BERITA TERKINI
Japanese Manicure, Tren Perawatan Kuku Natural yang Mengilap Tanpa Cat

Japanese Manicure, Tren Perawatan Kuku Natural yang Mengilap Tanpa Cat

Tren kecantikan kuku terus berganti, mulai dari nail art berwarna mencolok hingga ekstensi kuku panjang. Namun belakangan, perhatian justru tertuju pada tampilan yang jauh lebih sederhana: kuku bersih, rapi, dan berkilau tanpa lapisan cat. Gaya inilah yang ditawarkan Japanese manicure, teknik perawatan asal Jepang yang kini ramai dibicarakan di media sosial.

Japanese manicure dikenal sebagai ritual perawatan kuku tradisional yang berfokus pada pemulihan dan penguatan kuku alami. Teknik utamanya menggunakan metode gosok atau buffing khusus untuk menghasilkan kilau sehat pada permukaan kuku tanpa menggunakan cairan cat kuku.

Menurut keterangan yang dikutip dari Vogue, teknik ini dipopulerkan oleh merek asal Jepang, P.Shine, yang mematenkan metode buffing dua langkah. Prosesnya memadukan pasta bernutrisi tinggi dan serbuk pelindung, lalu diaplikasikan dengan alat penggosok khusus berbahan kulit rusa.

Bahan yang digunakan juga disebut berbasis kandungan alami. Pasta yang digosokkan ke kuku mengandung tanah liat diatomaseus yang kaya fosil alga untuk menutrisi, sementara serbuk kunciannya terbuat dari lilin lebah (beeswax) untuk menyegel kelembapan sekaligus menciptakan kilau yang tahan lebih lama. Hasil akhirnya menyerupai efek top coat bening, meski kuku tetap polos tanpa lapisan kimia cat.

Perawatan ini kerap disalahartikan sebagai “Japanese gel”. Padahal, seperti dijelaskan Vera Maximova—diamond nail technician di Gorgeous Gorgona New York City—Japanese gel merujuk pada cat kuku gel premium produksi Jepang, sedangkan Japanese manicure sistem P.Shine tidak melibatkan kuas cat maupun proses pengeringan dengan lampu UV.

Dikutip dari Cosmopolitan UK, session and celebrity manicurist Sophia Stylianou menambahkan bahwa perawatan ini dirancang untuk memperkuat struktur kuku dan mendukung kesehatan kuku dengan bantuan mineral laut. Karena tidak memakai lampu UV dan tidak memerlukan proses penghapusan dengan perendaman aseton, metode ini disebut mengurangi risiko kuku menjadi tipis, retak, atau terkelupas parah.

Popularitas Japanese manicure juga didorong oleh manfaatnya yang bersifat restoratif, bukan sekadar mempercantik sementara. Dikutip dari Vogue, Darya Kholodova—expert nail technician sekaligus cofounder Darlings Beauty Lab New York City—menyebut keunggulan utamanya meliputi kilau sehat yang tampak instan, tampilan kuku yang terlihat bersih, serta waktu pengerjaan di salon yang relatif lebih singkat.

Stylianou menjelaskan kombinasi lilin lebah dan pasta mineral laut bekerja seperti “vitamin” yang mengunci kelembapan, membantu mengurangi kuku mudah patah, serta memperbaiki tekstur kuku yang bergelombang. Karena itu, perawatan ini kerap dipilih oleh mereka yang kukunya rapuh atau rusak akibat terlalu sering terpapar bahan kimia, termasuk dari gel extension.

Japanese manicure juga dinilai cocok bagi orang yang menginginkan tampilan natural dan perawatan yang minim langkah lanjutan. Meski begitu, ada catatan penting sebelum mencobanya. Kholodova menyarankan agar seseorang yang baru melepas cat gel atau kuku palsu memberi jeda sekitar dua hingga tiga minggu sebelum menjalani Japanese manicure. Alasannya, proses buffing pada kuku yang masih terlalu tipis dapat memicu rasa linu, tidak nyaman, dan membuat hasil kilau kurang maksimal.

Soal daya tahan, efek kilau yang dihasilkan umumnya bertahan sekitar dua minggu, tergantung intensitas aktivitas tangan sehari-hari. Maximova menjelaskan kilau dari lapisan lilin lebah akan memudar perlahan tanpa meninggalkan noda, sehingga jadwal perawatan ulang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Untuk membantu mempertahankan hasilnya, Stylianou menyarankan penggunaan minyak kutikula (cuticle oil) setiap malam. Dengan metode ini, pemilik kuku juga tidak perlu menghadapi masalah cat yang mengelupas (chipping) atau proses penghapusan yang rumit, karena tidak ada lapisan pewarna yang digunakan sejak awal.