BERITA TERKINI
Dari Untir-untir 1951 ke Ekosistem Digital: Geliat UMKM Kuliner Banjarsari dan Makna Koperasi di Zaman Baru

Dari Untir-untir 1951 ke Ekosistem Digital: Geliat UMKM Kuliner Banjarsari dan Makna Koperasi di Zaman Baru

Ada kabar yang terasa sederhana, namun menggetarkan: jajanan tradisional Banjarsari, untir-untir dan onde-onde, kembali dibicarakan luas karena digitalisasi ekosistem koperasi.

Di Google Trend, isu ini menguat bukan karena sensasi. Ia naik karena menyentuh urat nadi ekonomi rumah tangga, identitas kuliner, dan harapan pada koperasi.

Berita tentang Gustini, pelaku UMKM yang menjaga resep keluarga sejak 1951, menjadi pintu masuk. Ia bergabung Koperasi Kelurahan Merah Putih Banjarsari pada Juli 2025.

Kisahnya memantulkan pertanyaan yang lebih besar. Bagaimana tradisi bertahan tanpa kehilangan jiwa, ketika pasar menuntut kecepatan, kemasan, dan kanal digital?

-000-

Isu yang Membuatnya Menjadi Tren

Yang diperdebatkan publik bukan sekadar kue goreng manis. Isunya adalah transformasi: warisan keluarga yang lama bertemu struktur kolektif koperasi yang sedang dimodernkan.

Di satu sisi, ada romantika resep turun-temurun. Di sisi lain, ada realitas UMKM yang sering kesulitan modal, pemasaran, dan akses ekosistem.

KKMP Banjarsari muncul sebagai simbol upaya memecahkan simpul itu. Ekosistem koperasi disebut memberi dukungan sehingga minat terhadap jajanan meningkat.

Publik menangkap pesan yang lebih luas: digitalisasi bukan milik perusahaan besar saja. Ia bisa menjadi alat bertahan bagi usaha rumahan yang puluhan tahun hidup.

-000-

Tiga Alasan Mengapa Isu Ini Ramai

Pertama, ada unsur lintas generasi. Resep sejak 1951 menghadirkan kontinuitas, lalu bertemu keputusan baru ketika Gustini pensiun dan memilih menekuni usaha.

Peralihan itu terasa dekat bagi banyak keluarga Indonesia. Banyak orang tua memasuki masa pensiun, lalu mencari cara tetap produktif tanpa meninggalkan rumah.

Kedua, koperasi kembali dibicarakan sebagai solusi yang konkret. Kata “ekosistem” memberi kesan ada jejaring, bukan sekadar simpan pinjam yang berdiri sendiri.

Di ruang publik, koperasi sering dipandang ideal namun sulit diwujudkan. Karena itu, cerita yang tampak berjalan di tingkat kelurahan memantik rasa ingin tahu.

Ketiga, digitalisasi menjadi bahasa zaman. Ketika kuliner tradisional disebut “bertransformasi”, orang membayangkan pemasaran daring, pencatatan, dan perluasan pasar.

Di tengah persaingan makanan modern, kabar bahwa jajanan lokal “semakin diminati” membuat orang ingin tahu. Apakah ini kebangkitan, atau sekadar momen?

-000-

Menulis Ulang Peristiwa: Dari Dapur ke Koperasi

Gustini bercerita bahwa untir-untir dan onde-onde yang ia buat berasal dari resep orang tuanya. Warisan itu telah dijaga sejak 1951.

Setelah memasuki masa pensiun, ia memutuskan fokus mengembangkan jajanan khas Surakarta. Ia lalu bergabung menjadi anggota koperasi pada Juli 2025.

Ia menyebut keberadaan Koperasi Merah Putih di Kelurahan Banjarsari sebagai titik balik. Ia masuk sebagai anggota dan ikut kelompok kuliner.

Dalam satu kalimat, ada dua hal bergerak bersamaan. Ada ketekunan individu, dan ada wadah kolektif yang memberi ruang bertumbuh.

-000-

Analisis: Mengapa Ekosistem Lebih Penting daripada Sekadar Produk

Produk yang enak tidak otomatis bertahan. Yang menentukan umur usaha sering kali bukan rasa, melainkan sistem: pasokan, mutu, pencatatan, dan akses pasar.

Koperasi, ketika berfungsi, dapat menjadi sistem itu. Ia mengurangi kesepian pelaku UMKM, mengganti perjuangan sendiri dengan kerja bersama.

Istilah “digitalisasi ekosistem” menandakan perubahan cara kerja. Bukan hanya menjual lewat gawai, tetapi menata relasi produksi dan distribusi lebih rapi.

Namun digitalisasi juga membawa risiko. Ia bisa menjadi jargon bila tak menyentuh kebutuhan dasar: kepastian permintaan, standar mutu, dan pembagian manfaat yang adil.

-000-

Kaitannya dengan Isu Besar Indonesia: Ketahanan UMKM dan Identitas Pangan

UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Ketika satu usaha rumahan menguat, dampaknya sering menjalar ke pemasok, tetangga, dan pekerja informal.

Kuliner tradisional juga menyangkut identitas. Untir-untir dan onde-onde bukan sekadar makanan, melainkan ingatan kolektif tentang kota, keluarga, dan perayaan.

Di banyak daerah, makanan tradisional terdesak oleh produk instan dan tren global. Transformasi yang tepat dapat menjadi cara menjaga identitas tanpa membeku.

Di sisi lain, koperasi membawa isu pemerataan. Ia menawarkan logika berbagi nilai tambah, bukan hanya mengejar pertumbuhan yang terkonsentrasi.

-000-

Riset yang Relevan untuk Membaca Fenomena Ini

Literatur pembangunan ekonomi kerap menekankan peran institusi lokal. Koperasi dipandang sebagai institusi yang dapat memperkuat daya tawar pelaku kecil.

Riset tentang adopsi teknologi pada usaha kecil juga berulang kali menunjukkan pola. Teknologi efektif ketika disertai pendampingan, jejaring, dan peningkatan kapasitas.

Konsep yang sering dipakai adalah “kapabilitas” dan “ketahanan usaha”. UMKM tidak hanya butuh alat digital, tetapi kemampuan mengelola perubahan pasar.

Dalam studi ekonomi kelembagaan, kepercayaan menjadi modal penting. Koperasi yang sehat bertumpu pada tata kelola, transparansi, dan partisipasi anggota.

Empat gagasan itu membantu membaca berita ini secara konseptual. Cerita Gustini bukan hanya kisah individu, tetapi juga eksperimen institusional di tingkat lokal.

-000-

Pelajaran dari Luar Negeri: Koperasi yang Menjadi Ekosistem

Di luar negeri, koperasi sering menjadi rujukan karena mampu bertahan lintas generasi. Beberapa tumbuh dari komunitas kecil, lalu menguat lewat tata kelola.

Spanyol memiliki Mondragon, federasi koperasi pekerja yang dikenal luas. Ia sering dibahas sebagai contoh bagaimana kepemilikan kolektif dapat bersaing secara modern.

Italia juga dikenal dengan koperasi sosial yang mengelola layanan komunitas dan pekerjaan. Model ini menunjukkan koperasi dapat menjadi instrumen ketahanan sosial.

Di Jepang, koperasi pertanian dan konsumen berkembang dalam berbagai bentuk. Mereka menekankan standar, distribusi, dan kepercayaan, bukan sekadar transaksi.

Referensi ini tidak identik dengan Banjarsari. Namun ia memberi cermin: koperasi kuat karena sistem, bukan karena slogan, dan karena konsistensi layanan bagi anggota.

-000-

Kontemplasi: Tradisi yang Tidak Ingin Menjadi Museum

Ada dilema halus dalam kuliner tradisional. Jika terlalu mempertahankan bentuk lama, ia bisa ditinggalkan. Jika terlalu berubah, ia kehilangan makna.

Transformasi terbaik adalah yang menjaga inti. Resep keluarga tetap dihormati, sementara cara menjangkau pembeli boleh menyesuaikan kebutuhan zaman.

Di titik ini, koperasi dapat berperan sebagai penyangga. Ia bisa membantu standardisasi tanpa mematikan kekhasan, dan memperluas pasar tanpa menghapus cerita.

Publik mungkin tergerak karena melihat sesuatu yang jarang: modernisasi yang berangkat dari akar. Bukan dari pusat, melainkan dari kelurahan dan dapur rumah.

-000-

Rekomendasi: Bagaimana Isu Ini Sebaiknya Ditanggapi

Pertama, fokus pada kebutuhan anggota. Digitalisasi harus menjawab masalah nyata pelaku UMKM, seperti pemasaran, pencatatan, dan kepastian akses ekosistem.

Kedua, perkuat tata kelola koperasi. Transparansi iuran, pembagian manfaat, dan mekanisme keputusan perlu jelas agar kepercayaan tumbuh dan konflik dapat dicegah.

Ketiga, siapkan pendampingan berkelanjutan. Teknologi dan pasar bergerak cepat, sementara banyak pelaku usaha belajar sambil bekerja, terutama setelah pensiun.

Keempat, jaga narasi budaya secara etis. Promosi kuliner tradisional sebaiknya tidak hanya mengejar viralitas, tetapi juga menghormati asal-usul dan kerja pembuatnya.

Kelima, dorong kolaborasi lokal. Koperasi dapat menghubungkan pelaku kuliner dengan pemasok, komunitas, dan ruang-ruang promosi yang relevan di tingkat kota.

-000-

Penutup

Kisah Gustini adalah pengingat bahwa ekonomi sering bergerak dari hal kecil. Dari adonan, minyak panas, dan kesabaran, lahir daya hidup yang tidak gampang digantikan.

Ketika ekosistem koperasi membantu tradisi beradaptasi, yang dipertaruhkan bukan hanya omzet. Yang dijaga adalah martabat kerja, memori keluarga, dan harapan komunitas.

Di tengah hiruk-pikuk tren, ada baiknya kita menahan diri sejenak. Menilai bukan dari ramainya pembicaraan, melainkan dari apakah perubahan itu adil dan berkelanjutan.

Seperti kutipan yang kerap diulang dalam berbagai bentuk, “Masa depan dibangun oleh mereka yang setia merawat hal kecil setiap hari.”