Kekhawatiran terhadap berat badan anak yang tumbuh lebih lambat dibanding teman sebaya mendorong sebagian orang tua untuk mencari pengetahuan gizi. Salah satunya dialami Hoang Hong Nga, warga Desa Duc Hinh, Komune Van Quan, yang mengikuti sesi praktik gizi di pos kesehatan setempat.
Ia menuturkan, putri bungsunya sempat mengalami kekurangan gizi ringan. Pada usia 3 tahun, berat badan anaknya sekitar 11,5 kg. Setelah mendapat bimbingan petugas kesehatan mengenai pola makan yang sesuai untuk anak kecil, Nga mengubah cara pengasuhan dengan membatasi makanan cepat saji, memprioritaskan makanan utama yang bergizi, serta melengkapi asupan dengan mikronutrien. Hasilnya, kondisi fisik anaknya membaik. Menjelang usia 4 tahun, berat badannya mencapai 13 kg dan nafsu makan meningkat.
Perubahan pola asuh seperti yang dilakukan Nga disebut bukan kasus tunggal. Dalam beberapa waktu terakhir, semakin banyak orang tua di wilayah tersebut memperoleh akses pengetahuan gizi melalui kegiatan konseling dan bimbingan praktik yang dilakukan sektor kesehatan di tingkat lokal.
Di Komune Quoc Viet, wilayah perbatasan yang tergolong kurang beruntung di Zona III, fasilitas kesehatan setempat rutin mengadakan pemantauan pertumbuhan, pemberian mikronutrien, serta konsultasi perawatan anak. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan status gizi anak secara bertahap.
Petugas gizi Pos Kesehatan Komune Quoc Viet, Tran Thi Tuyet, mengatakan pos kesehatan setiap tahun melakukan pengukuran berat dan tinggi badan, memantau pertumbuhan anak, memberikan suplemen vitamin A, memberi konseling gizi bagi ibu hamil dan ibu dengan anak kecil, serta menyelenggarakan sesi praktik gizi agar orang tua mampu menyusun menu seimbang. Ia menyebut, melalui upaya tersebut kesadaran masyarakat meningkat dan berdampak pada perbaikan status gizi. Pada 2025, angka anak kekurangan gizi di wilayah itu tercatat 14%, stunting 19%, dan wasting 6,3%, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.
Upaya serupa juga dilaksanakan di tingkat provinsi melalui berbagai kegiatan pencegahan kekurangan gizi dan defisiensi mikronutrien. Program yang dijalankan antara lain penimbangan dan pengukuran rutin untuk memantau pertumbuhan, suplementasi vitamin A dan mikronutrien, konseling serta bimbingan praktik gizi, pemantauan kesehatan ibu dan anak selama 1.000 hari pertama kehidupan, dan penguatan komunikasi untuk meningkatkan kesadaran gizi serta perawatan anak pada tahun-tahun awal.
Kepala Departemen Pencegahan Penyakit Tidak Menular dan Gizi di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Provinsi, Le Thi Kieu Oanh, menyatakan pihaknya setiap tahun mengoordinasikan distribusi vitamin A dan produk nutrisi bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta anak kekurangan gizi di bawah 5 tahun. Selain itu, masyarakat dibimbing untuk memantau pertumbuhan anak di bawah 2 tahun setiap bulan, menimbang dan mengukur anak di bawah 5 tahun, menilai status gizi, serta mempertahankan kegiatan gizi di komunitas. Inspeksi, pengawasan, dan bimbingan profesional juga dilakukan secara berkala untuk meningkatkan efektivitas program.
Hingga akhir 2025, pemantauan pertumbuhan dan perkembangan anak di bawah 2 tahun di seluruh provinsi mencapai 16.609 anak atau 99,7%. Penimbangan, pengukuran, dan penilaian status gizi anak di bawah 5 tahun juga mencapai 99,7%. Sementara itu, cakupan suplementasi vitamin A untuk anak usia 6–36 bulan mencapai 99,2%, melampaui target yang ditetapkan, dan diharapkan dapat dipertahankan pada bulan-bulan awal 2026.
Berdasarkan statistik hingga akhir Mei 2026, tercatat 16.099 anak di bawah 2 tahun telah ditimbang dan dipantau pertumbuhannya. Selain itu, hampir 80% anak usia 6–23 bulan disebut telah memenuhi diet minimum yang dibutuhkan.
Seiring penerapan solusi perawatan dan peningkatan gizi secara terkoordinasi, angka kekurangan gizi anak di provinsi tersebut dilaporkan terus menurun. Pada 2025, prevalensi kekurangan gizi akibat berat badan kurang pada anak di bawah 5 tahun mencapai 14,4%, turun 0,4% dibanding 2024. Prevalensi stunting tercatat 21%, juga turun 0,4%. Capaian ini dinilai menunjukkan efektivitas intervensi gizi dan menjadi dasar penting bagi perkembangan fisik serta intelektual anak secara lebih menyeluruh.

