BERITA TERKINI
Food Genomics Mulai Dilirik, Pola Makan Kian Personal Berbasis DNA

Food Genomics Mulai Dilirik, Pola Makan Kian Personal Berbasis DNA

Gaya hidup sehat kini bergerak ke arah yang lebih personal. Salah satu pendekatan yang mulai mendapat perhatian adalah food genomics atau nutrigenomik, yakni metode penyusunan pola makan berdasarkan profil DNA individu. Pendekatan ini dinilai dapat menjawab keterbatasan diet konvensional yang kerap menghasilkan respons berbeda pada tiap orang.

Food genomics merupakan terapi nutrisi berbasis genetika, di mana rekomendasi asupan disesuaikan dengan kode genetik masing-masing individu. Perbedaan gen membuat respons tubuh terhadap makanan—mulai dari metabolisme hingga potensi intoleransi—tidak sama pada setiap orang.

“Tidak ada satu pola makan yang cocok untuk semua orang. Perbedaan kode genetik mempengaruhi cara tubuh merespons nutrisi, sehingga pendekatan ini bersifat sangat personal,” ujar dr. Davie Muhamad, Sp.GK, Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Bekasi Barat, di Jakarta, kemarin.

Secara global, riset nutrigenomik terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran terhadap pencegahan penyakit dan gaya hidup sehat yang menyesuaikan kebutuhan individu. Sementara di Indonesia, pemeriksaan food genomics masih terbatas, meski penelitian terkait hubungan gen dan nutrisi disebut sudah cukup banyak.

Tes food genomics dilakukan melalui sampel darah atau air liur, dengan waktu analisis sekitar 1–2 minggu. Hasilnya kemudian diinterpretasikan dokter gizi klinik untuk menyusun rekomendasi nutrisi personal, termasuk pengaturan makronutrien, vitamin tertentu seperti vitamin D, lemak esensial omega-3, hingga rekomendasi olahraga.

Menurut dr. Davie, secara teori hasil nutrigenomik tidak berubah karena genetik seseorang bersifat tetap. Namun, penerapannya tetap perlu mempertimbangkan faktor epigenetik dan lingkungan, seperti pola hidup, stres, dan aktivitas fisik. “Karena itulah diet yang berhasil pada satu orang belum tentu efektif pada orang lain,” tambahnya.

Selain menyusun rekomendasi asupan, panel nutrigenomik juga dapat memberikan gambaran terkait potensi alergi atau intoleransi makanan. Dengan informasi tersebut, individu dapat lebih waspada terhadap asupan yang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan.

Meski demikian, dr. Davie menegaskan bahwa food genomics bukan pengganti prinsip dasar hidup sehat. Masyarakat tetap dapat memulai dari langkah sederhana, seperti menjaga pola makan teratur, tidak melewatkan waktu makan, serta memastikan komposisi makanan yang lengkap dan seimbang.

Ke depan, food genomics diproyeksikan berkembang sebagai salah satu modalitas penunjang gaya hidup sehat yang lebih presisi, dengan potensi integrasi bersama teknologi AI, big data, dan perangkat wearable. “Harapannya, food genomics dapat menjadi alat pendukung dalam menentukan pola makan yang lebih personal, sehingga berkontribusi pada perbaikan tren kesehatan masyarakat Indonesia dalam sepuluh tahun ke depan,” kata dr. Davie.