BERITA TERKINI
Harga Bumbu Dapur dan Bahan Pokok di Banda Aceh Naik, Sejumlah Komoditas Mulai Langka

Harga Bumbu Dapur dan Bahan Pokok di Banda Aceh Naik, Sejumlah Komoditas Mulai Langka

Banda Aceh — Harga sejumlah bahan pokok dan bumbu dapur di Pasar Al Mahirah, Kota Banda Aceh, mulai mengalami kenaikan. Ketersediaan beberapa komoditas juga dilaporkan menipis, bahkan ada yang kosong.

Kondisi tersebut disampaikan pedagang bumbu dapur Zainuddin dan Rian, serta penjual bahan pokok Fahri, pada Sabtu (29/11/2025). Mereka menilai gangguan distribusi akibat banjir dan longsor di sejumlah kabupaten/kota di Aceh menjadi faktor utama yang memengaruhi pasokan ke Banda Aceh.

Zainuddin mengatakan distribusi barang tersendat karena akses jalan tidak dapat dilalui kendaraan. “Semua masih kosong barang karena belum bisa masuk barang akibat transportasi putus,” ujarnya.

Menurut Zainuddin, pasokan terakhir kebutuhan dapur masuk ke pasar pada Rabu (26/11/2025). Setelah itu, suplai terhenti seiring kondisi sejumlah jalur yang terdampak banjir dan longsor. Situasi tersebut membuat harga cabai berfluktuasi mengikuti ketersediaan, sementara permintaan tetap tinggi.

Ia mencontohkan kebutuhan cabai yang seharusnya bisa mencapai dua ton, namun yang tersedia hanya sekitar 200 kilogram. Hal itu, kata dia, mendorong harga melonjak. Di lapaknya, cabai merah dijual sekitar Rp150.000 hingga Rp180.000 per kilogram. Sementara cabai hijau, cabai rawit, cabai bencong, dan cabai nano dilaporkan kosong.

Selain cabai, Zainuddin menyebut beberapa komoditas lain yang tidak tersedia, seperti tomat, timun, wortel, dan kentang.

Kelangkaan dan kenaikan harga juga diakui Rian, pedagang bumbu dapur lainnya. Ia mengatakan cabai merah dijual Rp180.000 hingga Rp200.000 per kilogram, bahkan ada yang mencapai Rp250.000 per kilogram. Cabai hijau disebut berada pada harga tertinggi Rp150.000 per kilogram. Adapun cabai rawit dijual Rp150.000 hingga Rp200.000 per kilogram dan cabai nano Rp100.000 hingga Rp150.000 per kilogram.

Rian menambahkan sejumlah bahan dapur tidak tersedia, di antaranya cabai bencong, wortel, kentang, sop, dan kol. Ia juga menyebut tomat banyak yang kosong. “Tomat kebanyakan kosong, yang ada masuk dari Sigli. Itu pun dijual Rp30.000 per kilogram,” kata Rian.

Sementara itu, Fahri menyampaikan telur ayam mulai langka dalam beberapa hari terakhir. Ia mengatakan stok telur ayam di tokonya sudah tidak tersedia. “Telur kita tidak ada hingga saat ini. Karena di pasaran memang lagi kosong,” ujarnya.

Fahri menyebut harga terakhir telur ayam sempat dijual Rp60.000 per papan sebelum stok menghilang. Untuk telur bebek, ia masih menjual Rp3.200 per butir, sedangkan telur puyuh Rp45.000 per papan.

Di sisi lain, Fahri menilai sejumlah bahan pokok seperti gula, minyak goreng, tepung, kacang-kacangan, dan beras masih relatif stabil, namun berpotensi naik karena ketersediaan mulai menipis. Gula disebut berada di Rp18.000 per kilogram, minyak goreng curah Rp19.000 per kilogram, dan Minyakita Rp17.000 per liter.

Untuk tepung, Fahri mencatat tepung kanji naik menjadi Rp10.000 per kilogram dari sebelumnya Rp9.000 per kilogram. Tepung jagung berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp11.000 per kilogram. Kacang tanah naik dari Rp28.000 menjadi Rp38.000 per kilogram, sedangkan kacang hijau menjadi Rp30.000 per kilogram dari sebelumnya Rp22.600 per kilogram.

Adapun harga beras disebut masih stabil, dengan ukuran lima kilogram Rp80.000 per sak, 10 kilogram Rp160.000 per sak, dan 15 kilogram Rp225.000 per sak.

Fahri memperkirakan kenaikan harga bisa meluas apabila hambatan distribusi belum teratasi. “Ini kemungkinan akan naik semua, mungkin kalau jalan masih terhambat, khususnya distribusi sembako,” ujarnya.