BERITA TERKINI
Ketika Makan Sehat Terasa Mewah bagi Mahasiswa dan Kelompok Berpenghasilan Menengah ke Bawah

Ketika Makan Sehat Terasa Mewah bagi Mahasiswa dan Kelompok Berpenghasilan Menengah ke Bawah

Mi instan kerap menjadi andalan mahasiswa saat pengeluaran menipis di akhir bulan. Di sekitar kos-kosan, warung makan dengan menu nasi dan lauk sederhana biasanya lebih ramai dibandingkan penjual buah segar. Situasi ini bukan semata karena mahasiswa tidak memahami pentingnya makan sehat. Banyak yang mengetahui tubuh membutuhkan sayur, buah, dan protein yang cukup, tetapi keterbatasan biaya, waktu, serta pilihan makanan sering menghambat penerapannya.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2014 memperkenalkan pedoman “Isi Piringku” sebagai panduan makan bergizi seimbang. Setengah piring dianjurkan berisi sayur dan buah, sementara setengah lainnya terdiri dari protein dan karbohidrat. Secara konsep, pedoman ini dinilai masuk akal. Namun, muncul pertanyaan: apakah semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari?

Pertanyaan tersebut mengemuka karena persoalan gizi tidak hanya berkaitan dengan pilihan individu. Kemampuan untuk makan sehat dipengaruhi kondisi ekonomi, lingkungan tempat tinggal, akses terhadap pangan bergizi, serta kebiasaan yang terbentuk sejak lama. Ketika harga buah dan sayur meningkat sementara makanan tinggi karbohidrat lebih mudah dijangkau, pola makan sehat perlahan terasa seperti kemewahan bagi sebagian kelompok masyarakat.

Gambaran ini tercermin pada data konsumsi nasional. Badan Pangan Nasional mencatat lebih dari 96 persen masyarakat Indonesia masih kurang mengonsumsi sayur dan buah. Pada 2023, rata-rata konsumsi sayur dan buah tercatat sekitar 240,5 gram per kapita per hari, masih di bawah target pemerintah.

Pedoman “Isi Piringku” dirancang untuk mendorong pola makan yang lebih beragam dan seimbang agar kebutuhan gizi terpenuhi. Dalam jangka panjang, pola makan ini diharapkan membantu menekan berbagai persoalan kesehatan di Indonesia, mulai dari kekurangan gizi hingga penyakit tidak menular. Namun, tantangan muncul ketika panduan ideal bertemu realitas sehari-hari, terutama bagi kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.

Bagi sebagian orang, menentukan menu bukan terutama soal memilih yang paling bergizi, melainkan yang paling mungkin dibeli. Saat harga kebutuhan pokok naik, pertimbangan utama sering bergeser pada bagaimana makanan bisa mengenyangkan seluruh anggota keluarga dengan biaya terbatas.

Kondisi serupa juga terlihat di kalangan mahasiswa yang tinggal di kos. Berdasarkan pengamatan penulis dalam naskah asli, tidak sedikit mahasiswa lebih sering mengonsumsi mi instan, makanan cepat saji, atau lauk sederhana karena lebih terjangkau dan mudah diperoleh. Sementara itu, buah, sayur, dan sumber protein tertentu kerap dipandang sebagai pengeluaran tambahan yang bisa ditunda. Fenomena ini menunjukkan pengetahuan tentang gizi seimbang tidak selalu sejalan dengan kemampuan untuk menerapkannya.

Meski faktor ekonomi berpengaruh, persoalan ini tidak berhenti di sana. Ada faktor lain yang turut membentuk pilihan makan, seperti kebiasaan yang sudah mengakar, tingkat pemahaman gizi, serta kemudahan mengakses makanan tertentu. Badan Pangan Nasional pada 2023 mencatat rendahnya konsumsi buah dan sayur dipengaruhi berbagai hal, mulai dari edukasi, gaya hidup, hingga daya beli. Dalam kondisi keuangan terbatas, makanan sumber karbohidrat sering menjadi pilihan utama karena dianggap lebih mengenyangkan dan lebih terjangkau dibanding membeli buah atau sayuran secara rutin.

Lingkungan sekitar juga menentukan. Di banyak kawasan perkotaan, minimarket, gerai makanan cepat saji, atau produk instan lebih mudah dijumpai dibanding pilihan makanan sehat dengan harga terjangkau. Akibatnya, makanan praktis menjadi bagian dari rutinitas. Bukan berarti masyarakat mengabaikan kesehatan, tetapi pilihan yang tersedia sering kali mengarah pada makanan yang cepat, murah, dan mudah didapat. Ketika harus memilih antara opsi yang praktis dengan opsi yang lebih sehat tetapi membutuhkan biaya dan usaha lebih, pilihan pertama kerap dianggap paling realistis.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Dalam naskah yang sama disebutkan bahwa di Amerika Serikat konsumsi makanan cepat saji masih tinggi meski kampanye hidup sehat berlangsung bertahun-tahun. Sejumlah penelitian menunjukkan keputusan memilih makanan dipengaruhi bukan hanya oleh harga, tetapi juga kenyamanan, kecepatan, dan kebiasaan sehari-hari. Hal ini menggambarkan tantangan mewujudkan pola makan sehat sebagai persoalan yang kompleks.

Dampaknya dinilai tidak sepele. Pola makan tidak seimbang dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan. Di satu sisi, masih ada kasus kekurangan gizi yang membuat tubuh lebih rentan terhadap penyakit. Di sisi lain, angka obesitas meningkat dan menjadi faktor risiko penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan stroke. Situasi ini menegaskan bahwa persoalan gizi tidak hanya tentang apa yang dimakan hari ini, tetapi juga berkaitan dengan kualitas hidup di masa depan.

Pada akhirnya, isu gizi tidak dapat dipandang semata-mata sebagai tanggung jawab individu. Masyarakat perlu didorong memahami pentingnya pola makan sehat, tetapi edukasi saja tidak cukup ketika ekonomi, akses pangan, dan lingkungan masih menjadi hambatan. Ajakan mengonsumsi lebih banyak buah, sayur, dan protein perlu disertai upaya agar pangan bergizi benar-benar dapat dijangkau semua kalangan.

Pedoman “Isi Piringku” memberi gambaran pola makan ideal. Namun, bagi mereka yang harus menghitung pengeluaran harian, memenuhi komposisi tersebut tidak selalu mudah. Dalam kondisi demikian, pilihan makanan sering ditentukan oleh apa yang tersedia dan mampu dibeli, bukan semata oleh apa yang paling sehat. Karena itu, pembahasan gizi seimbang dinilai perlu melampaui seruan hidup sehat, dengan perhatian pada pemerataan akses terhadap makanan bergizi agar tidak hanya dinikmati oleh mereka yang mampu membelinya.