BERITA TERKINI
Capsaicin pada Makanan Pedas dan Dampaknya terhadap Metabolisme Tubuh

Capsaicin pada Makanan Pedas dan Dampaknya terhadap Metabolisme Tubuh

Makanan pedas kerap dipilih karena sensasi hangat dan rasa yang menggugah selera. Di balik sensasi tersebut, makanan pedas juga sering dikaitkan dengan sejumlah manfaat kesehatan, termasuk pengaruhnya terhadap metabolisme. Senyawa utama yang menimbulkan rasa pedas adalah capsaicin, yang banyak terdapat pada cabai seperti jalapeño, serrano, dan habanero.

Ahli gizi sekaligus penulis buku From Burnout to Balance, Patricia Bannan, menyebut capsaicin berhubungan dengan berbagai efek positif bagi tubuh. Menurutnya, senyawa ini dikaitkan dengan penurunan peradangan, perbaikan sirkulasi darah, pengaturan nafsu makan, serta potensi manfaat bagi kesehatan jantung.

Sejumlah penelitian juga menunjukkan capsaicin dapat membantu menurunkan kolesterol total dan kolesterol jahat (LDL) pada penderita sindrom metabolik. Pada perempuan, capsaicin dikaitkan dengan penurunan kadar trigliserida. Selain itu, konsumsi makanan pedas secara rutin disebut berkaitan dengan penuaan biologis yang lebih lambat, terutama yang berhubungan dengan metabolisme dan fungsi ginjal.

Para peneliti menilai sifat antiinflamasi dan antioksidan pada makanan pedas berperan dalam mendukung kesehatan jangka panjang. Dari sisi pola makan, rasa pedas juga dapat membantu meningkatkan cita rasa makanan sehat tanpa perlu menambahkan garam atau gula secara berlebihan.

Terkait metabolisme, proses ini merupakan cara tubuh mengubah makanan dan minuman menjadi energi. Saat mengonsumsi makanan pedas, metabolisme dapat sedikit meningkat melalui mekanisme termogenesis, yaitu proses produksi panas tubuh yang turut membakar kalori. Bannan menjelaskan capsaicin memicu peningkatan kecil dan sementara pada pembakaran kalori serta dapat meningkatkan oksidasi lemak, sehingga tubuh membakar sedikit lebih banyak energi setelah mengonsumsi makanan pedas dibandingkan makanan biasa.

Meski demikian, efek tersebut tidak berlangsung lama dan besarnya relatif kecil. Sejumlah studi juga menunjukkan hasil yang beragam, sehingga penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan dampak jangka panjangnya terhadap berat badan dan obesitas.

Bannan menekankan makanan pedas bukan solusi instan untuk meningkatkan metabolisme. Ia menyebut manfaat metabolik terbesar tetap berasal dari pola makan seimbang, asupan protein yang cukup, aktivitas fisik—terutama latihan kekuatan—tidur berkualitas, serta pengelolaan stres.

Secara keseluruhan, makanan pedas dapat memberi dorongan kecil bagi metabolisme sekaligus menawarkan manfaat kesehatan lain. Namun, perannya lebih bersifat pendukung. Mengombinasikan konsumsi makanan pedas dengan gaya hidup sehat dinilai tetap menjadi langkah utama untuk menjaga metabolisme dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.