Tren kecantikan, terutama perawatan kulit dan riasan, berkembang cepat seiring pengaruh media sosial. Namun, tidak semua tren yang viral berdampak baik bagi kulit. Dalam konteks kedokteran estetika, pertanyaan pentingnya adalah apakah sebuah tren mendukung kesehatan kulit, melindungi lapisan pelindung (skin barrier), serta membantu proses penuaan yang sehat.
Dalam wawancara dengan HT Lifestyle, dokter kosmetik selebriti sekaligus pendiri AuraEdge Aesthetic and Wellness, Dr. Aisshwarya Panddit, memaparkan sejumlah tren kecantikan di media sosial yang menurutnya patut dipertimbangkan untuk dicoba.
1. Mengutamakan kesehatan kulit ketimbang sekadar anti-penuaan
Dr. Aisshwarya menilai salah satu perubahan positif di industri kecantikan adalah pergeseran fokus dari “anti-penuaan” menuju “umur panjang kulit”. Jika pendekatan lama kerap menekankan upaya menghilangkan tanda penuaan sebelum muncul, konsep umur panjang kulit menitikberatkan pada menjaga kesehatan kulit sepanjang hidup.
Pendekatan ini tidak semata mengejar penghilangan kerutan, melainkan mempertahankan kadar kolagen, menjaga hidrasi, melindungi fungsi lapisan pelindung kulit, dan membiarkan kulit menua dengan cara yang lebih sehat.
2. Perawatan kulit yang berfokus pada perlindungan lapisan pelindung
Tren berikutnya adalah meningkatnya perhatian pada produk yang melindungi dan memperbaiki skin barrier. Dr. Aisshwarya menyoroti bahwa pengelupasan berlebihan dan penggunaan bahan aktif yang kuat sempat menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun.
Kini, semakin banyak orang menyadari bahwa kulit yang sehat memerlukan perlindungan fungsi lapisan pelindung terlebih dahulu. Karena itu, bahan seperti ceramide, kandungan yang menenangkan, peptida, dan pelembap dinilai bukan lagi sekadar tambahan, melainkan kebutuhan agar kulit dapat pulih, bukan justru terus-menerus terpapar risiko kerusakan.
3. Meningkatnya popularitas peptida
Menurut Dr. Aisshwarya, peptida mendapat banyak perhatian tahun ini dan dinilai sepadan dengan sorotan tersebut. Peptida disebut efektif membantu meningkatkan kekencangan, kekuatan, serta proses perbaikan kulit tanpa memicu iritasi seperti yang bisa terjadi pada sejumlah bahan aktif yang lebih kuat.
Ia menilai peptida cocok bagi mereka yang ingin perawatan preventif dan perbaikan bertahap, bukan hasil instan dalam semalam.
4. Rutinitas perawatan kulit malam yang semakin diperhatikan
Rutinitas perawatan kulit pada malam hari kini tidak lagi dipandang sebagai langkah tambahan yang opsional. Semakin banyak orang memahami bahwa kulit secara alami beregenerasi pada malam hari. Kondisi ini membuat bahan tertentu—seperti retinol, peptida, dan pelembap—dinilai bekerja lebih baik saat digunakan pada malam hari.
Meski demikian, Dr. Aisshwarya menekankan pentingnya konsistensi. Menggunakan banyak produk sekaligus tidak selalu lebih baik dibanding rutinitas yang stabil dan teratur.
5. Riasan yang lebih ringan dan “bernapas”
Dr. Aisshwarya juga menyoroti tren riasan yang mengutamakan tampilan kulit dengan hasil akhir lembut dan seperti terkena sinar matahari. Ia menyebut warna-warna ringan, perona pipi, dan produk yang memberi efek bercahaya cenderung lebih cocok untuk kulit dibanding penggunaan lapisan kosmetik yang tebal, terutama di lingkungan panas.
Riasan yang ringan dinilai lebih nyaman dan tidak mudah menyumbat pori-pori. Namun, ia mengingatkan agar tren riasan tidak menggantikan fungsi perawatan kulit.
6. Mengejar glowing dengan cara lebih sehat, bukan “glass skin” yang agresif
Kulit bercahaya masih menjadi prioritas banyak orang, tetapi pendekatan yang lebih sehat untuk mencapai “kulit kaca” disebut makin populer. Dr. Aisshwarya menyebut komponen seperti asam hialuronat, niacinamide, serta eksfolian yang lebih lembut dapat membantu memperbaiki tekstur, hidrasi, dan kilau kulit dengan cara yang lebih aman.
Intinya, fokus bergeser pada kilau alami, bukan hasil yang tampak bercahaya karena iritasi atau efek yang terkesan dipaksakan.

