BERITA TERKINI
Frozen Yogurt Kerap Dianggap Lebih Sehat dari Es Krim, Ini Catatan Ahli Gizi soal Lemak, Gula, dan Topping

Frozen Yogurt Kerap Dianggap Lebih Sehat dari Es Krim, Ini Catatan Ahli Gizi soal Lemak, Gula, dan Topping

Saat cuaca terik, makanan penutup dingin seperti es krim dan frozen yogurt (froyo) kerap menjadi pilihan untuk menyegarkan tenggorokan. Di kalangan masyarakat urban dan penggiat gaya hidup sehat, froyo sering dipandang sebagai camilan yang lebih ramah diet dibanding es krim. Namun, anggapan tersebut tidak selalu tepat jika dilihat dari sisi medis dan ilmu gizi.

Sejumlah ahli gizi menilai label “lebih sehat” pada frozen yogurt tidak bisa digeneralisasi. Baik es krim maupun froyo memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga konsumen perlu memahami komposisi dan cara penyajiannya sebelum menentukan pilihan.

Secara dasar, perbedaan utama keduanya terletak pada bahan baku. Es krim umumnya dibuat dari krim susu, yang membuatnya cenderung lebih tinggi lemak jenuh. Sementara frozen yogurt menggunakan susu yang dikulturkan atau difermentasi dengan bakteri baik (probiotik), sehingga rasanya lebih asam dan secara alami memiliki kadar lemak lebih rendah.

Meski unggul dalam hal rendah lemak, frozen yogurt memiliki catatan penting yang sering luput: untuk menekan rasa asam dari yogurt fermentasi agar lebih diterima lidah banyak orang, produsen biasanya menambahkan gula dalam jumlah cukup signifikan. Dalam banyak kasus, kadar gula tambahan pada satu porsi froyo dapat setara atau bahkan lebih tinggi daripada es krim.

Tingginya asupan gula ini berisiko menjadi bumerang, terutama bagi mereka yang sedang menurunkan berat badan atau penderita diabetes yang mencari camilan “lebih sehat”.

Selain adonan dasar, faktor lain yang kerap membuat froyo tidak jauh berbeda dari es krim adalah topping. Penambahan saus cokelat, remahan biskuit, jeli, hingga permen dapat meningkatkan total kalori secara drastis, sehingga nilai “sehat” yang diharapkan dari froyo menjadi berkurang.

Para ahli gizi menekankan, pilihan yang lebih sehat bergantung pada kondisi tubuh dan tujuan kesehatan masing-masing. Jika tujuannya mengurangi lemak jenuh dan menjaga kolesterol, frozen yogurt polos tanpa lemak bisa menjadi opsi. Namun, bagi orang yang sensitif terhadap lonjakan gula darah, es krim dalam porsi kecil terkadang dinilai lebih aman dibanding froyo yang manis.

Bagi yang tetap ingin menikmati frozen yogurt sebagai bagian dari pola makan yang lebih terkontrol, ada beberapa langkah yang disarankan: memilih varian rasa original, membatasi porsi agar tidak berlebihan, serta memilih topping yang lebih sederhana seperti potongan buah segar (misalnya stroberi, kiwi, atau mangga) atau taburan kacang-kacangan tanpa garam.

Dengan memahami komposisi dan cara konsumsi, masyarakat diharapkan tidak hanya bergantung pada klaim “lebih sehat”, melainkan mampu mengelola asupan harian secara lebih bijak untuk menjaga kebugaran dalam jangka panjang.