Tren yang dijuluki “Beijing Bikini” kembali ramai dibicarakan di media sosial internasional. Meski namanya terdengar seperti gaya busana, istilah ini merujuk pada kebiasaan sebagian pria di China menggulung kaus hingga perut terbuka untuk mengurangi rasa gerah saat cuaca panas ekstrem.
Fenomena tersebut mencuat setelah sejumlah foto dan video memperlihatkan pria-pria berjalan di ruang publik dengan kaus tergulung. Di tengah suhu musim panas yang disebut mencapai lebih dari 35 derajat Celsius di beberapa wilayah, kebiasaan ini dinilai sebagai cara praktis untuk mencari rasa sejuk. Reaksi warganet pun beragam—dari menganggapnya unik hingga menilainya aneh—meski bagi sebagian warga setempat, itu dipandang sebagai hal biasa.
Istilah “Beijing Bikini” sendiri telah dikenal sejak lama dan kerap dikaitkan dengan pria paruh baya yang menggulung kaus sampai dada agar bagian perut terkena udara langsung. Ada keyakinan bahwa tubuh akan terasa lebih sejuk ketika panas “keluar” dari area perut.
Namun, kebiasaan ini sempat menuai kontroversi beberapa tahun lalu. Sejumlah pemerintah kota di China dilaporkan mendorong kampanye “perilaku beradab” di ruang publik, bahkan ada kota yang mengimbau warganya tidak lagi menggunakan gaya tersebut karena dianggap kurang sopan dan tidak mencerminkan citra kota modern.
Di sisi lain, gelombang panas yang makin intens membuat kebiasaan itu kembali terlihat. Dalam kondisi suhu tinggi, sebagian orang menempatkan kenyamanan sebagai prioritas dibanding pertimbangan penampilan.
Menariknya, praktik menggulung baju demi mengurangi gerah juga terasa dekat dengan keseharian di Indonesia. Pemandangan serupa kerap dijumpai di wilayah beriklim panas dan lembap—mulai dari warung kopi di kampung, pos ronda, hingga pekerja lapangan. Contohnya, pengemudi ojek atau pekerja bangunan di Jakarta yang menggulung baju saat siang hari, serta nelayan di pesisir Jawa dan Sumatra yang bekerja di bawah terik matahari.
Di banyak lingkungan permukiman, kebiasaan “angkat kaus” saat duduk santai di teras rumah juga bukan hal asing. Bedanya, di Indonesia praktik tersebut tidak memiliki istilah yang viral seperti “Beijing Bikini”, meski sudah lama diterima sebagai bagian dari adaptasi hidup di iklim tropis.
Tren ini kembali relevan seiring meningkatnya suhu di berbagai negara Asia dalam beberapa tahun terakhir, termasuk China, India, Thailand, hingga Indonesia. Cuaca panas ekstrem tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan seperti dehidrasi, heatstroke, dan kelelahan.
Dalam situasi tersebut, berbagai cara sederhana dilakukan untuk bertahan dari panas, mulai dari penggunaan kipas portabel, memilih pakaian berbahan tipis, mengonsumsi minuman dingin, hingga menggulung baju. Internet kemudian mengubah kebiasaan lokal menjadi pembicaraan global—yang sebelumnya dianggap lumrah, kini menjadi bahan diskusi budaya dan konten viral.
Pada akhirnya, “Beijing Bikini” memperlihatkan bagaimana orang beradaptasi dengan suhu yang meningkat. Fenomena ini juga menegaskan bahwa standar kenyamanan dan kepantasan dapat berbeda antarbudaya, terutama ketika cuaca ekstrem membuat solusi praktis menjadi pilihan utama.

