Media sosial kembali diramaikan oleh kemunculan istilah baru, yakni aura farming. Istilah ini menjadi perbincangan luas setelah sebuah video TikTok dari ajang tradisional Pacu Jalur di Riau viral, menampilkan seorang anak laki-laki berdiri di ujung perahu dengan gaya tenang yang menyita perhatian.
Dalam video tersebut, anak itu tampak minim gerakan, namun beberapa kali melambai, meniupkan ciuman, dan mempertahankan ekspresi datar seolah sedang menyapa penggemar. Aksi yang terlihat sederhana ini justru memunculkan kesan kuat bagi warganet dan kemudian dikaitkan dengan istilah aura farming dalam budaya digital.
Secara harfiah, “aura” merujuk pada kesan keren atau karisma yang terpancar dari seseorang. Sementara “farming” berarti menanam atau membangun sesuatu secara perlahan dan disengaja. Dari gabungan keduanya, aura farming dipahami sebagai upaya sadar untuk menampilkan diri sebagai sosok yang mengesankan atau keren—namun tanpa terlihat seperti sedang berusaha keras.
Dalam penggunaannya di media sosial, seseorang disebut sedang melakukan aura farming ketika melakukan tindakan yang tampak biasa, tetapi meninggalkan kesan mendalam atau vibes kuat bagi orang lain. Contohnya, duduk tenang namun tetap mencuri perhatian, atau menolong orang lain dengan cara yang terlihat elegan tanpa mencari pujian berlebihan.
Tren ini semakin meluas setelah video Rayyan Arkan Dikha, anak berusia 11 tahun dari Riau, beredar luas di TikTok. Dalam rekaman tersebut, Rayyan berdiri tegak di bagian depan perahu panjang saat mengikuti lomba Pacu Jalur.
Rayyan diketahui berperan sebagai Togak Luan, yakni penari perahu yang bertugas membakar semangat para pendayung. Namun yang membuat aksinya viral adalah cara ia berdiri anggun di tengah riuh penonton, dengan ekspresi datar yang dinilai warganet memancarkan “aura” kuat.

