Akhir pekan bersama sahabat kerap berujung pada pola yang berulang: duduk di kafe, berbincang seperlunya, lalu masing-masing sibuk menatap layar ponsel. Di tengah kejenuhan rutinitas nongkrong yang monoton, sejumlah tren hiburan viral di media sosial belakangan menawarkan alternatif kegiatan yang lebih interaktif dan mendorong kebersamaan.
Beragam aktivitas ini tidak hanya menarik secara visual untuk dibagikan, tetapi juga dinilai mampu menghidupkan suasana pertemuan. Tantangan-tantangan yang beredar di linimasa membuat dinamika kelompok yang semula pasif menjadi lebih partisipatif, memicu tawa, dan membuka ruang interaksi yang lebih nyata.
1) Melukis di media unik
Tren melukis bersama kini tak lagi terbatas pada kanvas. Media yang dipakai justru benda fungsional sehari-hari, seperti cermin genggam atau botol minum termos. Aktivitas ini memberi ruang bagi setiap orang untuk berekspresi tanpa tekanan hasil harus terlihat “bagus”, karena fokusnya pada proses bersenang-senang.
Suasana biasanya semakin hangat dengan musik latar santai dan camilan, sementara hasil karya yang selesai dapat dibawa pulang sebagai kenang-kenangan. Meski demikian, ada risiko kekacauan kecil seperti tumpahan cat akrilik yang sulit dibersihkan, serta biaya perlengkapan yang bisa terasa lebih mahal jika tidak ditanggung bersama.
2) Tantangan memasak dengan roda berputar di aplikasi
Memasak bersama dibuat lebih menantang lewat unsur acak dari aplikasi pemilih. Bahan utama, saus, hingga metode memasak ditentukan oleh “roda berputar” digital. Ketika pilihan berhenti pada bahan yang tidak lazim, reaksi spontan peserta menjadi bagian dari hiburan.
Di sisi lain, tantangan ini mendorong kolaborasi dan improvisasi, terutama bagi mereka yang jarang memasak. Namun konsekuensinya adalah tumpukan piring kotor di akhir sesi serta kemungkinan kombinasi rasa yang tidak berhasil dan berujung pada hidangan yang sulit dinikmati.
3) Berburu foto estetik memakai kamera saku digital jadul
Tren visual nostalgia mendorong sebagian orang beralih dari foto ponsel yang sangat tajam ke nuansa retro kamera saku digital era 2000-an. Efek kilat yang khas dan distorsi warna dari sensor lama memberi karakter unik pada foto-foto kebersamaan.
Aktivitas ini biasanya dilakukan sambil berjalan-jalan di area kota tua atau ruang terbuka, mencari sudut pengambilan gambar yang menarik. Namun, ada kendala teknis seperti pemindahan file dari kartu memori lama yang membutuhkan adaptor, serta baterai kamera tua yang cenderung cepat habis.
4) Nonton bareng dengan aturan permainan
Menonton tayangan favorit dapat diubah menjadi kompetisi interaktif dengan aturan tertentu. Misalnya, setiap kali karakter utama melakukan adegan klise, seluruh penonton harus melakukan gerakan kompak. Dalam contoh yang disebutkan, sinetron Istiqomah Cinta yang tayang di SCTV pada 2026 dinilai cocok untuk format ini karena dramanya yang intens.
Disebutkan pula bahwa sinetron tersebut telah menembus lebih dari 100 episode dengan raihan rating dan share yang tinggi. Meski seru, format nonton komunal semacam ini berpotensi membuat ruangan terlalu bising karena perdebatan dan candaan, sehingga kurang ideal bagi penonton yang ingin menyimak alur cerita secara serius.
5) Pesta kostum hemat bertema karakter populer
Pesta kostum juga menjadi tren, tetapi dengan tantangan anggaran terbatas. Peserta diminta membuat kostum dari barang-barang bekas di rumah, misalnya bertema karakter meme internet populer. Keterbatasan dana justru memancing kreativitas dan memunculkan kejutan yang mengundang tawa.
Puncak acara biasanya berupa peragaan busana dadakan di ruang tamu. Namun, kegiatan ini membutuhkan waktu tambahan untuk membersihkan sisa potongan kertas dan lem. Selain itu, sebagian orang yang pemalu bisa merasa tidak nyaman jika diwajibkan memakai kostum nyeleneh, sehingga diperlukan kesepakatan agar tidak ada yang merasa terpaksa.
6) Berburu kuliner tersembunyi dari rekomendasi netizen
Tren lain yang ramai di media sosial adalah petualangan mencari warung makan “tersembunyi” yang diangkat lewat video pendek. Kelompok pertemanan biasanya membuat daftar tempat dari rekomendasi yang muncul di linimasa, lalu mendatangi lokasinya secara acak. Proses mencari alamat di gang sempit sering menjadi bagian dari pengalaman.
Kepuasan muncul ketika makanan yang dicari terasa lezat dan terjangkau setelah perjalanan yang tidak selalu mulus. Interaksi dengan pemilik warung lokal juga memberi nuansa berbeda dibanding makan di restoran cepat saji. Kendalanya, kualitas rasa dan kebersihan bisa bervariasi, sementara rekomendasi internet kadang dinilai berlebihan. Antrean panjang juga dapat membuat pengalaman tidak sebanding dengan hasil akhirnya.
Perbandingan tiga aktivitas utama
Untuk membantu memilih, berikut perbandingan beberapa aspek dari tiga tren yang disebut sebagai aktivitas utama:
Melukis media unik: estimasi biaya perlengkapan Rp 150.000–Rp 250.000, tingkat kerumitan persiapan sedang, durasi ideal 3 jam.
Masak dengan roda berputar: estimasi biaya Rp 100.000–Rp 200.000, tingkat kerumitan persiapan tinggi, durasi ideal 4 jam.
Fotografi kamera jadul: estimasi biaya Rp 200.000–Rp 500.000, tingkat kerumitan persiapan rendah, durasi ideal 5 jam.
Pada akhirnya, pilihan aktivitas kembali pada karakter kelompok pertemanan masing-masing. Tidak semua tren harus diikuti, terutama jika justru membebani biaya atau mengganggu kenyamanan. Inti pertemuan tetap pada kualitas interaksi dan kehadiran utuh bersama sahabat, tanpa distraksi digital yang berlebihan.

