Nama Prof. Dr. Ir. Dadan Hindayana menjadi perhatian publik setelah pemerintah menunjuk akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pertama. Pembentukan BGN disebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat penanganan persoalan gizi, terutama melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui.
Lembaga yang dipimpin Dadan Hindayana ini diarahkan untuk membantu mengatasi stunting (tengkes) sekaligus memastikan kecukupan gizi masyarakat. Stunting dipahami bukan semata persoalan tinggi badan anak yang berada di bawah standar usianya, tetapi juga berkaitan dengan kekurangan asupan gizi kronis yang dapat berdampak pada perkembangan kognitif dan kecerdasan anak. Karena itu, intervensi gizi dipandang penting, baik pada tingkat kebijakan pemerintah maupun praktik pemenuhan gizi di rumah tangga.
Di luar program pemerintah, keluarga—terutama orang tua—dinilai memegang peran kunci dalam memastikan anggota keluarga memperoleh asupan makronutrien (karbohidrat, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral) yang seimbang. Dalam kondisi tertentu, seperti anak yang sulit makan, masa pemulihan setelah sakit, atau ibu hamil yang rentan anemia, kebutuhan nutrisi dapat meningkat dan memerlukan perhatian khusus.
Sejumlah produk suplemen kerap digunakan sebagai pendamping pemenuhan gizi harian, meski tetap ditekankan bahwa suplemen tidak menggantikan makanan utama. Dalam materi yang beredar, beberapa contoh suplemen yang disebut antara lain Curcuma Plus Imuns Sirup 60 ml, Scott’s Emulsion Original 200 ml, Blackmores Kids Fruity Fishies 30 kapsul, Sangobion 10 kapsul, serta CDR Vitamin C, D, Kalsium 15 tablet. Setiap produk memiliki kandungan dan sasaran penggunaan berbeda, misalnya untuk mendukung nafsu makan anak, pemenuhan omega-3, hingga membantu mencegah anemia defisiensi besi.
Selain pemilihan asupan, keluarga juga diimbau menerapkan pola makan seimbang. Salah satu rujukan yang disebut adalah prinsip “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan RI, yakni pembagian porsi makan yang mencakup makanan pokok, lauk pauk sumber protein (hewani dan nabati), sayuran, serta buah-buahan. Pemantauan pertumbuhan anak juga dinilai penting, misalnya melalui posyandu atau puskesmas, untuk mendeteksi dini indikasi gagal tumbuh.
Dalam konteks kewaspadaan kesehatan, konsultasi ke tenaga medis dianjurkan apabila berat badan anak tidak kunjung naik selama dua bulan berturut-turut atau bila anggota keluarga menunjukkan tanda kekurangan gizi kronis seperti mudah lelah, pucat, dan sering sakit. Penanganan yang cepat disebut diperlukan untuk mencegah gangguan tumbuh kembang yang dapat berdampak jangka panjang.
Materi tersebut juga mencantumkan klaim hasil studi yang menyebut program suplementasi gizi tersentralisasi seperti MBG berkorelasi dengan penurunan prevalensi stunting hingga 4,5% dalam satu tahun di tingkat kabupaten, serta riset lain yang menyatakan perbaikan mikronutrien—terutama zat besi dan omega-3—melalui suplementasi pada balita dapat meningkatkan skor respons kognitif dan daya ingat hingga 18%.
Dengan penunjukan Dadan Hindayana sebagai Kepala BGN, pemerintah menempatkan pemenuhan gizi sebagai agenda penting untuk mendukung target pembangunan sumber daya manusia menuju Generasi Emas 2045. Namun, keberhasilan program nasional tetap membutuhkan dukungan praktik gizi seimbang di tingkat keluarga, termasuk pemantauan pertumbuhan dan konsultasi medis bila diperlukan.

