BERITA TERKINI
Asal Usul Tren “Mama I’m a Criminal” Viral di Medsos dan Cara Warganet Memakainya

Asal Usul Tren “Mama I’m a Criminal” Viral di Medsos dan Cara Warganet Memakainya

Tren penggunaan sound “Mama I’m a Criminal” kembali ramai di media sosial, khususnya TikTok. Alih-alih dipakai untuk menggambarkan tindakan kriminal serius, banyak warganet justru memanfaatkannya untuk konten pengakuan “kriminal” versi mereka yang bersifat receh—yakni tindakan kecil yang melanggar aturan atau kebiasaan, kadang dilakukan tanpa sadar.

Dalam berbagai unggahan, sound tersebut dipasangkan dengan situasi yang sebenarnya tidak berkaitan dengan kejahatan berat seperti pembunuhan, pencurian, narkoba, atau korupsi. Contohnya, ada video yang memperlihatkan seseorang sedang naik ojek online, namun pengemudi tiba-tiba melintas di trotoar yang semestinya tidak boleh dilalui sepeda motor. Ada pula yang menyebut dirinya “kriminal” hanya karena ketiduran di kelas saat guru menjelaskan. Efek dramatis dari sound membuat pelanggaran kecil itu terasa seperti pengakuan perkara besar, sehingga memunculkan unsur komedi.

Di balik viralnya sound tersebut, “Mama I’m a Criminal” bukan sekadar audio buatan untuk TikTok. Lagu ini merupakan karya produser musik AODION yang dirilis pada 2017. Versi originalnya kemudian populer dan disebut telah mengumpulkan 182 juta penonton di YouTube.

Pada 2022, penyanyi hip-hop asal Italia, Paky, merilis album Salvatore yang memuat track berjudul “Mama I’m a Criminal”. Lagu itu menggunakan sampel dari karya AODION, meski disebut belum melampaui capaian versi original. Di tahun yang sama, sound “Mama I’m a Criminal” mulai sering dipakai di TikTok untuk beragam konten, termasuk meme.

Memasuki 2026, sound ini kembali viral, terutama di Indonesia, dan berkembang menjadi tren pengakuan “aksi kriminal receh” yang dikemas lucu. Beragam contoh muncul, mulai dari mencari lowongan kerja di jam kantor, memasak mi instan saat ibu sudah memasak banyak, membawa bekal seblak tetapi dimasukkan ke tumbler, hingga kebiasaan makan dimsum dengan nasi.

Meski konten-konten tersebut tidak menggambarkan tindak kriminal sebenarnya, perpaduan narasi pengakuan dan sound yang terdengar dramatis membuat video terasa berlebihan dan justru mengundang tawa. Tren ini pun terus menyebar seiring warganet saling menampilkan versi “pelanggaran kecil” mereka masing-masing.