Hari Gizi Nasional (HGN) diperingati setiap 25 Januari sebagai momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemenuhan gizi. Pada 2026, peringatan ini memasuki usia ke-66 dan kembali menekankan peran gizi seimbang sebagai fondasi kesehatan masyarakat.
HGN berawal dari tonggak pembangunan sumber daya manusia di bidang gizi di Indonesia. Peringatan ini berkaitan dengan berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan pada 25 Januari 1951. Lembaga pendidikan tersebut didirikan oleh Lembaga Makanan Rakyat (LMR) sebagai respons atas kebutuhan tenaga terlatih yang mampu memberikan edukasi gizi kepada masyarakat luas. Sejak saat itu, pendidikan gizi berkembang dan menyebar ke berbagai perguruan tinggi di Indonesia, baik negeri maupun swasta, sehingga melahirkan tenaga profesional di bidang gizi.
Peringatan HGN pertama kali diselenggarakan oleh LMR pada pertengahan dekade 1960-an. Seiring perubahan struktur kelembagaan pemerintah, pelaksanaannya kemudian dilanjutkan oleh Direktorat Gizi Masyarakat di bawah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sejak 1970-an hingga kini.
Berdasarkan keterangan Kementerian Kesehatan, HGN diposisikan sebagai momentum strategis untuk menumbuhkan kepedulian bersama serta memperkuat komitmen lintas sektor dalam pembangunan gizi masyarakat. Tujuan akhirnya adalah membentuk bangsa yang sehat, unggul, dan berdaya saing melalui penerapan prinsip gizi seimbang serta penguatan sistem produksi pangan yang berkelanjutan.
Meski berbagai upaya telah dilakukan, tantangan permasalahan gizi di Indonesia masih menjadi perhatian. Persoalan gizi kurang dan stunting disebut masih mendominasi kondisi kesehatan masyarakat, meski trennya menunjukkan penurunan. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) periode 2013 hingga 2018 mencatat prevalensi gizi kurang turun dari 19,6 persen menjadi 17,7 persen, sementara angka stunting turun dari 37,2 persen menjadi 30,8 persen. Namun capaian tersebut masih berada di atas ambang batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sehingga diperlukan upaya yang lebih intensif dan berkelanjutan.
Dalam peringatan HGN ke-66 tahun 2026, kampanye nasional mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dengan slogan “Sehat Dimulai dari Piringku”. Tema ini mencerminkan fokus untuk mendorong optimalisasi pangan lokal sebagai sumber nutrisi bagi masyarakat, mengingat Indonesia memiliki keragaman sumber karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral dari hasil pertanian, perikanan, serta peternakan lokal.
Sementara itu, slogan “Sehat Dimulai dari Piringku” menekankan ajakan yang bersifat personal dan aplikatif. Pesan utamanya, upaya menjaga kesehatan dapat dimulai dari kebiasaan harian dalam memilih makanan, dengan memastikan isi piring mengandung unsur gizi seimbang dan berasal dari sumber pangan yang sehat.
Selain tema dan slogan, identitas visual peringatan juga disiapkan melalui Logo Hari Gizi Nasional 2026. Logo tersebut tersedia dalam format PNG dan dapat digunakan untuk berbagai kegiatan peringatan, baik pada media cetak maupun digital, termasuk spanduk, poster, konten media sosial, dan bahan edukasi. Logo dapat diunduh melalui laman: https://ayosehat.kemkes.go.id/kumpulan-media-hari-gizi-nasional-2026.
Hari Gizi Nasional juga kerap menjadi ruang refleksi untuk memperkuat edukasi dan advokasi gizi seimbang. Melalui pesan yang disampaikan secara naratif maupun visual, peringatan ini diharapkan mendorong perubahan kebiasaan makan yang lebih sehat dari tingkat individu hingga komunitas.
Dalam informasi terkait HGN, Prof. Poorwo Soedarmo dikenal sebagai Bapak Gizi Indonesia atas kontribusinya dalam membangun fondasi keilmuan dan kelembagaan gizi di Tanah Air. Adapun tujuan utama peringatan HGN adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asupan gizi yang cukup dan seimbang guna mencegah stunting dan malnutrisi serta mendorong pola hidup sehat.

