TANGERANG SELATAN/JAKARTA SELATAN — Kenaikan harga bawang merah hingga Rp60.000 per kilogram tidak serta-merta membuat warga berhenti membeli. Pengamatan dan wawancara di empat pasar tradisional—Pasar Jombang dan Pasar Ciputat di Tangerang Selatan, serta Pasar Kebayoran Lama dan Pasar Pondok Labu di Jakarta Selatan—pada 15 September 2026 menunjukkan permintaan bawang merah cenderung bertahan meski harga bergejolak.
Dari wawancara dengan enam pedagang dan enam konsumen, pola yang muncul relatif serupa: ketika harga naik, pembeli memang mengurangi jumlah pembelian, tetapi tidak drastis karena bawang merah dianggap bumbu wajib yang sulit diganti. Sebaliknya, saat harga turun, pembeli cenderung menambah stok dan aktivitas pasar kembali ramai.
Mengurangi porsi, bukan berhenti membeli
Siti (38), ibu rumah tangga di Pasar Jombang dengan empat anggota keluarga, mengaku memangkas belanja bawang merah dari setengah kilogram menjadi seperempat kilogram saat harga naik. Meski begitu, ia tetap membeli karena bawang merah dianggap tidak bisa ditinggalkan di dapur.
Hayati Nufus (40), PNS sekaligus ibu rumah tangga dengan enam anggota keluarga, menyampaikan hal serupa. Ia biasa membeli saat harga sekitar Rp30.000 per kilogram, namun pernah menghadapi harga yang mencapai Rp60.000. Ketika harga mahal, ia mengurangi jumlah pembelian tanpa beralih ke bahan lain.
Di Pasar Ciputat, Iklim (38) menyebut dirinya rutin membeli 1 kilogram per minggu ketika harga normal sekitar Rp35.000 per kilogram. Saat wawancara, harga sedang turun menjadi Rp28.000. Menurutnya, kenaikan harga membuat konsumsi dikurangi, tetapi tidak mendorongnya mencari pengganti bawang merah.
Penjualan turun, tapi tidak sebanding dengan lonjakan harga
Dari sisi pedagang, Deni (23) di Pasar Jombang mengatakan permintaan meningkat ketika harga turun. Ia menambah kulakan sekitar 10 kilogram setiap kali harga lebih rendah. Dedi (42), pedagang di Pasar Ciputat, juga menyebut penjualan meningkat tajam ketika harga turun.
Deni menuturkan, ketika harga naik dari Rp30.000 menjadi Rp60.000 per kilogram—naik 100 persen—penjualannya turun sekitar sepertiga, dari 30 kilogram menjadi 20 kilogram per hari. Gambaran ini menunjukkan permintaan yang cenderung inelastis, yakni pembeli tidak terlalu sensitif terhadap perubahan harga. Namun, data tersebut berasal dari satu pedagang dan satu titik waktu, sehingga belum bisa digeneralisasi untuk seluruh pasar.
Perbandingan harga di empat pasar
Catatan lapangan memperlihatkan variasi harga beli dan harga jual antarpasar, termasuk asal pasokan yang berbeda:
Di Pasar Jombang, pedagang membeli di kisaran Rp22.000–Rp24.000 per kilogram dan menjual Rp30.000–Rp35.000, dengan penjualan sekitar 20–40 kilogram per hari. Pasokan disebut berasal dari Pasar Induk Tanah Tinggi.
Di Pasar Ciputat, harga beli pedagang berada pada kisaran Rp23.000–Rp25.000 per kilogram, sementara harga jual yang tercatat Rp28.000. Asal pasokan disebut dari tengkulak di pasar induk, sedangkan angka penjualan per hari tidak disebutkan.
Di Pasar Kebayoran Lama, harga beli pedagang tercatat paling tinggi, Rp30.000–Rp42.000 per kilogram, dengan harga jual Rp35.000–Rp50.000. Penjualan harian berada di kisaran 10–30 kilogram, dengan pasokan dari Pasar Induk Kramat Jati dan pemasok langganan.
Di Pasar Pondok Labu, pedagang membeli di sekitar Rp22.000 per kilogram dan menjual Rp30.000, dengan penjualan 25–30 kilogram per hari. Pasokan disebut berasal dari Pasar Induk Bogor.
Di antara empat lokasi, Kebayoran Lama tercatat sebagai pasar dengan harga tertinggi. Namun, selisih harga tidak bisa langsung dibaca sebagai perbedaan umum antara Tangerang Selatan dan Jakarta Selatan, karena Pondok Labu—yang juga berada di Jakarta Selatan—memperlihatkan harga yang lebih mendekati pasar di Tangerang Selatan. Laporan lapangan tidak merinci penyebab perbedaan harga tersebut, selain mencatat bahwa pasokan datang dari beberapa pasar induk yang berbeda.
Satu pengecualian: tetap membeli dengan pola yang sama
Dari 12 narasumber, hanya satu yang menyatakan tidak mengubah kebiasaan belanja ketika harga bergerak. Ermawati (51), ibu rumah tangga di Pasar Pondok Labu dengan enam anggota keluarga, membeli 1 kilogram dua kali sebulan dari tukang sayur seharga Rp25.000 per kilogram. Perubahan harga tidak langsung mengubah jumlah belanjanya.
Wawancara di Pondok Labu juga mencatat pandangan bahwa pendapatan dan jumlah anggota keluarga memengaruhi konsumsi. Namun, temuan ini tidak sepenuhnya seragam jika dibandingkan dengan keterangan narasumber lain, sehingga pengaruh pendapatan terhadap permintaan bawang merah tampak berbeda antarrumah tangga.
Cuaca, panen, dan distribusi disebut memicu gejolak
Para pedagang menyampaikan faktor yang serupa terkait naik-turunnya harga, antara lain cuaca, gagal panen, musim panen, ketersediaan stok, dan biaya distribusi. Arif (47), pedagang di Pasar Pondok Labu, mengatakan harga bisa berubah setiap dua hari karena pengiriman terlambat dan stok berfluktuasi. Dedi menambahkan adanya faktor permainan harga di tingkat tengkulak. Menjelang hari besar keagamaan, Deni menyebut harga pernah menembus Rp60.000 per kilogram.
Marjin tipis dan risiko kualitas
Ketidakpastian harga berdampak pada pedagang. Deni, misalnya, membeli bawang merah di kisaran Rp23.000–Rp24.000 per kilogram dan menjual Rp30.000–Rp35.000. Marjin kotor berada sekitar Rp7.000–Rp11.000 per kilogram, belum termasuk ongkos angkut, retribusi, dan potensi susut.
Bawang yang tidak habis dijual biasanya disimpan untuk esok hari, namun ada risiko kualitas menurun. Agil (27), pedagang lain di Jombang, menyebut dirinya menaikkan harga minimal Rp5.000 per kilogram saat pasokan menipis akibat gagal panen. Deni juga menyoroti persaingan harga antarpedagang sebagai salah satu kendala.
Kualitas ikut menentukan pilihan pembeli
Selain harga, pembeli mempertimbangkan kesegaran, ukuran, dan warna. Hayati Nufus menilai bawang yang kering dan berukuran besar sebagai pilihan utama. Di Kebayoran Lama, Adi (45), pedagang makanan yang membeli 1–2 kilogram hampir setiap hari, mengatakan ia lebih memilih menghemat pemakaian daripada mengganti bahan, karena rasa masakan berpengaruh pada usahanya.
Bumbu olahan belum tentu lebih hemat
Dari enam konsumen, hanya Rani (42) di Kebayoran Lama yang mempertimbangkan beralih ke bawang merah halus atau bumbu instan saat harga mahal. Namun, catatan harga menunjukkan produk olahan tidak selalu lebih murah. Bawang kupas dijual Rp12.000–Rp15.000 per 250 gram, yang setara sekitar Rp48.000–Rp60.000 per kilogram, lebih tinggi dibanding bawang utuh yang berada di kisaran Rp28.000–Rp35.000.
Menurut temuan wawancara, peminat produk olahan lebih banyak datang dari rumah tangga yang sibuk dan usaha kuliner kecil yang mengutamakan kepraktisan, bukan dari pembeli harian dengan anggaran ketat.
Harapan harga lebih stabil
Baik pedagang maupun pembeli di keempat pasar menyampaikan harapan yang sama: harga yang lebih stabil, pasokan terjaga, dan kualitas tetap baik agar transaksi berjalan lancar. Siti menilai harga saat ini relatif mahal dan berharap ke depan kondisi lebih stabil.