Nama “Banana Split” kembali ramai dibicarakan.
Bukan karena inovasi teknologi pangan, bukan pula karena sensasi ekstrem.
Ia naik ke permukaan karena satu hal yang sering luput dihitung: ingatan.
Di tengah tren kuliner yang berganti cepat, ada menu yang justru dicari karena pernah hadir pada masa tertentu.
Orang mencarinya untuk pulang, setidaknya sebentar, ke versi diri mereka yang lebih sederhana.
-000-
Isu yang Membuatnya Menjadi Tren
Isunya sederhana, tetapi berlapis makna.
D’Crepes menghadirkan kembali menu Banana Split yang sempat menghilang dari daftar sajian.
Pengumuman itu disampaikan dalam perayaan 30 tahun perjalanan D’Crepes.
Acara digelar di Plaza Senayan, Jakarta, pada Senin (27/7/2026).
Dalam momentum yang sama, D’Crepes juga memperkenalkan logo baru.
Ini menandai babak baru setelah tiga dekade hadir di Indonesia.
Di permukaan, ini berita kuliner.
Namun, di bawahnya, ini kabar tentang cara masyarakat memelihara kenangan di zaman serba baru.
-000-
Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Menjadi Tren
Pertama, Banana Split adalah pemicu memori kolektif.
Orang tidak hanya mengingat rasa, tetapi juga suasana: akhir pekan bersama keluarga, pulang sekolah, atau berjalan di pusat perbelanjaan.
Menu yang hilang lalu kembali bekerja seperti tombol putar ulang.
Ia mengundang orang bercerita, dan cerita adalah bahan bakar percakapan digital.
Kedua, momen 30 tahun memberi bobot emosional.
Angka tiga dekade membuat orang menilai ulang perjalanan waktu.
Brand yang bertahan lama sering diasosiasikan dengan “teman lama” yang setia.
Ketika teman lama berubah logo dan menghidupkan menu klasik, publik merasa ikut menjadi bagian sejarahnya.
Ketiga, ada kontras kuat dengan tren kuliner yang cepat usang.
Di era menu viral yang datang dan pergi, kembalinya menu lama terasa seperti perlawanan halus.
Ia menawarkan kenyamanan, bukan kejutan.
Di tengah banjir pilihan, kenyamanan justru menjadi komoditas yang dicari.
-000-
Banana Split Sebagai Bahasa Kenangan
Dalam berita ini, D’Crepes menyebut nostalgia sebagai sesuatu yang ingin dihidupkan kembali.
Nostalgia tidak selalu berarti menolak masa kini.
Sering kali, ia adalah cara mengatur napas.
Orang hidup dengan ritme yang kian padat.
Kuliner yang akrab memberi jeda, seperti lagu lama yang diputar di perjalanan pulang.
Banana Split versi D’Crepes memadukan crepes, es krim, potongan pisang, saus cokelat, dan pelengkap lain.
Komposisi itu penting, karena detail adalah pintu masuk memori.
Yang dirindukan bukan sekadar manisnya.
Yang dirindukan adalah peta kecil tentang masa, tempat, dan orang-orang yang pernah hadir.
-000-
Di Balik Menu Klasik, Ada Strategi Bertahan
D’Crepes berdiri pada 1996.
Dalam perjalanannya, ia berkembang dari sebuah gerai menjadi jaringan yang kini hadir di lebih dari 145 outlet di berbagai kota Indonesia.
Angka ini menunjukkan daya tahan.
Namun daya tahan tidak lahir dari diam.
Perusahaan memperkenalkan logo baru sebagai penyegaran identitas visual.
Tujuannya jelas: tetap relevan dengan perkembangan zaman, tanpa meninggalkan karakter yang melekat.
Kembalinya Banana Split berada dalam logika yang sama.
Ia bukan sekadar “menu tambahan,” melainkan pernyataan tentang akar.
Di pasar yang bising, akar sering menjadi penanda yang paling mudah dikenali.
-000-
Riset yang Relevan: Nostalgia, Emosi, dan Perilaku Konsumen
Riset psikologi banyak membahas nostalgia sebagai emosi yang kompleks.
Ia bisa menghadirkan kehangatan, rasa memiliki, dan kedekatan sosial.
Dalam literatur psikologi, nostalgia kerap dipahami sebagai cara manusia menjaga kontinuitas identitas.
Ketika hidup berubah cepat, orang mencari narasi yang membuat dirinya tetap “utuh.”
Dalam konteks konsumsi, nostalgia sering meningkatkan keterikatan pada merek.
Produk yang memicu kenangan dapat terasa lebih bermakna dibanding produk yang hanya menawarkan kebaruan.
Di ranah pemasaran, ini sering dibahas sebagai nostalgia marketing.
Gagasan utamanya: ingatan bukan sekadar latar, melainkan bagian dari nilai yang dibeli.
Namun penting membedakan antara memori yang tulus dan romantisasi berlebihan.
Nostalgia yang sehat membantu orang merasa terhubung.
Nostalgia yang berlebihan bisa membuat orang menutup mata dari kebutuhan masa kini.
-000-
Isu Besar Indonesia: Memori Kolektif di Tengah Modernisasi
Kembalinya Banana Split terasa remeh jika dilihat sekilas.
Tetapi ia menyentuh isu besar Indonesia: bagaimana masyarakat menegosiasikan modernisasi.
Kota-kota Indonesia berubah cepat.
Pusat perbelanjaan berganti wajah, ruang publik bergeser fungsi, dan ritme keluarga ikut berubah.
Di tengah perubahan itu, makanan menjadi penanda yang mudah dipegang.
Ia terjangkau, bisa diulang, dan bisa dibagikan.
Karena itu, nostalgia kuliner sering muncul saat orang merasa ruang hidupnya makin asing.
Menu klasik seperti Banana Split menjadi semacam jangkar.
Bukan untuk menolak masa depan, tetapi untuk memastikan masa lalu tidak hilang tanpa pamit.
-000-
Logo Baru dan Pertanyaan tentang Identitas
Logo baru D’Crepes adalah bagian penting dari cerita ini.
Identitas visual tidak hanya soal desain.
Ia adalah janji tentang pengalaman.
Ketika sebuah merek mengubah logo, publik sering bertanya: apakah rasanya masih sama.
Pertanyaan itu bukan semata soal lidah.
Itu soal kepercayaan.
D’Crepes menempatkan pembaruan dan nostalgia dalam satu panggung.
Seolah ingin berkata: kita bergerak, tetapi tidak memutus.
Dalam lanskap bisnis, ini adalah pertaruhan yang halus.
Jika terlalu berubah, ia kehilangan pelanggan lama.
Jika terlalu menoleh ke belakang, ia berisiko tertinggal.
-000-
Referensi Luar Negeri: Ketika Menu Lama Kembali
Fenomena “menu kembali” bukan hanya terjadi di Indonesia.
Di berbagai negara, merek makanan cepat saji dan jaringan ritel kerap menghidupkan produk lama untuk merespons kerinduan publik.
Beberapa jaringan internasional pernah mengembalikan item musiman atau produk yang sempat dihentikan.
Biasanya, respons publik ditandai antrean, ulasan, dan percakapan media sosial.
Pola yang sama terlihat: orang merasa menjadi bagian dari “komunitas ingatan.”
Di saat yang sama, ada pelajaran penting.
Produk lama yang kembali sering diuji dengan standar baru.
Generasi yang dulu menyukai akan membandingkan rasa dengan ingatannya.
Generasi baru akan menilai tanpa beban nostalgia.
Di titik ini, kualitas pengalaman menentukan apakah tren bertahan atau hanya lewat.
-000-
Kontemplasi: Mengapa Kita Menyukai yang Pernah Ada
Kita sering mengira hidup bergerak lurus ke depan.
Namun, emosi manusia bergerak melingkar.
Yang lama kadang kembali bukan karena dunia kekurangan hal baru.
Ia kembali karena manusia butuh rasa aman.
Di masa ketika banyak hal terasa sementara, sesuatu yang “dikenal” menjadi tempat bernaung.
Banana Split yang sempat hilang lalu hadir lagi mengajarkan satu hal.
Hilang tidak selalu berarti selesai.
Dan kembali tidak selalu berarti mundur.
Kembali bisa berarti merawat, menata ulang, dan memberi konteks baru.
-000-
Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik bisa menikmatinya sebagai perayaan memori, tanpa perlu mengubahnya menjadi kultus.
Datang, mencicipi, berbagi cerita, lalu pulang dengan kesadaran bahwa kenangan terbaik tetap hidup di relasi.
Kedua, pelaku usaha bisa belajar bahwa inovasi tidak selalu berarti memutus masa lalu.
Merawat menu klasik dapat menjadi strategi, asalkan kualitas dijaga dan komunikasi jujur.
Ketiga, ruang publik dan media sebaiknya membaca tren ini sebagai sinyal sosial.
Kerinduan pada hal-hal sederhana sering muncul ketika masyarakat lelah oleh percepatan.
Itu bisa menjadi pengingat untuk memperkuat ruang kebersamaan.
Baik di keluarga, sekolah, maupun kota.
Keempat, konsumen patut kritis pada dirinya sendiri.
Apakah kita membeli rasa, atau membeli pelarian.
Pertanyaan itu tidak menghakimi.
Ia membantu kita menempatkan nostalgia pada porsi yang menyehatkan.
-000-
Penutup
Kembalinya Banana Split di D’Crepes adalah kisah kecil yang memantulkan hal besar.
Tentang waktu yang bergerak, identitas yang berubah, dan manusia yang tetap mencari rumah dalam rasa.
Di Plaza Senayan, sebuah menu lama kembali dihidangkan.
Namun yang sesungguhnya disajikan adalah kesempatan untuk mengingat, lalu melangkah lagi.
Karena pada akhirnya, masa lalu yang sehat bukan yang kita tinggali.
Melainkan yang kita peluk seperlunya, agar kita berani menatap hari esok.
“Kita tidak bisa kembali ke awal, tetapi kita bisa memulai dari sekarang dan membuat akhir yang berbeda.”