Jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo terus meningkat dan diperkirakan telah melampaui 20 ribu orang. Kondisi ini dinilai sudah “overload” dan mendorong pemerintah menyiapkan langkah antisipasi, termasuk menginisiasi pembukaan cabang Universitas Al-Azhar Kairo di Indonesia.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kementerian Agama, Sahiron, mengatakan banyaknya mahasiswa Indonesia di Mesir menjadi fenomena yang di satu sisi menggembirakan, namun di sisi lain memunculkan kekhawatiran. Ia menyebut aspek sosial dan ekonomi para mahasiswa menjadi perhatian.
“Dari satu sisi hal ini menyenangkan, tetapi di sisi lain ada hal-hal mengkhawatirkan, baik dari segi sosial dan ekonomi para mahasiswa,” kata Sahiron, Rabu (21/1/2026).
Menurut Sahiron, untuk mengantisipasi dampak negatif yang mungkin muncul, pemerintah Indonesia memiliki inisiatif agar Universitas Al-Azhar di Kairo mendirikan cabang di Indonesia. Ia juga menilai antusiasme generasi muda Indonesia untuk melanjutkan studi ke Al-Azhar masih sangat tinggi.
“Harapan kami, anak-anak Indonesia tertarik berkuliah di Universitas Al Azhar Cabang Indonesia,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa Universitas Al-Azhar Kairo dan Jordan University akan membuka cabang di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan sepulangnya dari Tanah Suci.
Menag menyampaikan informasi tersebut dalam sambutan di Universitas PTIQ Jakarta Ma’had Al-Qur’an pada kegiatan haflatul wada’ Mahasantri Ma’had Al-Qur’an Universitas PTIQ Jakarta tahun akademik 2024/2025, Rabu (18/6/2025), dengan tema “Menyiapkan generasi qur'ani sebagai pelopor peradaban masa depan”.
Dalam kesempatan itu, Menag juga menyebut Presiden Prabowo telah menyetujui rencana pembukaan cabang Universitas Al-Azhar Kairo di Indonesia.

