BERITA TERKINI
Flux Creative Universe klaim mampu merancang konten viral tanpa influencer besar, bahkan berani tawarkan garansi

Flux Creative Universe klaim mampu merancang konten viral tanpa influencer besar, bahkan berani tawarkan garansi

Anggapan bahwa konten viral di media sosial lahir semata karena keberuntungan atau kebetulan algoritma ditantang oleh Flux Creative Universe (FCU). Grup kreatif ini mengusung pendekatan sebaliknya: viral bisa dirancang sejak awal—mulai dari ide, narasi, hingga siapa yang mengunggah pertama kali.

CEO FCU Yohanes Auri Husen, yang akrab disapa Auri, menyebut sejumlah tren TikTok yang sempat ramai sebagai contoh konten yang tidak muncul secara organik. Ia menyinggung dance pass Dunia Fantasi, tren FOD yang menampilkan celana sebagai atasan, hingga video proposal di Seaworld Ancol yang memicu perdebatan warganet. Menurut Auri, semua itu merupakan hasil perancangan timnya.

FCU juga menonjolkan klaim berani: mereka menyatakan dapat menjamin konten masuk ke For You feed TikTok. Auri bahkan mengatakan ada skema pengembalian uang apabila target tayangan yang dijanjikan tidak tercapai. Dengan pernyataan itu, FCU menempatkan reputasinya sebagai taruhan.

Tanpa KOL, mengandalkan KOC

Alih-alih bergantung pada influencer besar atau Key Opinion Leaders (KOL), FCU mengembangkan jaringan kreator yang mereka sebut Key Opinion Creators (KOC). KOC digambarkan sebagai kreator tanpa nama besar dan jumlah pengikut minim, tetapi dinilai mampu membuat video yang terasa dekat, mudah ditiru, dan mendorong orang lain ikut membuat konten.

Menurut Auri, tujuan utama pendekatan ini bukan sekadar menjangkau audiens luas, melainkan memicu aksi. Ia mencontohkan tren FOD, yang kemudian diikuti ribuan unggahan dari pengguna TikTok lain tanpa keterlibatan selebritas. Auri menjelaskan, ketika konten utama menunjukkan performa baik, konten pendukung akan menyusul dan membantu mendorong penyebaran hingga masuk ke For You feed.

Kinerja kampanye yang diklaim

Auri menyebut strategi tersebut berdampak pada performa kampanye brand. Dalam kampanye Hidden Cimory Bites Challenge, ia mengatakan penjualan minuman meningkat di wilayah Jabodetabek selama periode kampanye, meski angka penjualannya tidak dibagikan oleh klien. Ia juga menyebut challenge Dunia Fantasi meraih hampir 60 juta views, sementara video proposal di Seaworld Ancol memicu liputan media tanpa biaya promosi tambahan karena dianggap spontan oleh warganet.

Auri memaparkan beberapa capaian kampanye yang, menurutnya, masing-masing ditargetkan meraih total 25 juta views:

Dunia Fantasi Secret Code diklaim meraih 58 juta views, ratusan ribu interaksi, dan kuota secret code dalam jumlah besar habis.

FOD Trend (Focus on Denim) disebut mencatat 15 juta views pada video utama, 93 juta views total, memicu ribuan konten buatan pengguna (user-generated content), serta menjadi trending di TikTok Indonesia selama enam hari berturut-turut.

Proposal di Seaworld diklaim memperoleh 6 juta views pada video utama, 37 juta impresi total, dan muncul di berbagai media nasional. Auri menyebut earned media value setara Rp2,8 miliar.

Hidden Cimory Bites Challenge disebut meraih 68 juta views dan viral selama satu bulan.

Auri menegaskan kampanye-kampanye tersebut dijalankan tanpa figur publik besar, tanpa endorsement artis, dan tanpa biaya KOL yang besar. Fokusnya, kata dia, adalah konten yang disusun secara presisi dan dieksekusi secara sistematis untuk mendorong awareness di media sosial.

Pergeseran lanskap: kreator kecil dan video singkat

Auri menilai lanskap media sosial mengalami pergeseran. Jika sebelumnya opini publik didominasi selebritas, lalu influencer, kini kreator biasa dinilainya semakin menentukan arah tren. Ia juga menilai format video membuat algoritma makin tidak bergantung pada siapa pengunggahnya, melainkan pada kekuatan konten dalam menarik perhatian sejak detik awal.

FCU, menurut Auri, memanfaatkan kondisi ini dengan membangun ekosistem kreator dan tim kreatif yang bergerak cepat serta memahami perilaku pengguna. Ia menekankan perbedaan pendekatan mereka: bukan sekadar membuat konten yang kebetulan viral, melainkan konten yang memang dirancang untuk viral.

Perjalanan bisnis Auri dan FCU

Auri menyebut dirinya memulai karier dari kamar tidur pada 2006 melalui Flux Design. Pada 2018 ia mendirikan Idenya Flux, lalu sejak 2021 membentuk Flux Creative Universe sebagai holding dengan belasan entitas kreatif. Ia juga menyebut salah satu investor terbesarnya adalah Deddy Corbuzier.

Meski demikian, Auri menekankan fokus utama perusahaannya adalah hasil untuk kebutuhan bisnis klien. Dengan posisi itu, FCU memosisikan diri bukan sekadar agensi kreatif, melainkan pihak yang memproduksi momentum—termasuk lewat klaim garansi pengembalian uang apabila target viralitas tidak tercapai.