BERITA TERKINI
Bidan Neng Ira Ubah Edukasi Gizi Jadi Konten Video untuk Lawan Gizi Buruk

Bidan Neng Ira Ubah Edukasi Gizi Jadi Konten Video untuk Lawan Gizi Buruk

Di tengah tantangan gizi buruk pada anak di Indonesia, peran bidan dinilai penting karena berada dekat dengan keluarga dan keseharian masyarakat. Namun, edukasi medis yang disampaikan secara konvensional kerap dianggap kaku dan kurang menarik. Berangkat dari situ, Bidan Neng Ira, seorang bidan asal Bandung, memilih jalur kreatif dengan mengemas materi gizi dan pengasuhan menjadi konten video yang mudah dipahami dan digemari para ibu di media sosial.

Dalam kontennya, ia menggunakan bahasa sehari-hari, teknik bercerita yang dekat dengan realitas keluarga, serta musik yang sedang tren. Ia juga menggabungkan unsur drama, komedi, dan sesi tanya-jawab untuk membangun kedekatan sekaligus kepercayaan audiens. “Saat ini saya sedang mendalami pembuatan konten menggunakan animasi Artificial Intelligence (AI). Visual animasi ini rupanya sangat menarik perhatian bunda-bunda di media sosial,” kata Bidan Neng Ira.

Melalui pendekatan tersebut, ia menargetkan dua hal utama: meluruskan mitos pengasuhan yang keliru dan membantu keluarga menghadapi kendala ekonomi serta pola asuh yang kurang tepat. Menurutnya, meski akses internet semakin mudah, angka gizi buruk tidak otomatis turun karena banyak orang tua justru kebingungan menghadapi banjir informasi.

Salah satu isu yang kerap ia temui di lapangan adalah salah persepsi tentang kental manis. Ia menilai masih banyak keluarga menganggap kental manis sebagai pilihan “susu” yang lebih ekonomis untuk anak. Kekeliruan itu, menurutnya, dipengaruhi iklan lama yang menampilkan anak sehat dengan segelas kental manis berlabel “susu”, ditambah minimnya kebiasaan membaca label gizi pada kemasan.

“Kental manis itu sebenarnya bukan susu yang dikentalkan, melainkan gula yang diberi aroma dan warna menyerupai susu. Kandungan utamanya adalah sirup gula, sementara nutrisi penting seperti kalsium dan protein sangat minim bahkan hampir tidak ada,” ujarnya. Ia menekankan kental manis lebih tepat diposisikan sebagai pelengkap atau topping, bukan asupan nutrisi harian anak.

Ia juga mengingatkan risiko bila anak mengonsumsi kental manis setiap hari. Dampak yang disorot antara lain obesitas, risiko diabetes di usia muda, serta kerusakan gigi. Selain itu, konsumsi gula berlebih dapat mengganggu nafsu makan anak sehingga anak merasa kenyang tanpa mendapat nutrisi esensial, yang pada akhirnya dapat memicu kondisi gizi buruk.

Di luar persoalan kental manis, Bidan Neng Ira menyebut banyak orang tua belum peka terhadap tanda awal gizi buruk. Gejala yang sering dianggap sepele, menurutnya, antara lain anak mudah sakit, tampak lebih pendek dibanding teman seusia, terlihat lesu, dan kurang aktif berinteraksi. Ia menilai orang tua kerap membiarkan anak melewatkan jam makan saat nafsu makan turun tanpa mengevaluasi berat badan yang stagnan atau menurun.

Ia juga menyoroti kebiasaan di rumah yang bisa memperburuk kondisi gizi anak. Di antaranya menuruti kemauan anak secara berlebihan dengan memberi jajanan manis sembarangan hingga anak mengalami “kenyang palsu”, kurang variasi menu sehingga anak bosan, serta kebiasaan makan sambil bermain ponsel yang membuat anak tidak fokus dan mudah menolak makan.

Dalam menghadapi orang tua yang defensif saat diberi masukan, Bidan Neng Ira mengedepankan empati. Ia memilih mendengarkan terlebih dahulu alasan orang tua sebelum memberi penjelasan. “Kuncinya adalah dengarkan dulu alasan mereka. Biarkan mereka bercerita sepanjang mungkin. Setelah terbangun rasa percaya dan ada celah untuk masuk, barulah kita berikan pemahaman dengan menunjukkan bukti nyata, seperti grafik pertumbuhan di Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) agar mereka lebih terbuka,” tuturnya.

Pendekatan serupa ia terapkan saat berhadapan dengan komentar warganet di media sosial, misalnya pernyataan bahwa anak dulu minum kental manis dan tetap sehat. Ia memilih menanggapi dengan tenang, menghargai pengalaman mereka, lalu menjelaskan perbedaan kebutuhan anak dan mengajak audiens membaca label gizi pada kemasan.

Terkait solusi, ia menekankan pemenuhan gizi seimbang tidak selalu harus mahal. Menurutnya, keluarga dapat memanfaatkan bahan lokal dan musiman yang lebih segar dan terjangkau. Ia menyebut telur, tahu, tempe, ati ayam, serta ikan lokal sebagai sumber protein hewani dan nabati yang baik untuk mengejar ketertinggalan gizi. Ia juga menyinggung pemanfaatan daun kelor sebagai sumber protein nabati yang dapat diolah menjadi sayur atau campuran makanan.

Meski begitu, ia mengingatkan bahwa makanan bukan satu-satunya faktor. Orang tua juga perlu menjaga kebersihan lingkungan, membiasakan cuci tangan, memastikan air minum aman, menjaga kualitas tidur anak, mendorong aktivitas fisik di luar ruangan alih-alih bermain gawai, memberikan stimulasi kasih sayang pada masa emas pertumbuhan, serta melengkapi imunisasi anak.

Di akhir pesannya, Bidan Neng Ira merangkum prinsip yang ia tekankan dalam edukasi sehari-hari: “Berikan makanan bergizi seimbang, jaga kebersihan, penuhi kasih sayang anak, dan biasakan hidup sehat setiap hari.”