Ramainya anak-anak usia sekolah dasar (SD) yang mengantre untuk membeli parfum viral di sejumlah pusat perbelanjaan belakangan ini menyita perhatian publik. Fenomena tersebut dinilai menunjukkan kuatnya pengaruh tren media sosial terhadap anak-anak, sekaligus menandai munculnya FOMO (fear of missing out) atau rasa takut ketinggalan tren di kalangan usia sekolah.
Psikolog anak, remaja, dan keluarga Vera Itabiliana Hadiwidjojo menjelaskan, ketertarikan anak pada barang yang sedang populer berkaitan erat dengan tahap perkembangan anak usia SD. Menurutnya, pada fase ini anak tengah membangun identitas diri dan mencari penerimaan dari lingkungan sosial atau pergaulannya.
"Pada usia ini, anak sedang membangun identitas diri dan mencari penerimaan dari lingkungan sosial atau pergaulannya," ujar Vera kepada Kompas.com, Kamis (4/6/2026).
Di saat yang sama, kemampuan berpikir kritis anak disebut belum berkembang secara matang. Akibatnya, informasi yang sering muncul di media sosial maupun yang ramai dibicarakan teman-temannya cenderung dianggap menarik dan penting. Ketika suatu produk menjadi viral, anak dapat memaknainya sebagai simbol untuk menjadi bagian dari kelompok atau agar tidak dianggap berbeda.
"Kombinasi keduanya dapat menciptakan perasaan FOMO (fear of missing out), yaitu rasa takut tidak diterima jika tidak mengikuti tren," kata Vera.
Vera mengingatkan, kebiasaan selalu memenuhi permintaan anak terhadap barang viral, meski tampak sepele, dapat menimbulkan dampak jangka panjang. Anak bisa kesulitan belajar mengelola keinginan dan menunda kepuasan (delayed gratification). Selain itu, anak berisiko mengembangkan pemikiran bahwa nilai diri ditentukan oleh barang yang dimiliki.
"Dalam jangka panjang, anak bisa menjadi lebih konsumtif, mudah terpengaruh tekanan sosial, dan kurang mampu membangun rasa percaya diri yang bersumber dari kemampuan, karakter, atau pencapaiannya sendiri," jelas Vera.
Karena itu, ketika anak meminta parfum atau barang lain yang sedang viral, respons orangtua dinilai sangat menentukan. Vera menekankan agar orangtua tidak langsung menuruti atau melarang permintaan anak.

