BERITA TERKINI
Buku “Seni Mengelola Emosi” Soroti Risiko Menekan Perasaan dan Tawarkan Latihan Praktis

Buku “Seni Mengelola Emosi” Soroti Risiko Menekan Perasaan dan Tawarkan Latihan Praktis

Di tengah tekanan kehidupan modern yang semakin kompleks, banyak orang tanpa sadar memilih memendam emosi negatif demi terlihat kuat atau tetap profesional. Namun, emosi yang terus ditekan dan diabaikan berisiko memicu kelelahan mental hingga berdampak pada kesehatan fisik.

Merespons kondisi tersebut, Gramedia Widiasarana Indonesia menerbitkan buku karya In Hyun Jin berjudul Seni Mengelola Emosi pada 22 Februari 2025. Buku ini diposisikan sebagai panduan praktis bagi pembaca untuk belajar memahami dan berdamai dengan perasaan mereka sendiri.

Dalam buku tersebut, In Hyun Jin mengulas pemahaman dasar mengenai dinamika emosi manusia yang kerap disalahartikan. Ia menekankan bahwa tidak ada emosi yang sepenuhnya “buruk” atau “terlarang”, karena setiap perasaan membawa pesan biologis dan psikologisnya masing-masing.

Emosi seperti marah, cemas, atau sedih dipaparkan sebagai sinyal alami bahwa ada batasan yang terlanggar atau kebutuhan batin yang belum terpenuhi. Dengan sudut pandang ini, emosi negatif tidak diperlakukan sebagai musuh, melainkan sebagai sesuatu yang perlu didengarkan agar respons yang muncul bisa lebih tepat.

Buku ini juga menyoroti pentingnya membangun kesadaran emosional secara bertahap dalam keseharian. Menurut In Hyun Jin, langkah awal yang krusial adalah kemampuan mengenali dan memberi nama pada emosi yang sedang dirasakan.

Ia menggambarkan situasi ketika seseorang tampak diliputi kemarahan, tetapi perasaan dasarnya justru kekecewaan atau rasa takut diabaikan. Saat emosi dapat diidentifikasi secara spesifik, respons yang diambil dinilai lebih tenang dan terarah.

Salah satu bahasan utama dalam buku ini adalah dampak pengabaian emosional yang dilakukan terus-menerus. Menekan emosi disebut tidak membuat perasaan hilang, melainkan menyimpannya di alam bawah sadar hingga menumpuk.

Penumpukan tersebut, menurut buku ini, dapat bermanifestasi sebagai keluhan psikosomatik seperti sakit kepala kronis, kecemasan berlebih, hingga burnout. Karena itu, pembaca diingatkan agar mengekspresikan emosi dengan cara yang aman dan sehat sebelum berkembang menjadi beban psikologis yang lebih berat.

Dari sisi penyajian, gaya penulisan In Hyun Jin digambarkan adaptif dan empatik, sehingga konsep psikologi terasa dekat dengan pengalaman sehari-hari, khususnya realitas masyarakat perkotaan. Buku ini memuat kisah reflektif dan contoh kasus yang bertujuan membuat pembaca merasa dipahami tanpa dihakimi.

Selain pemaparan teori, Seni Mengelola Emosi dilengkapi latihan praktis yang dapat diterapkan, seperti metode pernapasan relaksasi, latihan grounding, serta expressive journaling atau jurnalisme ekspresif. Teknik-teknik tersebut ditujukan untuk membantu pembaca merespons krisis emosional secara lebih cepat di berbagai situasi.

Melalui rangkaian pembahasan dan latihan, buku ini membawa pesan bahwa mengelola emosi bukan berarti menahan tangis atau memadamkan amarah secara paksa. Mengelola emosi dipahami sebagai memberi ruang aman bagi perasaan untuk hadir, dipahami, lalu dilepaskan perlahan.

Secara keseluruhan, buku karya In Hyun Jin ini menawarkan peta jalan bagi pembaca yang ingin meraih ketenangan batin dan keutuhan diri, dengan narasi yang puitis sekaligus berangkat dari psikologi praktis. Bagi mereka yang merasa lelah dan kewalahan oleh pergolakan emosi, buku ini dihadirkan sebagai pengingat bahwa merawat emosi merupakan bagian penting dari upaya mencintai diri sendiri.