Kebiasaan memberikan jajanan dan minuman manis untuk menenangkan anak yang rewel dinilai dapat memicu fenomena “kenyang palsu” dan berisiko menyebabkan kekurangan gizi. Kondisi ini juga diperparah oleh anggapan di sebagian masyarakat bahwa kental manis dapat dijadikan pengganti susu untuk memenuhi kebutuhan gizi harian anak.
Bidan asal Bandung, Neng Ira, menjelaskan makanan dan minuman tinggi gula dapat menimbulkan rasa kenyang sesaat karena memicu lonjakan energi instan. Namun, efek tersebut dapat membuat anak kehilangan nafsu makan dan menolak makanan utama yang seharusnya mengandung gizi seimbang.
“Anak-anak kecil itu biasanya lebih senang jajan yang manis-manis. Nah, sedangkan kalau misalkan sudah dikasih yang manis, pasti anak itu merasa kenyang, merasa cukup makannya. Kalau misalkan kita kasih makanan pun, anak tersebut pasti menolak karena udah kenyang duluan,” ujar Neng Ira.
Menurutnya, jika kebiasaan ini terus terjadi dan waktu makan utama sering terlewat, anak dapat kekurangan asupan nutrisi penting yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Dalam jangka panjang, pola makan yang tidak seimbang berpotensi membuat berat badan anak sulit bertambah, bahkan menurun hingga berujung pada malnutrisi atau gizi buruk.
Neng Ira juga meluruskan persepsi yang masih berkembang bahwa kental manis bisa dijadikan susu untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Ia menilai anggapan tersebut dipengaruhi faktor ekonomi serta iklan yang sudah lama beredar, padahal kental manis bukan produk yang dirancang sebagai sumber nutrisi utama bagi pertumbuhan anak.
“Kental manis itu sebenarnya bukan susu yang dikentalkan, melainkan gula yang diberikan aroma susu. Kandungan utamanya sirup gula, sementara kandungan kalsium, proteinnya, atau gizi yang lainnya itu malah gak ada. Jadi kalau kental manis ini sebenarnya buat topping aja,” tegasnya.
Ia mengingatkan konsumsi gula berlebih, termasuk dari kental manis, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti obesitas, kerusakan gigi, hingga diabetes pada usia dini.
Untuk mencegah masalah gizi pada anak, Neng Ira mengimbau orang tua menerapkan pola makan yang lebih disiplin, termasuk menghindari kebiasaan memberi makan saat anak bermain gawai. Menurutnya, kebiasaan tersebut membuat anak tidak fokus saat makan, memperlambat proses mengunyah, dan berdampak pada berkurangnya asupan makanan bergizi.
Ia menambahkan, pemenuhan gizi seimbang tidak selalu membutuhkan biaya besar. Orang tua dapat memanfaatkan bahan pangan lokal yang mudah diperoleh dan bernutrisi, seperti telur, tempe, tahu, ati ayam, serta ikan. Ia juga menyebut daun kelor dapat diolah menjadi sayur atau makanan lain sebagai tambahan protein nabati.
Neng Ira berharap orang tua lebih selektif dalam memilih makanan untuk anak dan membiasakan konsumsi makanan bergizi seimbang agar tumbuh kembang anak berlangsung optimal serta terhindar dari risiko gizi buruk.

