BERITA TERKINI
Komunitas dan Ormas Dinilai Kunci Edukasi Gizi untuk Cegah Stunting

Komunitas dan Ormas Dinilai Kunci Edukasi Gizi untuk Cegah Stunting

Jakarta — Upaya pencegahan stunting dinilai tidak dapat dilakukan secara instan hanya dengan mengandalkan intervensi pemerintah. Gerakan masyarakat berbasis akar rumput, komunitas, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) disebut menjadi faktor penting untuk membangun kesadaran gizi di tengah masyarakat.

Sosiolog Universitas Indonesia Nadia Yovanni menyatakan organisasi dan gerakan berbasis masyarakat memiliki posisi strategis dalam peningkatan gizi karena mampu menjangkau keluarga hingga lingkungan sosial. “Peran organisasi masyarakat itu besar untuk mengedukasi tentang gizi pada masyarakat,” kata Nadia dalam keterangan tertulis, Minggu, 28 Juni 2026.

Namun, Nadia menekankan efektivitas edukasi gizi sangat bergantung pada kapasitas para penggeraknya. Organisasi yang terlibat dalam pendampingan masyarakat perlu memastikan kader dan anggotanya memiliki pemahaman gizi yang benar sebelum menyampaikan edukasi kepada warga. “Jadi besar sebenarnya peran organisasi masyarakat, tapi perlu diingat kader atau anggotanya sendiri itu harus punya literasi gizi yang benar,” ujarnya.

PP Aisyiyah dan Muslimat NU disebut sebagai dua organisasi kemasyarakatan yang aktif mendorong peningkatan literasi gizi. Keduanya mengedukasi masyarakat, termasuk meluruskan persepsi keliru tentang konsumsi kental manis.

Inisiatif tersebut dinilai penting karena masih ada masyarakat yang menganggap kental manis sebagai susu atau menjadikannya pengganti susu pertumbuhan anak. Survei Universitas Islam Bandung menunjukkan 67,6 persen balita mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu pertumbuhan. Dari sisi kandungan, kental manis disebut mengandung 50 persen gula dan hanya 1–3 gram protein per takaran saji.

Dengan komposisi tersebut, kental manis tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak dalam masa pertumbuhan. Karena itu, penggunaannya sebagai pengganti susu dinilai berisiko tidak mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Ketua Majelis Kesehatan Pengurus Pusat Aisyiyah (Makes PPA) Warsiti mengatakan organisasinya berfokus pada pemberdayaan perempuan dan anak, sehingga isu gizi menjadi perhatian. “Karena itu lah kita memberi perhatian lebih terhadap isu gizi, bahwa pemenuhan gizi harus jadi perhatian kita bersama,” ujar Warsiti.

Menurut Warsiti, Aisyiyah melakukan edukasi hingga tingkat akar rumput dan melibatkan kampus serta akademisi melalui penelitian dan survei untuk memahami persoalan mendasar penggunaan kental manis sebagai pengganti susu untuk anak. “Aisiyah bersama kader-kader di seluruh Indonesia bekerja sampai ke akar rumput, memperkuat peran keluarga, komunitas dan masyarakat. Kolaborasi menjadi kunci,” jelasnya.

Nadia menilai peran ormas sama pentingnya dengan pemerintah dalam mendorong perubahan perilaku masyarakat terkait pemenuhan gizi keluarga. “Organisasi seperti Aisyiyah ini, di belakang dia adalah kepentingan masyarakat. Salah satu perannya adalah mengedukasi masyarakat,” tuturnya.

Ia menambahkan persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga pendidikan dan proses sosialisasi yang diterima seseorang sejak dalam keluarga. Karena itu, perbaikan status gizi anak dinilai tidak cukup hanya melalui bantuan pangan, melainkan juga penguatan pemahaman berkelanjutan mengenai pola makan sehat dan gizi seimbang.

Nadia menegaskan keluarga merupakan agen sosialisasi pertama yang menentukan kualitas pemahaman gizi seorang anak. “Agen sosialisasi pertama itu adalah keluarga. Jika keluarganya tidak punya literasi gizi yang bagus, ya yang penting hidup. Dia tidak peduli apakah di makanan itu perlu ada protein, perlu ada karbohidrat, dan bagaimana komposisinya,” ujarnya.

Selain ormas, sejumlah komunitas seperti Boss Mama, Rangkul Foundation, dan Komunitas Relawan Samadua juga terlibat dalam edukasi gizi untuk ibu dan balita, terutama bagi korban bencana di Sumatra. Mereka menyalurkan bantuan pangan, melakukan advokasi, pendampingan intensif, serta melatih kader lokal untuk mengenali dan menangani persoalan gizi di lingkungan masing-masing.

Pendekatan berbasis komunitas ini dinilai dapat melengkapi program pemerintah karena menyentuh aspek perubahan perilaku secara langsung. Dengan jaringan yang mengakar hingga tingkat desa dan kedekatan dengan warga, ormas dan komunitas dianggap dapat menyampaikan pesan kesehatan dengan lebih efektif dan mudah dipahami.