secara langsung, mulai dari membersihkan rempah, mengolah kunyit dan jahe, mencampurkannya dengan asam jawa, hingga menghasilkan jamu siap konsumsi,” ujar Ririn.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN memberi nama produk jamu hasil pelatihan dengan sebutan “Ajhemu”. Kemasan dirancang dengan konsep sederhana, namun tetap mempertahankan nuansa tradisional.
Ririn menambahkan, program ini dirancang agar santri memperoleh pengalaman praktis yang dapat diterapkan kembali di kemudian hari. “Kami ingin santri tidak hanya tahu bahwa kunyit, jahe, dan asam bisa dijadikan jamu, tetapi juga tahu bagaimana proses mengolahnya. Dari bahan yang sederhana, mereka bisa belajar membuat sesuatu yang bermanfaat dan bahkan memiliki nilai jual,” katanya.
Menurutnya, pelatihan ini juga menjadi upaya melestarikan tradisi minum jamu dan mengenalkan kembali minuman herbal warisan leluhur kepada generasi muda, khususnya di lingkungan pesantren. Ia menilai kegiatan tersebut dapat menjadi langkah untuk mendorong kreativitas dan kemandirian santriwati.
Selama pelatihan, suasana berlangsung interaktif. Para peserta terlihat antusias dan aktif bertanya, mulai dari takaran bahan, penyesuaian rasa, hingga strategi pengemasan produk.