BERITA TERKINI
Guru Besar FKM Unand: Perbaikan Gizi Sejak Remaja Penting untuk Cegah Stunting Antargenerasi

Guru Besar FKM Unand: Perbaikan Gizi Sejak Remaja Penting untuk Cegah Stunting Antargenerasi

Padang—Status gizi perempuan sebelum dan selama kehamilan dinilai menjadi faktor penting yang menentukan kualitas kesehatan generasi mendatang. Karena itu, upaya membangun generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting perlu dimulai jauh sebelum kehamilan, yakni sejak masa remaja.

Pernyataan tersebut disampaikan Guru Besar Bidang Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas, Prof. Dr. Azrimaidaliza, S.K.M., M.K.M., pada Rabu (8/7) di Padang.

Azrimaidaliza menjelaskan Indonesia masih menghadapi triple burden of malnutrition, yaitu stunting, kekurangan zat gizi mikro, dan obesitas. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan persoalan gizi tidak hanya terkait kekurangan asupan makanan, tetapi juga dipengaruhi beragam faktor yang saling berkaitan sepanjang siklus kehidupan.

Ia menegaskan, status gizi ibu sebelum hamil dan selama kehamilan sangat menentukan kesehatan bayi. Perempuan yang memasuki masa kehamilan dengan kondisi gizi baik disebut memiliki peluang lebih besar melahirkan bayi dengan status gizi optimal. Sebaliknya, kekurangan gizi sejak remaja dapat meningkatkan risiko anemia, Kurang Energi Kronis (KEK), bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga stunting yang dapat berlanjut pada generasi berikutnya.

Menurut Azrimaidaliza, masalah gizi pada ibu tidak muncul secara tiba-tiba saat hamil, melainkan merupakan akumulasi berbagai faktor sejak remaja. Ia menyebut pola makan yang kurang sehat, rendahnya aktivitas fisik yang seimbang, pengaruh media sosial, lingkungan keluarga, serta minimnya pemahaman mengenai gizi sebagai faktor yang berkontribusi. Karena itu, intervensi perbaikan gizi perlu dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai sektor.

Berdasarkan riset yang ditelitinya, sekitar sepertiga remaja putri di salah satu wilayah Sumatera Barat masih mengalami gizi kurang, dengan hampir 20% memiliki asupan protein yang tidak mencukupi. Kondisi tersebut dinilai berpotensi berlanjut hingga masa kehamilan apabila tidak segera ditangani, sehingga memperbesar risiko masalah kesehatan pada ibu maupun bayi.

Azrimaidaliza juga menyoroti pentingnya pemenuhan kebutuhan energi dan protein selama kehamilan. Dari penelitian kohort yang dilakukannya, ibu hamil dengan asupan energi kurang dari 1.800 kkal per hari memiliki risiko 1,7 kali lebih besar melahirkan bayi dengan berat lahir di bawah 3 kilogram. Sementara itu, asupan protein kurang dari 65 gram per hari meningkatkan risiko hingga 3,6 kali melahirkan bayi dengan panjang lahir di bawah 48 sentimeter.

Selain faktor individu, ketahanan pangan keluarga disebut menjadi penentu penting dalam pemenuhan gizi ibu hamil. Penelitian di Pesisir Selatan yang disampaikan Azrimaidaliza menunjukkan lebih dari separuh ibu hamil berada dalam kondisi rawan pangan, yang berkaitan erat dengan kondisi sosial ekonomi keluarga. Situasi tersebut berpotensi meningkatkan risiko anemia dan KEK pada ibu hamil serta berdampak pada kualitas kesehatan bayi.

Azrimaidaliza menekankan investasi terbaik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah memastikan perempuan memasuki masa kehamilan dengan status gizi yang baik. Perbaikan gizi sejak remaja hingga masa kehamilan, menurutnya, menjadi strategi penting untuk memutus rantai masalah gizi antargenerasi dan mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, tumbuh optimal, serta bebas stunting sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.