BERITA TERKINI
Cappuccino Assassino dan Tren Italian Brainrot: Dari Meme Viral ke Peluang Bisnis Merchandise

Cappuccino Assassino dan Tren Italian Brainrot: Dari Meme Viral ke Peluang Bisnis Merchandise

Cappuccino Assassino menjadi salah satu karakter paling menonjol dari fenomena meme internet “Italian Brainrot” yang meluas sejak awal 2025. Karakter ini dibuat oleh pengguna TikTok @alexey_pigeon pada 5 Maret 2025, dengan visual berupa cangkir kopi bermata dua, memiliki lengan yang menggenggam katana, serta mengenakan ikat kepala Naruto.

Popularitasnya tidak berhenti di ranah hiburan digital. Seiring meluasnya tren Italian Brainrot di TikTok dan Instagram, karakter-karakter dalam ekosistem meme ini mulai dimanfaatkan untuk berbagai produk komersial, mulai dari mainan dan NFT hingga menjadi tema permainan Roblox “Steal a Brainrot”. Fenomena tersebut juga disebut telah merambah Indonesia melalui adaptasi lokal seperti “Tung Tung Tung Sahur” dan “Boneca Ambalabu”.

Italian Brainrot sendiri merujuk pada rangkaian meme bergaya surealis dan absurd yang menampilkan makhluk hibrida, sering kali diberi nama pseudo-Italia dan diiringi narasi berbahasa Italia yang tidak masuk akal. Dalam perkembangannya, tren ini memunculkan ekosistem kreatif yang melibatkan pembuat konten, komunitas penggemar, hingga pelaku usaha yang menangkap peluang dari viralitas karakter.

Di tengah antusiasme publik, Cappuccino Assassino mulai dilihat sebagai aset komersial potensial. Sejumlah opsi bisnis yang kerap dikaitkan dengan tren ini antara lain penjualan merchandise fisik seperti boneka, action figure, gantungan kunci, dan kaos. Selain itu, muncul pula produk koleksi seperti trading card; di Italia, beberapa kios koran dilaporkan menjual “Skifidol Italian Brainrot Trading Card Games” yang terinspirasi dari meme tersebut.

Indikasi besarnya pasar juga terlihat dari capaian karakter lain dalam tren ini. Pada paruh pertama 2025, karakter “Ballerina Cappuccina” disebut mengumpulkan lebih dari 55 juta tayangan di TikTok dan meraih empat juta likes. Angka tersebut menggambarkan besarnya basis audiens yang berpotensi dikonversi menjadi pembeli produk turunan.

Model bisnis yang dinilai relatif mudah diakses adalah print on demand (POD), yakni sistem produksi yang berjalan saat ada pesanan sehingga penjual tidak perlu menyetok barang dari awal. Skema ini memungkinkan penjualan produk seperti kaos, mug, atau tote bag dengan desain yang dibuat sendiri. Di sisi lain, produksi mandiri untuk barang seperti boneka atau figure memerlukan modal lebih besar karena melibatkan bahan baku, peralatan, atau kerja sama dengan pabrik.

Dalam perencanaan usaha, riset pasar menjadi langkah penting, terutama karena tren ini disebut kuat di kalangan Generasi Alpha dan Gen Z. Pemahaman mengenai selera visual, format humor, dan pola konsumsi konten mereka dapat memengaruhi strategi produk maupun pemasaran. Konten video pendek di TikTok, pemanfaatan audio yang sedang tren, serta pemasaran berbasis komunitas di platform seperti Discord atau Reddit kerap disebut sebagai pendekatan yang relevan untuk menjangkau penggemar Italian Brainrot.

Namun, peluang tersebut juga diiringi risiko. Salah satu yang disorot adalah persoalan hak kekayaan intelektual. Dalam ekosistem Italian Brainrot, pernah terjadi penghapusan karakter “Tung Tung Tung Sahur” dari game “Steal a Brainrot” setelah agensi yang mewakili kreatornya mengklaim karakter tersebut sebagai kekayaan intelektual yang digunakan tanpa lisensi. Kasus ini menjadi pengingat bahwa pelaku usaha perlu berhati-hati, termasuk dengan membuat desain yang original dan menghindari penggunaan aset pihak lain tanpa izin.

Risiko lain adalah siklus tren yang cepat berubah. Meme internet cenderung memiliki masa populer yang terbatas, sehingga pelaku usaha dituntut bergerak cepat tanpa mengorbankan kualitas produk dan layanan. Strategi yang kerap disarankan adalah tidak bergantung pada satu karakter semata, melainkan memperluas lini produk mengikuti dinamika tren atau membangun identitas brand sendiri.

Aspek etika dan keamanan konten juga menjadi perhatian. Sejumlah pengguna TikTok Muslim disebut mengkritik tren Italian Brainrot karena audio aslinya dinilai mengandung unsur penistaan. Selain itu, psikolog klinis Oriza Sativa dari Jakarta memperingatkan bahwa sebagian karakter dalam tren ini dapat dimasukkan ke dalam konten dewasa, sementara banyak orang tua belum cukup melek teknologi untuk mengenali risikonya. Dalam konteks bisnis, hal tersebut menuntut kehati-hatian agar produk dan promosi tetap ramah untuk semua usia dan tidak menyinggung kelompok tertentu.

Di sisi pemasaran, sejumlah pengamat menilai tren ini juga dimanfaatkan oleh brand besar untuk meningkatkan keterlibatan audiens. Francesco De Nittis dari Human Centric Group, misalnya, menganalisis bagaimana Ryanair dan Samsung memanfaatkan tren ini dan mengalami lonjakan engagement enam digit. Ia menekankan bahwa kunci keberhasilan bukan sekadar mengikuti tren, melainkan menjaga karakter komunikasi brand agar tetap konsisten.

Dengan berbagai peluang dan risikonya, Cappuccino Assassino menunjukkan bagaimana karakter meme dapat bergerak melampaui layar ponsel dan menjadi bagian dari ekonomi kreatif. Bagi pelaku usaha, tren ini dapat menjadi pintu masuk untuk mengembangkan produk, membangun komunitas, dan menguji strategi pemasaran berbasis budaya internet—dengan catatan tetap memperhatikan kualitas, etika, serta aspek hukum.