Iran dilaporkan menghadapi gelombang demonstrasi dan krisis serius pada awal Januari 2026. Aksi-aksi protes ini dipicu ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi yang memburuk, termasuk inflasi tinggi dan nilai mata uang yang terus melemah.
Demonstrasi yang semula berangkat dari tuntutan ekonomi berkembang menjadi gerakan protes nasional yang menentang rezim. Aksi tersebut menyebar ke puluhan kota di seluruh 31 provinsi, dengan banyak warga turun ke jalan.
Situasi ini disebut sebagai salah satu periode ketidakstabilan domestik terburuk di Iran dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan dari kelompok pemantau hak asasi manusia menyebutkan lebih dari 2.500 orang tewas dan puluhan ribu lainnya ditangkap dalam dua pekan terakhir. Korban dilaporkan mencakup demonstran maupun petugas keamanan.
Otoritas Iran juga dilaporkan telah menangkap lebih dari 18.000 orang dalam upaya meredam kerusuhan. Respons pemerintah digambarkan sangat kuat dan kerap brutal.
Dalam sejumlah kasus, pasukan keamanan dilaporkan menggunakan tembakan langsung terhadap massa di beberapa kota. Rumah sakit dan fasilitas medis disebut kewalahan menangani korban luka dan korban tewas akibat bentrokan.
Sejumlah laporan independen turut menggambarkan kekerasan yang masif di jalan-jalan utama, termasuk di Teheran dan Abadan, serta kota-kota lainnya.

