BERITA TERKINI
Dokter Ingatkan Pola Makan, Bumbu Instan Disebut Bisa Jadi “Blindspot” dalam Risiko Kanker Payudara

Dokter Ingatkan Pola Makan, Bumbu Instan Disebut Bisa Jadi “Blindspot” dalam Risiko Kanker Payudara

JAKARTA — Kanker payudara menjadi salah satu penyakit yang kerap dikhawatirkan perempuan. Pemicu kanker payudara disebut dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari genetik hingga gaya hidup.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr. Ika Devi menilai, bumbu dapur—termasuk bumbu instan yang sering digunakan dalam makanan—dapat menjadi “blindspot” atau hal yang kerap luput dari perhatian ketika membahas risiko kanker payudara. Menurutnya, banyak orang langsung mengaitkan kanker payudara dengan faktor keturunan, padahal kebiasaan sehari-hari juga dapat berperan.

“Kalau kita bicara soal kanker payudara, pasti kamu mikirnya genetik dulu. Tapi, pernah kepikiran nggak kalau kebiasaan sehari-hari pun bisa punya peranan,” ujarnya melalui video di akun Instagram pribadinya.

Ia menjelaskan, risiko kanker payudara tidak hanya ditentukan oleh genetik. Faktor risikonya bersifat kompleks. Ada faktor yang tidak bisa diubah, seperti usia dan genetik. Namun, ada pula faktor gaya hidup yang dapat diperhatikan, termasuk pola makan, aktivitas fisik, berat badan, dan konsumsi alkohol.

Dr. Ika menekankan, faktor genetik dan gaya hidup sama-sama perlu menjadi perhatian. Ia menyoroti perbedaan antara makanan ultra proses dan makanan rumahan dengan bahan yang lebih utuh. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa bukan berarti satu jenis makanan tertentu secara langsung menyebabkan kanker.

Menurutnya, yang lebih penting adalah pola makan secara keseluruhan. Jika dalam keseharian seseorang terlalu sering mengandalkan makanan ultra proses dan rendah konsumsi makanan utuh, hal itu perlu dievaluasi.

“Bukan masalah hanya satu makanan, tetapi pola makan secara keseluruhan,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan bahwa memilih lebih banyak real food atau makanan utuh tidak berarti makanan harus terasa hambar. Salah satu langkah kecil yang bisa dilakukan adalah lebih selektif dalam memilih bumbu dengan membaca label komposisi.

“Semakin kamu tahu apa yang masuk dalam makananmu, semakin mudah kamu membuat pilihan yang sesuai dengan kebutuhanmu,” katanya.

Ia mencontohkan, saat memilih kaldu bubuk, ia lebih menyukai produk dengan komposisi yang jelas dan berasal dari bahan natural. Ia mengimbau masyarakat untuk mengecek komposisi sebelum membeli.

Memasuki Breast Cancer Awareness Month, dr. Ika mengingatkan pentingnya memulai dari hal-hal yang bisa dikontrol. Ia menganjurkan untuk lebih aktif, memperbanyak konsumsi makanan utuh, serta lebih sering memilih bumbu alami dapur melalui keputusan-keputusan kecil dalam keseharian.