Antrean panjang di sebuah kedai kecil yang kerap muncul di linimasa Instagram dan TikTok menjadi gambaran bagaimana tren kuliner bisa berubah menjadi daya tarik nyata di lapangan. Produk yang diburu pengunjung saat itu adalah roti sourdough dan salt bread—dua jenis roti yang belakangan viral, terutama di kalangan Gen Alfa dan Gen Z.
Popularitas keduanya dinilai bukan semata hasil keberuntungan. Sourdough dan salt bread mampu menjaga relevansi di pasar Indonesia melalui kombinasi konten viral, kolaborasi dengan KOL (Key Opinion Leader), serta strategi branding yang terukur.
Salt bread atau shiopan, roti gulung yang berasal dari Jepang dan populer di Korea Selatan, kini hadir dengan beragam varian rasa di Jakarta. Variasi yang beredar antara lain garlic, kinako, truffle egg, hingga pistachio kunafa. Sementara itu, sourdough menarik konsumen yang mengutamakan nilai autentik, termasuk proses fermentasi alami yang menjadi ciri khasnya.
Keduanya menjadi contoh bagaimana brand kuliner skala UMKM dapat tumbuh signifikan di era digital. Salah satu kuncinya adalah distribusi konten yang konsisten dan tepat sasaran. Konten kuliner yang menampilkan proses pembuatan salt bread, misalnya, sering muncul di media sosial dan mendorong rasa ingin tahu audiens untuk mencoba langsung. Dampaknya, banyak bakery lokal berlomba menghadirkan versi mereka sendiri dengan penyesuaian terhadap selera pasar Indonesia.
Pola serupa juga terlihat pada sourdough. Konten behind-the-scenes yang menyoroti proses fermentasi selama 12–24 jam disebut mampu memancing engagement tinggi di TikTok dan Instagram Reels, sekaligus membangun persepsi premium di benak audiens.
Dalam konteks ini, peran KOL menjadi penting bukan hanya sebagai pengiklan, melainkan sebagai co-storyteller yang menyampaikan nilai produk secara lebih organik. Strategi tersebut dinilai efektif untuk kategori makanan yang mengandalkan kepercayaan dan kedekatan personal.
Segmentasi audiens turut menentukan pendekatan pemasaran. Untuk menyasar Gen Z, brand perlu berinvestasi pada desain kemasan, storytelling, dan kekuatan visual produk. Sementara milenial cenderung lebih responsif terhadap harga yang bersaing, promo, serta variasi rasa yang unik.
Dalam perspektif jangka panjang, strategi branding menuju 2026 tidak lagi cukup dengan mengikuti tren viral. Brand dituntut membangun nilai unik yang melekat di benak konsumen melalui komunikasi yang autentik dan adaptif. Brand sourdough dan salt bread yang bertahan adalah yang mampu membentuk identitas kuat—mulai dari nama yang mudah diingat, kemasan yang menarik secara visual, hingga konsistensi rasa.
Peluang bagi pelaku UMKM kuliner dinilai masih terbuka lebar, terutama bagi yang berani membangun ekosistem digital. Fokusnya tidak hanya berjualan, tetapi juga menciptakan komunitas di sekitar produk sehingga hubungan dengan konsumen dapat terjaga lebih berkelanjutan.

