LOMBOK TENGAH — Kawasan Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), didorong agar tidak hanya ramai saat ajang MotoGP berlangsung. Melalui Mandalika Street Food Festival Vol. 2, kawasan pariwisata tersebut diarahkan menjadi destinasi yang tetap hidup sepanjang tahun sekaligus memperluas peluang ekonomi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Festival yang digelar InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) di Bazar Mandalika, Kuta, Lombok Tengah, pada Jumat (9/10/2026), menjadi bagian dari rangkaian MotoGP Mandalika 2026. Kegiatan ini menghadirkan pengalaman wisata yang memadukan kuliner, budaya, dan produk lokal bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan bahwa Mandalika memiliki daya tarik yang tidak semata bertumpu pada balap motor internasional. Menurutnya, keterlibatan masyarakat, kekayaan budaya, kuliner khas, serta keramahan warga merupakan bagian penting dari kekuatan kawasan tersebut.
“Mandalika sekarang adalah milik kita bersama. Kami tidak lagi merasa sebagai tamu di rumah sendiri. Mandalika sudah menjadi milik masyarakat NTB,” ujar Iqbal.
Ia menilai MotoGP Mandalika memiliki karakter berbeda dibanding penyelenggaraan serupa di negara lain. Selain menonton balapan, wisatawan dapat menikmati produk UMKM, menyaksikan pertunjukan tari tradisional, hingga mengenal sejarah dan budaya daerah melalui museum di kawasan sirkuit.
Penguatan identitas lokal juga ditampilkan melalui museum tematik di kawasan sirkuit Mandalika. Setelah mengangkat Samalas dan Tambora pada 2025, tahun ini museum menampilkan Sekardiyu, patung kuda berusia ratusan tahun yang merupakan koleksi Museum Provinsi NTB. Unsur budaya tersebut disebut sebagai bagian dari upaya memperkenalkan sejarah dan identitas NTB kepada pengunjung dari berbagai negara.
Iqbal menekankan tantangan berikutnya adalah memastikan dampak ekonomi MotoGP tidak berhenti bersamaan dengan selesainya balapan. Menurutnya, momentum kunjungan wisatawan perlu dimanfaatkan untuk memperluas pasar UMKM serta menggerakkan usaha kuliner, ekonomi kreatif, transportasi, dan layanan pariwisata lainnya.
“Momentum sudah diciptakan. Sekarang tugas pemerintah daerah dan masyarakat adalah memperpanjang dampaknya. Kalau hari ini dampaknya tiga hari, mari kita buat menjadi seminggu, sebulan, bahkan sepanjang tahun,” tegasnya.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Direktur Utama ITDC Ahmad Fajar menyebut festival kuliner menjadi salah satu upaya membangun aktivitas kawasan di luar penyelenggaraan acara besar. Ia menegaskan pengembangan Mandalika diarahkan bukan sekadar sebagai lokasi berbagai event, melainkan destinasi yang menawarkan aktivitas wisata dan ekonomi secara berkelanjutan.
“Mandalika bukan hanya event destination, tetapi living destination selama 365 hari. Event menjadi traffic puller, sementara yang paling penting adalah bagaimana kehidupan ekonomi terus bergerak sepanjang tahun,” kata Fajar.
ITDC juga melanjutkan pengembangan kawasan Mandalika serta penataan Desa Sade bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah. Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat daya tarik wisata melalui pengembangan kawasan dan potensi budaya masyarakat setempat.
Bagi Iqbal, keberlanjutan pariwisata Mandalika juga ditentukan oleh hal-hal mendasar seperti kebersihan, kenyamanan, dan keramahan yang perlu dijaga setiap hari, bukan hanya ketika ribuan wisatawan datang menyaksikan MotoGP.
Mandalika Street Food Festival disebut menjadi salah satu upaya mengubah keramaian sesaat menjadi peluang ekonomi yang lebih berkelanjutan. Keberhasilan MotoGP, pada akhirnya, dinilai tidak hanya dari jumlah penonton, tetapi juga dari terbukanya pasar bagi produk lokal, bergeraknya usaha masyarakat, serta tumbuhnya alasan bagi wisatawan untuk kembali ke Mandalika setelah balapan usai.