Di tengah linimasa yang dipenuhi minuman kekinian, satu kabar sederhana justru menguat di percakapan publik.
Es puter, atau es podeng, kembali mencuat sebagai topik yang dicari dan dibicarakan.
Yang membuatnya menjadi tren bukan sekadar rasa.
Ia menyentuh sesuatu yang lebih rapuh: ingatan kolektif, kerja tangan, dan identitas kota yang pelan-pelan bergeser.
-000-
Isu yang Membuatnya Tren: Ketika Kuliner Tradisional Terlihat Hampir Hilang
Berita tentang pedagang es puter di Jakarta memantul cepat karena menghadirkan kontras yang tajam.
Di satu sisi, ada es krim modern yang serba cepat dan serba rapi.
Di sisi lain, ada tabung aluminium yang diputar manual, santan segar, dan gerobak tua bercat merah.
Kontras itu terasa seperti pertanyaan yang ditujukan kepada kita semua.
Apakah kota masih punya ruang bagi yang lambat, yang tradisional, dan yang diwariskan?
-000-
Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Menjadi Tren
Pertama, isu ini memicu nostalgia lintas generasi.
Azam bercerita pembelinya banyak yang dulu membeli saat SD, lalu kembali membawa anaknya.
Di sana ada jembatan emosi yang jarang muncul dalam berita ekonomi atau politik.
Orang tidak hanya membaca, tetapi mengingat.
Dan ingatan sering kali lebih cepat menyebar daripada fakta.
-000-
Kedua, ada kecemasan akan punahnya pedagang es puter.
Jumlah pedagang di Jakarta kian berkurang, sementara regenerasi berjalan lambat.
Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya besar.
Ia membangkitkan rasa kehilangan yang belum terjadi, namun terasa dekat.
-000-
Ketiga, isu ini menyentuh tema biaya hidup dan daya tahan usaha kecil.
Harga kelapa, gula, susu, dan buah-buahan meningkat, sementara harga jual tetap terjangkau.
Rentang Rp10.000 sampai Rp15.000 terdengar kecil bagi sebagian orang.
Namun bagi pedagang, angka kecil sering berarti pertaruhan harian.
-000-
Di Trotoar Cikini, Kota Menunjukkan Dua Wajahnya
Pemandangan di Cikini memperlihatkan bagaimana tradisi bertahan lewat tubuh manusia.
Gerobak kayu merah bertuliskan “Es Podeng” berhenti di tepi jalan.
Ia berada di atas trotoar, di sisi jalur sepeda.
Ruang kota terasa padat, dan setiap meter tampak diperebutkan.
-000-
Di tengah hiruk pikuk kendaraan, bunyi sendok beradu dengan tabung aluminium menjadi penanda.
Suara itu bukan sekadar bunyi kerja.
Ia seperti panggilan halus bahwa ada sesuatu yang masih dibuat dengan sabar.
Bahwa ada rasa yang tidak lahir dari tombol mesin.
-000-
Pedagang meracik pesanan satu per satu.
Sirup merah muda dituangkan lebih dulu, lalu roti tawar, es puter putih dan cokelat.
Susu kental manis dan saus cokelat menyusul.
Terakhir, kacang sangrai harum menutup komposisi.
-000-
Gerobak tampak tak lagi muda.
Catnya memudar dan mengelupas, tetapi tulisan “Es Podeng” masih jelas.
Di kota yang gemar mengganti wajah, kejelasan itu terasa seperti perlawanan sunyi.
-000-
Resep Turun-temurun sebagai Modal: Identitas yang Tidak Boleh Berubah
Di balik semangkuk es puter, ada resep yang diwariskan lintas generasi.
Resep itu disebut sebagai modal pedagang untuk bertahan.
Modal di sini bukan hanya bahan baku.
Ia adalah pengetahuan, kebiasaan, dan standar rasa yang dijaga.
-000-
Azam, 58 tahun, sudah sekitar 35 tahun mendorong gerobak menyusuri Jatinegara hingga Pisangan Baru.
Namun keterampilannya dimulai jauh sebelum itu.
Ia pernah membantu bapaknya membuat es puter di rumah.
Libur sekolah diisi dengan ikut mendorong gerobak.
-000-
Ketika sang ayah tak lagi sanggup berkeliling, Azam mengambil alih.
Sejak itu, cara produksi dipertahankan seperti yang diajarkan puluhan tahun silam.
Baginya, resep keluarga bukan daftar bahan.
Resep adalah identitas yang tidak boleh berubah.
-000-
Ia mengakui cara lama lebih melelahkan.
Namun pelanggan lama mengatakan rasa yang mereka cari ada di situ.
Dalam ekonomi modern, permintaan sering diciptakan oleh iklan.
Dalam es puter, permintaan dipelihara oleh ingatan.
-000-
Teknik “Puter” dan Makna Kerja Manual di Zaman Serbacepat
Es podeng diyakini berasal dari bahasa Madura, “podeng”, yang berarti “puter” atau berputar.
Nama itu merujuk pada teknik pembuatannya.
Adonan santan dan gula diputar dalam tabung aluminium.
Tabung dikelilingi campuran es batu dan garam.
-000-
Prosesnya memakan waktu lebih dari satu jam.
Tabung diputar manual hingga adonan membeku menjadi tekstur lembut menyerupai es krim.
Di titik ini, es puter menjadi lebih dari produk.
Ia menjadi demonstrasi kerja.
-000-
Kerja manual sering dianggap tidak efisien.
Namun ia menyimpan nilai yang tidak mudah dihitung.
Ia menciptakan keterikatan antara pembuat dan pembeli.
Dan ia membangun kepercayaan, karena prosesnya terlihat.
-000-
Azam menolak mengganti proses dengan mesin modern.
Menurutnya, santan segar dan pemutaran manual menghasilkan rasa gurih lebih kuat dan tekstur lebih lembut.
Pernyataan ini bukan debat teknologi.
Ini soal definisi mutu yang lahir dari pengalaman.
-000-
Riset yang Relevan: Warisan Takbenda, Memori Rasa, dan Ekonomi Kecil
Dalam kajian warisan budaya takbenda, pengetahuan kuliner sering dipahami sebagai praktik yang diwariskan.
Ia hidup lewat pengulangan, bukan lewat arsip.
Jika rantai generasi putus, praktik itu ikut memudar.
Itu sebabnya regenerasi pedagang menjadi isu penting.
-000-
Riset tentang memori dan makanan juga menunjukkan rasa dapat memicu ingatan autobiografis.
Orang mengingat tempat, suasana, dan hubungan sosial melalui makanan.
Dalam konteks es puter, testimoni pelanggan lintas generasi memperkuat pola itu.
Yang dijual bukan hanya dingin dan manis.
-000-
Dari sisi ekonomi, usaha mikro sering bertahan lewat kombinasi keterampilan, pelanggan setia, dan harga terjangkau.
Namun usaha seperti ini rentan terhadap kenaikan bahan baku.
Azam menyebut harga kelapa, gula, susu, dan buah meningkat.
Ketika biaya naik, ruang napas pedagang menyempit.
-000-
Di kota besar, tekanan lain datang dari ruang.
Gerobak berhenti di trotoar, di sisi jalur sepeda.
Ini menggambarkan betapa ekonomi rakyat sering beroperasi di sela-sela.
Ia hadir, tetapi tidak selalu benar-benar diakomodasi.
-000-
Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Identitas Kota, UMKM, dan Keadilan Ruang Publik
Isu es puter pada dasarnya adalah isu tentang Indonesia yang sedang memilih arah.
Apakah modernisasi berarti mengganti yang lama.
Atau modernisasi bisa berarti merawat yang lama dengan cara yang lebih adil.
Jakarta menjadi panggung paling jelas untuk pertanyaan itu.
-000-
Pertama, ini terkait identitas kota.
Kuliner tradisional adalah penanda sosial yang membentuk rasa “rumah” bagi warga.
Ketika penanda hilang, kota terasa seragam.
Seragam sering terlihat rapi, tetapi mudah membuat orang merasa asing.
-000-
Kedua, ini terkait daya tahan UMKM.
Pedagang seperti Azam menjaga harga tetap terjangkau.
Namun kenaikan bahan baku terus menekan.
Jika pelaku kecil tumbang, yang hilang bukan hanya pekerjaan.
Yang hilang adalah ekosistem rasa dan relasi sosial.
-000-
Ketiga, ini terkait keadilan ruang publik.
Ketika trotoar menjadi lokasi berjualan, ada realitas kebutuhan ekonomi dan keterbatasan tempat.
Kota perlu menata tanpa mematikan.
Penertiban yang menghapus sering kali lebih mudah daripada penataan yang merangkul.
-000-
Referensi di Luar Negeri: Ketegangan antara Tradisi dan Gelombang Modern
Di banyak negara, makanan tradisional menghadapi tantangan serupa.
Di Jepang, pedagang kecil dan kedai keluarga kerap berhadapan dengan perubahan demografi dan selera.
Regenerasi menjadi masalah, karena anak muda memilih pekerjaan lain.
Pola ini mirip dengan “regenerasi lambat” yang disebut dalam berita.
-000-
Di beberapa kota besar dunia, pedagang kaki lima juga menghadapi tekanan ruang.
Penataan kota sering menuntut kerapian dan keteraturan.
Namun, jika kebijakan tidak menyediakan ruang yang layak, tradisi kuliner bisa tersingkir.
Es puter mengingatkan kita pada dilema universal itu.
-000-
Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi
Pertama, publik dapat memandang kuliner tradisional sebagai bagian dari pengetahuan, bukan sekadar jajanan.
Membeli sesekali adalah dukungan nyata.
Namun lebih penting adalah menghargai proses dan manusia di baliknya.
Jangan memperlakukan pedagang hanya sebagai latar nostalgia.
-000-
Kedua, pemerintah kota dapat menata ruang yang aman dan manusiawi.
Berita menunjukkan gerobak berhenti di trotoar, di sisi jalur sepeda.
Artinya ada kebutuhan lokasi yang tidak mengganggu mobilitas.
Solusinya bukan menghilangkan, melainkan menyediakan titik berdagang yang tertib.
-000-
Ketiga, dukungan bagi usaha kecil perlu peka pada kenaikan bahan baku.
Azam menyebut biaya kelapa, gula, susu, dan buah meningkat.
Ketika biaya naik, pilihan pedagang terbatas.
Jika harga jual dinaikkan, pelanggan berkurang.
Jika tidak, marjin menipis.
-000-
Keempat, regenerasi perlu dibicarakan tanpa romantisasi.
Jika kerja membuat es puter memakan tenaga dan waktu, maka pewarisan membutuhkan insentif.
Insentif bisa berupa kepastian tempat, perlindungan usaha, dan akses peralatan yang aman.
Namun inti resep tetap dijaga oleh keluarga.
-000-
Kelima, media dan masyarakat dapat merawat narasi dengan cara yang adil.
Cerita tentang Azam menyentuh karena manusiawinya.
Namun kisah seperti ini juga perlu dibaca sebagai sinyal kebijakan.
Bahwa yang tradisional tidak selalu kalah.
Ia hanya sering tidak diberi ruang.
-000-
Penutup: Semangkuk Es, Sepotong Kota
Es puter bertahan bukan karena ia paling baru.
Ia bertahan karena ia punya akar.
Di dalam santan yang diputar manual, ada disiplin dan kesetiaan pada rasa.
Di dalam topping sederhana, ada memori yang pulang.
-000-
Jakarta bergerak cepat, dan kita sering memujanya karena itu.
Namun kota yang sehat tidak hanya berlari.
Ia juga menoleh, memastikan yang tertinggal tidak selalu yang paling lemah.
Es puter mengingatkan kita bahwa kemajuan tanpa ingatan akan terasa hampa.
-000-
Di tepi jalan, seorang pedagang memutar tabung aluminium lebih dari satu jam.
Gerak itu seperti doa kecil agar tradisi tidak putus.
Jika kita ingin Jakarta tetap punya rasa yang khas, kita perlu memberi ruang bagi doa seperti itu.
-000-
“Tradisi bukanlah memuja abu, melainkan menjaga api.”